Hujan turun seperti bisikan.
Bukan hujan deras yang menghantam atap seng pasar ikan hingga berisik seperti tepuk tangan seribu orang. Bukan. Ini hujan yang malu-malu—gerimis tipis yang membuat udara Lintang Raya berbau garam basah dan kayu lapuk. Hujan yang tidak membasahi, hanya menempel di kulit seperti kenangan yang tidak diundang.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat belas menit.
Pasar ikan sudah tutup sejak dua jam lalu. Para pedagang telah menghitung receh mereka, melipat terpal biru yang berbau amis, dan pulang ke rumah-rumah kecil di gang sempit belakang dermaga. Lampu-lampu jalan menyala kekuningan, menerangi genangan air yang memantulkan langit hitam seperti cermin retak.
Tapi di sudut Jalan Nelayan Tua, di antara warung kopi yang sudah menutup pintunya dan toko kelontong yang lampunya sudah padam, ada satu bangunan yang masih hidup.
Perpustakaan Kota Lintang Raya.
Bukan perpustakaan dalam artian megah. Tidak ada pendingin udara, tidak ada komputer modern, tidak ada kartu anggota digital. Hanya sebuah bangunan tua bercat putih kusam yang catnya mengelupas seperti kulit terbakar matahari, dengan papan nama kayu yang hurufnya sudah pudar: PERPUSTAKAAN LINTANG RAYA — BUKA UNTUK SEMUA.
Di dalam, di antara rak-rak kayu jati yang berderit setiap kali disentuh dan lampu neon yang berkedip seperti orang mengantuk, ada satu sosok.
Arsenio.
Ia duduk di lantai. Bukan di kursi—kursi-kursi plastik di sini terlalu keras dan terlalu dingin untuk berlama-lama. Jadi ia duduk bersila di antara dua rak, punggungnya bersandar pada rak bagian sejarah, kakinya selonjor menyentuh rak bagian ekonomi. Di pangkuannya terbuka tiga buku sekaligus. Jari-jarinya—panjang, kurus, dengan buku-buku jari yang sedikit kasar karena pekerjaan kasar—membalik halaman dengan kecepatan yang tidak biasa.
Bukan membaca. Menyerap.
Seragamnya—kemeja putih yang sudah menguning di bagian kerah dan celana hitam yang terlalu panjang di bagian pergelangan kaki—masih melekat di tubuh. Ia baru pulang dari shift malam di gudang penyimpanan Pelabuhan Sinar Utara. Delapan jam mengangkat karung rempah dan kotak ikan beku. Otot lengannya masih terasa panas. Tapi otaknya—otaknya tidak pernah lelah.
"...dalam teori arbitrase, keuntungan bukan dihasilkan dari memproduksi barang, melainkan dari ketidakseimbangan informasi antara dua pasar..."
Jari Arsenio berhenti. Matanya menyipit. Ia membaca kalimat itu lagi. Dan lagi. Lalu untuk ketiga kalinya—lebih lambat kali ini, mengecap setiap kata seperti mengecap rasa ikan segar di lidah.
Ketidakseimbangan informasi.
Ia menoleh ke arah jendela. Di luar, gerimis masih turun. Dari sini, ia bisa melihat lampu-lampu Pelabuhan Sinar Utara berkedip di kejauhan—kapal-kapal kargo yang datang dan pergi, membawa rempah dari pedalaman dan elektronik dari luar negeri. Membawa kain tenun dari Serayu Haven dan ikan kering dari pesisir utara.
Dan tiba-tiba, seperti kilat yang menyambar di dalam kepala, ia melihatnya.
Ketidakseimbangan.
Ikan kering di Lintang Raya dijual seharga dua puluh ribu per kilogram karena nelayan tidak tahu harganya di pasar Alvora City. Di Alvora City, ikan kering yang sama dijual delapan puluh ribu. Selisihnya—enam puluh ribu per kilogram—bukan milik siapa-siapa. Milik ketidaktahuan. Milik jarak. Milik ketiadaan seseorang yang cukup berani untuk menjembatani.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena kelelahan. Bukan karena lapar—meskipun ia belum makan sejak siang. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih panas. Lebih berbahaya.
Rasa lapar yang berbeda.
"Arsenio."
Suara itu datang dari belakang rak. Lembut, seperti suara kertas tua yang dibalik.
Arsenio mendongak. Laksmi berdiri di ujung lorong rak, tangannya memegang dua cangkir teh yang mengepul. Wanita itu—empat puluh tahun, rambut hitamnya disanggul sederhana, matanya selalu terlihat seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh—menyodorkan satu cangkir.
