Marmer.
Itu yang pertama kali Arsenio rasakan di mimpi itu. Lantai marmer dingin di bawah telapak kaki telanjangnya, dan langit-langit setinggi katedral dengan lampu kristal yang berkilau seperti bintang yang dipaksa turun ke bumi. Di sekelilingnya, dinding kaca memperlihatkan kota—bukan Lintang Raya dengan dermaga kayunya yang lapuk, melainkan menara-menara baja dan cahaya neon yang memantul di permukaan sungai lebar.
Seseorang memanggil namanya. Suara wanita. Lembut. Dekat.
Ia menoleh—
Dan terbangun.
Kipas angin berderit di langit-langit.
Bukan kristal. Bukan marmer. Hanya asrama pekerja Pelabuhan Sinar Utara—kamar tiga kali tiga meter dengan dinding beton yang catnya mengelupas dan kasur tipis yang sudah kehilangan busanya dua tahun lalu. Jendela kecil di sudut kamar memperlihatkan langit subuh yang masih abu-abu, dan dari kejauhan terdengar suara klakson kapal kargo yang bersiap berangkat.
Arsenio duduk. Keringat dingin di pelipisnya.
Mimpi lagi.
Tiga malam berturut-turut. Marmer. Lampu kristal. Suara wanita yang tidak pernah selesai memanggil. Dan selalu—selalu—ia terbangun tepat sebelum melihat wajah pemilik suara itu.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Di meja kecil samping kasur, foto ibunya dari amplop Laksmi tergeletak. Dermaga Tujuh. Loker 44. Tulisan itu masih tercetak jelas di kepalanya, seperti tato yang belum kering.
Pintu kamar diketuk. Tiga kali. Cepat. Tidak sabar.
"Bro. BRO. Lo udah bangun belum? Gue masuk ya, gue bawa kopi."
Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Rudi Tarmadi masuk dengan dua gelas plastik kopi hitam dan senyum lebar yang tidak pernah cocok dengan jam empat pagi. Tiga puluh dua tahun, tubuh tegap, rambut cepak yang selalu terlihat baru dicukur kemarin, dan kaos oblong bertuliskan SUPPLY CHAIN KING yang sudah pudar hurufnya.
"Lo kayak zombie, Nio. Sumpah. Muka lo kayak belum tidur tiga hari." Rudi menyodorkan kopi. "Nih. Item. No sugar. Kayak hidup lo."
Arsenio menerima gelas itu. Menyesap. Pahit. Panas. Nyata.
"Gue emang belum tidur beneran, Rud."
"Yaudah, gue spill ya—" Rudi duduk di tepi kasur, mencondongkan tubuh. "Lo semalem ngapain di perpus sampai jam berapa? Gue lewat jam dua belas, lampu masih nyala. Lo literally tinggal di sana, no cap."
"Rud." Arsenio meletakkan gelas. Menatap sahabatnya lurus. "Gue nemu sesuatu."
Rudi mengangkat alis. "Sesuatu kayak—lo nemu buku strategi baru yang bikin lo nggak bisa tidur? Atau sesuatu kayak—"
"Surat dari nyokap gue."
Hening.
Rudi berhenti mengunyah roti yang entah sejak kapan muncul di tangannya. Menelan. Pelan.
"...Wait. Lo serius?"
Arsenio mengangguk. Mengambil foto dari meja. Menyerahkannya.
Rudi menerima dengan kedua tangan—perlakuan yang tidak biasa darinya. Ia menatap foto itu lama. Wanita muda. Bayi. Tulisan di belakang.
"Dermaga Tujuh. Loker empat puluh empat," Rudi membaca pelan. Lalu mendongak. "Bro. Lo mau ke sana?"
"Gue harus."
"Kapan?"
"Hari ini. Setelah shift."
Rudi menggaruk belakang kepalanya. Menghela napas panjang—napas seseorang yang sudah mengenal Arsenio cukup lama untuk tahu bahwa kata harus dari mulut pemuda itu bukan permintaan. Itu vonis.
