Bunyi itu datang terlebih dahulu.
Bukan suara rem berdecit, bukan teriakan pejalan kaki, bukan klakson yang memekakkan. Melainkan sesuatu yang lebih kecil—lebih intim. Seperti halaman buku yang dibalik oleh angin. Seperti napas terakhir seseorang yang tidak tahu ia sedang mengucapkan selamat tinggal.
Lalu semuanya putih.
Di suatu tempat yang bukan tempat, di suatu waktu yang bukan waktu:
Monitor detak jantung berdenyut.
Bip... bip... bip...
Stabil. Terlalu stabil. Seolah-olah tubuh yang terbaring di balik seprai putih itu telah memutuskan bahwa dunia luar terlalu melelahkan untuk dihadapi. Bahwa lebih mudah tinggal di sini—di koridor panjang yang berbau antiseptik dan bunga lili yang mulai layu di vas plastik.
Tiga wanita berdiri di balik kaca ruang ICU. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara.
Yang tertua di antara mereka—anggun dalam blazer abu-abu yang kusut di bagian siku, mata yang biasa menatap laporan keuangan kini merah dan kosong—menempelkan telapak tangan ke kaca. Dingin. Selalu dingin.
Yang kedua, dengan rambut yang biasanya diikat asal-asalan dan senyum yang biasa mengisi layar jutaan ponsel, kini menggigit bibir bawahnya sampai nyaris berdarah. Jemarinya gemetar di atas layar telepon yang menampilkan satu nama. Satu nama yang tidak menjawab.
Yang ketiga—yang paling tenang, yang selalu paling tenang, yang dilatih bertahun-tahun untuk tidak menangis di hadapan pasien—memalingkan wajah. Bahunya bergetar sekali. Hanya sekali. Lalu ia menarik napas, menegakkan punggung, dan kembali menjadi dokter.
"Kita tunggu," katanya. Suaranya datar. Profesional.
Tidak ada yang bertanya menunggu apa. Mereka semua tahu. Mereka semua takut.
Tapi ini bukan awal cerita.
Ini adalah akhir yang mungkin bukan akhir. Titik di mana semua benang—ambisi, cinta, pengkhianatan, darah, dan angka-angka di spreadsheet—menjadi satu simpul yang terlalu erat untuk diurai.
Untuk memahami bagaimana seorang pemuda berakhir di ranjang rumah sakit dengan tiga wanita yang menangisinya dan sebuah kerajaan bisnis yang perlahan kehilangan napas tanpa tuannya, kau harus mundur. Jauh ke belakang. Ke sebelum gedung-gedung pencakar langit Alvora City. Ke sebelum kontrak bernilai triliunan dan perang media dan malam-malam yang berbau parfum mahal serta penyesalan.
Kau harus kembali ke bau amis ikan. Ke dermaga kayu yang lapuk. Ke kota kecil yang tidak ada di peta mana pun yang penting.
Ke Lintang Raya.
Di sana, di antara tumpukan jaring nelayan dan kontainer karatan, ada sebuah perpustakaan tua yang catnya mengelupas seperti kulit terbakar matahari. Bangunannya kecil—lebih mirip gudang yang dipaksa menjadi tempat penyimpanan buku. Lantainya berderit. Lampu neonnya berkedip seperti orang mengantuk. Dan di sudut paling belakang, di antara rak-rak yang berbau kertas basah dan debu, ada seorang anak laki-laki.
Selalu ada.
Setiap malam, setelah pasar ikan tutup dan para pedagang menghitung receh mereka di bawah lampu jalan, anak itu muncul. Seragamnya terlalu besar untuk tubuhnya—warisan dari seseorang yang tidak lagi ada. Sepatunya berlubang di bagian jempol. Tapi matanya—
Matanya tidak pernah terlihat seperti anak yang kelaparan. Matanya terlihat seperti anak yang sedang menghitung. Menghitung kemungkinan. Menghitung jarak antara di mana ia berdiri dan di mana ia ingin berada. Menghitung berapa banyak halaman yang bisa ia baca sebelum penjaga perpustakaan mengusirnya.
Namanya Arsenio. Tidak ada nama belakang yang berarti. Tidak ada keluarga yang menunggu di rumah. Hanya nama itu—Arsenio—yang terdengar seperti sesuatu yang besar, sesuatu yang belum terjadi tapi pasti akan terjadi.
Dan di tangannya, malam itu, ada sebuah buku tua bersampul cokelat. Judulnya nyaris tak terbaca, huruf emasnya sudah pudar dimakan usia: Seni Arbitrase: Membeli di Lembah, Menjual di Puncak.
Ia membuka halaman pertama.
Dan dunia bergeser.
Bip... bip... bip...
Di ruang ICU, monitor masih berdenyut. Stabil. Sabar. Menunggu.
Di luar jendela, fajar mulai merayap naik dari balik cakrawala kota Alvora City—kota yang di gedung-gedungnya tertera nama PRATAMA HOLDINGS dalam huruf logam yang memantulkan cahaya pagi. Kota yang dibangun oleh satu otak, dua tangan, dan lima tahun kegilaan.
Tiga wanita itu masih berdiri di balik kaca.
Dan di dalam kepala Arsenio—di dalam gelap yang tak berujung itu—sebuah kota pelabuhan sedang dibangun ulang. Batu demi batu. Kenangan demi kenangan. Bau ikan, suara tawa, sentuhan jari di pergelangan tangan, bisikan nama di tengah malam.
Semuanya terasa nyata.
Terlalu nyata.
Dan di sudut terjauh mimpi itu, di balik semua kemewahan dan cinta dan kemenangan yang ia bangun, ada satu pertanyaan kecil yang menolak untuk diam. Berdenyut seperti monitor jantung. Stabil. Sabar. Menunggu.
Apakah kau yakin kau sedang bangun?
Atau kau sedang tertidur sangat, sangat dalam?
Bip.
Bip.
Bip.
Layar menjadi gelap.
Lalu—cahaya. Bukan cahaya rumah sakit. Bukan cahaya monitor. Cahaya kuning hangat dari lampu neon tua yang berkedip. Cahaya yang berbau kertas dan debu dan kemungkinan.
Cahaya perpustakaan di Lintang Raya.
Dan seorang anak laki-laki membuka halaman pertama.
"Setiap kerajaan dimulai dari satu keputusan kecil yang diambil oleh seseorang yang seharusnya tidak punya hak untuk bermimpi besar."
— Catatan pribadi Arsenio Pratama, halaman pertama. Ditemukan di laci meja kerja Pratama Holdings, Alvora City. Tanggal tidak tercantum