"Kau belum makan." Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Arsenio menerima cangkir itu. Teh melati. Panas. Manis sedikit—Laksmi selalu menambahkan setengah sendok gula aren, karena ia tahu Arsenio tidak mampu membeli gula putih.
"Terima kasih, Bu."
Laksmi duduk di kursi plastik di dekatnya, menyilangkan kaki. Ia tidak bertanya apa yang Arsenio baca. Ia tidak pernah bertanya. Selama empat tahun—sejak anak ini pertama kali muncul di perpustakaan ini dengan seragam sekolah yang kebesaran dan mata yang terlalu lapar untuk usianya—Laksmi tidak pernah bertanya. Ia hanya menyediakan tempat. Menyediakan teh. Menyediakan diam.
Malam ini berbeda.
Malam ini, Laksmi meletakkan sesuatu di lantai di antara mereka. Sebuah amplop. Cokelat. Tua. Segelnya sudah menguning, dan di sudutnya ada noda—seperti noda air mata yang sudah kering bertahun-tahun lalu.
"Apa ini, Bu?"
Laksmi tidak menjawab langsung. Ia menyesap tehnya. Menatap langit-langit perpustakaan yang berjamur di sudut-sudutnya.
"Dua puluh tahun lalu," katanya pelan, "ada seorang wanita yang datang ke sini. Malam hujan. Seperti malam ini. Ia menitipkan amplop ini. Bilang: Simpan sampai anak itu datang. Aku bertanya, anak siapa. Ia bilang..." Laksmi berhenti. Menelan ludah. "Ia bilang, anak yang akan membaca semua buku di rak ini sampai punggungnya sakit."
Arsenio tidak bergerak. Cangkir teh di tangannya sedikit bergetar.
"Ibu saya?" bisiknya.
Laksmi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali. Pelan. Seperti gerakan yang sudah ia latih selama dua puluh tahun, menunggu malam ini untuk akhirnya dilakukan.
Arsenio meletakkan cangkir. Mengambil amplop itu. Jemarinya menyentuh segelnya—dan ia merasakan sesuatu di balik kertas itu. Bukan hanya surat. Ada sesuatu yang lebih tebal. Lebih keras. Seperti kartu. Atau foto.
Ia membuka segelnya.
Di dalamnya: selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi namun tergesa, dan sebuah foto kecil—hitam putih, pinggirannya sudah menguning. Foto seorang wanita muda menggendong bayi. Di belakang foto itu, satu kalimat:
"Nama ayahmu bukan Pratama. Cari di Pelabuhan Sinar Utara. Dermaga Tujuh. Loker 44."
Hujan di luar tiba-tiba terasa lebih keras.
Atau mungkin itu hanya detak jantung Arsenio yang tiba-tiba mengisi seluruh ruangan.
Ia menatap foto itu. Wajah wanita di foto itu—matanya, bentuk rahangnya, cara ia sedikit memiringkan kepala—adalah wajahnya. Cermin dari dua puluh tahun lalu. Dan di lengannya, bayi yang tertidur. Dia.
"Bu Laksmi," suaranya serak. "Siapa nama ibu saya?"
Laksmi berdiri. Mengambil cangkir kosong dari tangan Arsenio. Berjalan ke arah pintu belakang perpustakaan, ke arah dapur kecil tempat ia menyeduh teh setiap malam.
Di ambang pintu, ia berhenti. Tidak menoleh.
"Namanya tidak penting, Arsenio. Yang penting adalah apa yang dia sembunyikan di loker itu. Dan siapa yang tidak ingin kau menemukannya."
Pintu dapur tertutup.
Arsenio sendirian.
Di pangkuannya, foto ibunya. Di kepalanya, satu angka: Dermaga Tujuh. Loker 44.
Dan di luar, gerimis berhenti. Langit Lintang Raya terbuka sedikit—menunjukkan satu bintang. Kecil. Sendirian. Tapi ada.
Selalu ada.
Dari catatan harian Arsenio Pratama, ditulis di halaman belakang buku "Seni Arbitrase":
"Aku pikir malam ini aku menemukan cara untuk keluar dari kemiskinan. Ternyata aku menemukan sesuatu yang lebih berbahaya. Aku menemukan bahwa kemiskinan ini mungkin bukan takdir. Mungkin ini desain. Dan seseorang, dua puluh tahun lalu, memutuskan bahwa aku harus tumbuh tanpa tahu siapa yang mendesainnya."