Buku itu ada di rak paling bawah, di antara katalog suku cadang tua dan kardus kuitansi, dan Laras menemukannya saat mencari katalog untuk sesuatu yang lain. Buku tebal bersampul kulit cokelat yang sudah retak-retak, halamannya menguning, dijilid ulang beberapa kali dengan benang dan lem. Di sampulnya, dengan tinta yang sudah memudar jadi cokelat, tertulis tangan: BUKU SERVIS.
Ia membukanya, dan menemukan puluhan tahun terlipat di dalamnya.
Setiap halaman berisi catatan dengan tulisan tangan kakeknya yang rapi dan kecil, baris demi baris. Tanggal. Nama pelanggan. Jenis jam. Kerusakan. Ongkos. Tapi yang membuat Laras berhenti membalik dan mulai membaca betul-betul adalah kolom kecil di pinggir, kolom yang seharusnya untuk keterangan teknis, tapi yang kakeknya isi dengan hal lain.
Di sebelah satu catatan, dengan huruf kecil: jam pernikahan, jangan sampai telat jadi sebelum tanggal nikah anaknya. Di sebelah yang lain: hadiah pensiun dari kantor, pemiliknya menangis waktu ambil. Lalu: warisan dari ayah, anaknya tidak tahu cara pakai, ajari. Dan: jam pertama yang dibeli pakai gaji sendiri, tahun 1981. Dan: titipan almarhumah, jangan dijual meski sudah lama tidak diambil.
Laras membalik halaman demi halaman, dan perlahan ia mengerti apa yang ia pegang. Ini bukan buku servis. Ini arsip. Arsip diam sebuah lingkungan, sebuah kota kecil, sepanjang setengah abad. Setiap jam yang masuk ke ruko ini membawa potongan hidup seseorang, dan kakeknya, tanpa pernah menyebutnya begitu, telah mencatat potongan-potongan itu satu per satu, bukan demi nilai apa pun selain karena ia merasa hal-hal itu pantas dicatat. Pernikahan dan kematian. Pensiun dan kelulusan. Hadiah dan warisan. Semua waktu manusia yang lewat lewat benda-benda kecil yang berdetak.
Ia membalik ke halaman-halaman lama, mencari satu nama, dan menemukannya. Soemarno. Berkali-kali. Jam saku kuningan, servis rutin. Tahun demi tahun, nama itu muncul, kadang setahun sekali, kadang lebih sering. Lalu, di sebuah tahun, di sebelah nama itu, tulisan kakeknya: bawa jam saku, minta dirawat sampai tuntas. Lalu, beberapa baris di bawah, di tahun berikutnya, dengan tinta yang sedikit berbeda, seperti ditulis di waktu yang lain, di hari yang lain: roda tanggal retak, suku cadang tidak ada, dicari. Dan setelah itu, nama Soemarno tidak muncul lagi. Halaman-halaman berikutnya berisi nama-nama lain, tapi tidak Soemarno, tidak pernah lagi.
Laras menutup buku itu pelan-pelan. Ia tidak bertanya pada kakeknya tentang Soemarno malam itu. Ia merasa ada sesuatu yang belum waktunya, sesuatu yang kakeknya simpan seperti ia menyimpan jam itu di brankas, terkunci sampai ia sendiri siap membukanya.
Malam itu mereka makan di rumah, seperti biasa, di meja kayu di dapur yang sudah puluhan tahun sama. Nasi, sayur asem, tempe goreng yang dibeli dari warung depan. Mereka makan dalam diam, seperti biasa. Tapi diam malam itu berbeda.
Dulu, sejak Laras kembali tinggal di rumah ini, diam di antara mereka selalu canggung, diam dua orang yang saling sayang tapi tak tahu cara mengatakannya, yang bertahun-tahun hidup terpisah dan kini harus belajar lagi cara berada di ruangan yang sama. Diam yang dipenuhi hal-hal yang tak terucap, yang membuat keduanya buru-buru mencari alasan untuk berdiri, mencuci piring, menyalakan televisi.
Tapi malam itu, diam itu terasa lain. Terasa cukup. Laras menyendok sayur, kakeknya menambah nasi, dan di luar terdengar suara jangkrik dan sesekali motor lewat, dan tidak ada yang merasa perlu mengisi keheningan dengan apa pun. Untuk pertama kalinya, diam di antara mereka bukan jarak. Diam itu kedekatan yang tak butuh kata, seperti dua orang yang sudah cukup lama bersama untuk tahu bahwa kehadiran saja sudah cukup.
"Kakek," kata Laras akhirnya, bukan karena diam itu mengganggu, tapi karena ia ingin. "Tadi aku baca buku servis lama kakek."
Pak Hardi mengangkat alis, mengunyah.
"Kakek mencatat semuanya. Bukan cuma kerusakannya. Tapi... ceritanya. Jam pernikahan. Hadiah pensiun. Semua."
Pak Hardi menelan, mengambil air. "Kalau cuma kerusakan, untuk apa dicatat. Kerusakan terlupakan begitu jam jalan lagi." Ia meletakkan gelasnya. "Yang aku catat adalah kenapa jamnya penting. Karena suatu hari pemiliknya lupa, atau pergi, atau anaknya datang tidak tahu apa-apa. Dan kalau ada yang ingat, biar buku ini yang ingat."
Laras menatap kakeknya lama. Lelaki tua yang tak pernah pandai mengatakan ia sayang, yang menunjukkannya lewat sepatu dan rapor dan sekarang lewat buku catatan yang penuh hidup orang lain, dan ia merasa matanya panas, tapi ia tidak menangis, karena di rumah ini keharuan adalah hal yang ditahan, bukan ditumpahkan, dan ia sudah belajar itu sejak kecil tanpa pernah diajari.
"Makan," kata Pak Hardi, mendorong piring tempe ke arahnya, dan dalam satu kata itu ada semua hal yang tidak ia katakan, dan Laras mengerti semuanya.