Laras tahu sesuatu salah begitu ia membuka pintu bengkel pagi itu dan melihat brankas di sudut sudah terbuka, kosong, dan flanel pembungkus tergeletak terlipat di atas meja kerja. Kakeknya sudah datang lebih pagi darinya, sesuatu yang tak pernah terjadi sejak ia jatuh, dan ia duduk membungkuk di bawah lampu, jam saku kuningan Pak Soemarno terbuka di hadapannya, pinset di tangannya yang gemetar.
"Kek?" Laras meletakkan tasnya. "Kakek lagi apa?"
"Aku menemukannya." Suara Pak Hardi serak, dan ada sesuatu di dalamnya yang terdengar seperti orang yang tidak tidur. Di samping jam, di atas secarik kapas, ada sebuah roda kecil. "Roda tanggalnya. Bukan yang asli. Tidak ada yang asli lagi, tidak akan pernah ada. Tapi ada tukang di kota sebelah, dia bilang ada roda dari jam lain, model lain, yang ukurannya mungkin bisa dipaksa pas kalau gerigi luarnya dikikir satu-satu. Mungkin. Belum tentu." Ia mengangkat kepala, dan mata tuanya berkilat oleh sesuatu yang Laras belum pernah lihat di sana, bukan ketenangan biasa, melainkan semacam keras kepala yang putus asa. "Aku akan pasang sekarang. Aku akan selesaikan."
"Kek, tangan kakek—"
"Tanganku masih tanganku." Ia mengembalikan pandangannya ke jam. "Lima puluh tahun jam ini menunggu. Pak Soemarno menunggu. Aku tidak akan menyerahkan ini ke orang lain. Ini titipanku."
Laras ingin menahannya, tapi ia tahu, dari sesuatu di pundak tua itu, bahwa tak ada kata yang bisa menghentikannya. Maka ia hanya menarik bangku, duduk di sampingnya, dekat, seperti di hari pertama, cukup dekat untuk menahan kalau perlu.
Pak Hardi menjepit roda kecil itu dengan pinset. Ia mengangkatnya ke atas mekanisme, mencari lubang sekecil titik tempat porosnya harus duduk. Tangannya bergetar, halus mula-mula, lalu lebih kuat saat ia memaksa ketelitian dari otot yang tak lagi mau patuh. Roda itu bergoyang di ujung pinset. Ia menahan napas. Ia mendekatkannya. Lebih dekat.
Laras melihat semuanya seperti dalam gerak lambat. Ia melihat getaran itu menjalar dari pergelangan ke jari, melihat ujung pinset meleset sepersekian milimeter, melihat kakeknya, dengan reflek seorang tukang yang lima puluh tahun terbiasa menyelamatkan, mengencangkan jepitan untuk menahan roda yang tergelincir. Dan ia mendengarnya. Bunyi yang sangat kecil, hampir tak ada, sebuah klik halus yang berbeda dari semua klik di ruangan itu. Bunyi sesuatu yang rapuh menyerah.
Roda kecil di ujung pinset itu retak menjadi dua.
Ruangan menjadi sunyi, meski puluhan jam dinding tetap berdetak. Pak Hardi tidak bergerak. Ia menatap dua keping logam di ujung pinsetnya, benda yang ia cari bertahun-tahun, yang baru ditemukan kemarin, yang patah di tangannya sendiri dalam waktu kurang dari satu menit. Pinset itu turun pelan ke meja. Bahunya, yang selalu tegak meski tua, runtuh sedikit, seperti bangunan yang akhirnya melepaskan beban yang terlalu lama ditahannya.
"Kek," bisik Laras.
Untuk waktu yang lama Pak Hardi tidak menjawab. Lalu ia berkata, suaranya begitu pelan sehingga Laras harus mencondongkan badan untuk mendengarnya di antara detak jam-jam, "Aku tidak bisa."
Dua kata itu. Dari lelaki yang tak pernah, sepanjang ingatan Laras, mengakui ada hal yang tak bisa ia lakukan.
"Aku pikir aku masih bisa. Aku pikir kalau aku coba sekali lagi, sekuat tenaga, tanganku akan ingat caranya." Ia menatap tangannya sendiri, terbuka di atas meja, bergetar. "Tapi tidak. Tanganku sudah berhenti, Las. Sudah lama. Aku cuma tidak mau melihatnya." Ia menutup mata sejenak. "Aku mungkin tidak akan pernah bisa menyelesaikan jam ini sendiri."
Laras meletakkan tangannya di atas tangan kakeknya yang bergetar, dan untuk pertama kalinya tangan tua itu tidak menariknya.
Pak Hardi membungkus jam saku itu dengan flanel, perlahan, lalu meletakkannya di telapak tangan Laras, menutup jari-jari cucunya di atasnya. "Ini bukan titipanku lagi. Sekarang titipanmu."
"Kek, aku belum bisa. Aku belum cukup—"
"Belum. Tapi kamu satu-satunya yang masih punya tangan untuk itu." Ia menarik napas, dan saat ia bicara lagi, suaranya membawa sesuatu yang lebih berat dari mekanik, lebih berat dari roda yang retak. "Dan ada hal yang harus kamu tahu, sebelum kamu memutuskan apakah mau menyelesaikannya. Tentang Pak Soemarno. Tentang kenapa jam ini tidak pernah aku biarkan tutup."
Ia berhenti. Di luar, sebuah motor lewat di Jalan Cendana. Di dinding, puluhan jam berdetak, tak satu pun serempak, dan untuk pertama kalinya Laras menyadari bahwa di antara semua suara itu, ada satu jam yang sejak tadi mulai ia hitung tanpa sadar, bukan jam di dinding, melainkan tiga bulan yang telah ia janjikan, yang kini terasa mulai berdetak mundur di dadanya sendiri.
"Pak Soemarno," kata Pak Hardi pelan, "tidak pernah datang mengambil jam ini, Las. Bukan karena ia lupa." Ia menatap cucunya, dan di mata tuanya ada lima puluh tahun yang selama ini ia simpan rapat. "Karena jam ini memang tidak pernah untuk dia ambil sendiri. Dan apa yang dijanjikan dengan jam ini, janji yang tidak sempat aku tepati, sekarang ada di tanganmu."