"Oke. Fine. Gue nggak bisa stop lo, kan? Main character energy lo emang nggak bisa di-nerf." Rudi berdiri. Tapi di ambang pintu, ia berhenti. "Tapi Nio—lo butuh modal. Lo nggak bisa ke Dermaga Tujuh dengan tangan kosong. Loker pelabuhan itu, kalau isinya dokumen atau barang, lo butuh uang buat—yah, lo tahu sendiri. Orang-orang di sana nggak gratis."
Arsenio tahu. Ia selalu tahu.
Dan ia sudah memutuskan.
"Gue jual buku-buku gue."
Rudi berbalik. Matanya membulat.
"Bro. Bro. Lo nggak serius. Itu koleksi lo. Empat tahun lo ngumpulin. Buku-buku arbitrase, psikologi pasar, strategi negosiasi—lo literally ngabisin tiap malam buat nge-track buku-buku itu dari loak ke loak."
"Gue tahu."
"Terus lo mau jual semuanya? Buat modal berapa? Lima juta? Tujuh juta? Nio, itu buku-buku lo. Itu lo."
Arsenio berdiri. Mengambil kaos dari sandaran kursi. Memakainya. Gerakannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memutuskan menjual empat tahun hidupnya demi uang beberapa juta.
"Rud. Gue udah baca semuanya. Setiap halaman. Setiap catatan kaki. Gue nggak butuh bukunya lagi. Yang gue butuh sekarang adalah melakukan." Ia menatap sahabatnya. "Gue udah ngitung. Ikan kering di sini dua puluh ribu kilo. Di Alvora City, delapan puluh. Selisihnya enam puluh ribu. Kalau gue bisa dapet lima puluh kilo buat pengiriman pertama—"
"Lo mau jadi tukang ikan, Nio?"
"Gue mau jadi pedagang, Rud. Beda." Arsenio tersenyum—tipis, tapi ada api di baliknya. "Tukang ikan nunggu pembeli datang. Pedagang yang bawa ikannya ke tempat yang butuh. Dan gue nggak cuma jual ikan. Gue jual ketidakseimbangan. Gue jual jarak."
Rudi diam. Lama.
Lalu ia tertawa. Keras. Tawa yang memantul di dinding beton kamar sempit itu.
"Gila sih lo. On god, lo gila." Ia menggeleng, tapi matanya berbinar. "Yaudah. Gue bantu. Gue kenal satu kolektor buku tua di Serayu Haven. Namanya Pak Darmo. Dia bayar cash, nggak banyak tanya. Gue bisa anter lo nanti siang setelah shift."
"Rud."
"Apa?"
"Thanks, bro."
Rudi mendengus. "Don't make it weird. Gue cuma nggak mau lo jual ke orang random terus ditipu. Lo tuh jenius soal angka tapi literally nol besar soal nawar di pasar. It's giving... helpless."
Arsenio tertawa. Kecil. Tapi nyata.
Siang itu, setelah enam jam mengangkat karung di gudang pelabuhan, Arsenio dan Rudi naik motor bebek tua ke Serayu Haven. Tiga puluh menit perjalanan melewati jalan pesisir yang berdebu, melewati warung-warung kopi yang asapnya berbau kretek dan gula aren, melewati pasar malam yang baru mulai menata lapak.
Pak Darmo menunggu di tokonya—sebuah ruangan sempit di gang ketiga yang dindingnya penuh rak buku dari lantai sampai langit-langit. Pria tua, kacamata tebal, jari-jari yang selalu berbau tinta.
Arsenio meletakkan tumpukan bukunya di meja. Dua belas buku. Empat tahun koleksi.
Pak Darmo menyentuh setiap buku dengan ujung jari. Membuka beberapa halaman. Mengangguk pelan.
"Edisi pertama Seni Arbitrase. Cetakan '78." Ia menatap Arsenio di balik kacamatanya. "Kamu yakin mau lepas ini, Nak?"
Arsenio menelan ludah. Jemarinya gatal ingin mengambil kembali buku itu. Membuka halamannya sekali lagi. Merasakan tekstur kertasnya.
"Yakin, Pak."
Pak Darmo mengangguk. Menghitung. Menulis angka di kertas kecil. Menyerahkannya.
Tujuh juta dua ratus ribu rupiah.
Lebih dari yang Arsenio perkirakan.
Uang itu masuk ke amplop cokelat. Amplop yang sama yang tadi malam berisi surat ibunya. Kosong sekarang. Hanya berisi uang. Dan satu foto.
Rudi menepuk bahunya. "Sultan baru nih. Tujuh juta. Lo mau langsung ke Dermaga Tujuh?"
Arsenio menggeleng. "Nggak sekarang. Gue ke pelabuhan dulu. Gue mau liat loker itu. Cuma liat."
"Bro, kalau lo cuma liat terus nggak buka, lo bakal nyesel."
"Gue nggak nyesel. Gue siapin." Arsenio memasukkan amplop ke saku dalam jaketnya. "Gue mau tahu dulu siapa yang naruh loker itu. Kapan terakhir kali dibuka. Siapa yang pegang kuncinya sekarang."
Rudi menatapnya. Lalu menggeleng pelan.
"Lo tuh literally main chess sementara orang lain main ludo. Gue nggak bisa relate."
Mereka tiba di Pelabuhan Sinar Utara saat matahari mulai turun. Cahaya oranye memantul di permukaan air, membuat kapal-kapal kargo terlihat seperti siluet raksasa yang sedang tidur.
Arsenio berjalan sendirian ke arah Dermaga Tujuh. Rudi menunggu di motor, karena—"Lo butuh waktu sendiri buat ini, bro. Gue jaga motor. Gue juga nggak mau jadi saksi kalau lo nangis."
Dermaga Tujuh adalah dermaga tua. Sudah tidak aktif untuk bongkar muat besar—kapal-kapal sekarang pakai Dermaga Satu sampai Lima yang lebih modern. Dermaga Tujuh hanya dipakai untuk kapal nelayan kecil dan penyimpanan.
Loker-loker besi berkarat berjejer di dinding gudang tua. Nomor-nomornya sudah pudar. Tapi Arsenio menemukannya.
44.
Ia berdiri di depannya. Tidak menyentuh. Hanya menatap.
Loker itu kecil. Seukuran kotak sepatu. Gemboknya baru—terlalu baru untuk dermaga yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun.
Dan di atas gembok itu, ada goresan. Kecil. Sengaja. Seperti inisial.
Arsenio mendekat. Menyentuh goresan itu dengan ujung jari.
Dua huruf.
V.L.
Darahnya berhenti.
V.L.
Bukan inisial ibunya. Bukan inisialnya. Tapi dua huruf itu—entah kenapa—terasa seperti nama yang pernah ia dengar. Di koran. Di berita bisnis. Di percakapan orang-orang pelabuhan yang menyebut nama itu dengan nada takut.
Victor H. Lang.
Kakinya mundur selangkah.
Di belakangnya, suara langkah. Pelan. Teratur. Sengaja.
Arsenio berbalik.
Seorang pria berdiri di ujung dermaga. Jas hitam. Kacamata gelap meski matahari sudah hampir tenggelam. Senyum tipis yang tidak mencapai mata.
"Anak Laksmi, ya?" suaranya datar. Sopan. Terlalu sopan. "Sudah lama kami menunggu seseorang datang ke loker itu."
Arsenio tidak menjawab. Tangannya perlahan menutupi saku jaketnya—menyembunyikan amplop. Menyembunyikan foto.
Pria itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
"Namamu Arsenio, kan?" Ia memiringkan kepala. "Kau mirip sekali dengan ibumu."
Dan sebelum Arsenio sempat bicara—sebelum ia sempat bertanya, berlari, atau melakukan apa pun—pria itu menambahkan satu kalimat yang membuat seluruh dunia Arsenio terasa miring pada porosnya:
"Ibumu tidak meninggal dua puluh tahun lalu, Nak. Dia disembunyikan. Dan orang yang menyembunyikannya—" pria itu tersenyum, "—sedang berdiri di dermaga ini juga. Malam ini."
Di kejauhan, di balik tumpukan kontainer, Arsenio melihat siluet kedua. Lebih besar. Lebih gelap.
Dan siluet itu mulai berjalan ke arahnya.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Aku pikir menjual buku adalah keputusan terbesar yang pernah kubuat hari ini. Aku salah. Keputusan terbesar adalah berdiri di depan loker 44. Dan keputusan terbesar berikutnya—yang belum kubuat—adalah apakah aku akan berlari dari pria itu, atau bertanya siapa ibuku sebenarnya."