Arsenio berlari.
Bukan berlari dengan rencana. Bukan berlari dengan strategi. Berlari seperti hewan yang mencium bau predator—instingtif, panik, dengan jantung yang memompa darah begitu keras sampai ia bisa mendengarnya di telinga sendiri.
Di belakangnya, dua pasang langkah kaki menghentak dermaga kayu.
"Anak itu! Jangan biarkan dia—"
Suara pria berjas hitam terpotong oleh deru mesin kapal nelayan yang tiba-tiba menyala di ujung dermaga. Arsenio tidak menoleh. Ia melompat melewati tumpukan tali tambang, menyelinap di antara dua kontainer berkarat, dan—
"BRUHH, LO NGAPAIN SIH?!"
Rudi. Di motor. Mesin sudah menyala. Mata membelalak melihat Arsenio sprint ke arahnya seperti dikejar setan.
"JALAN, RUD. JALAN SEKARANG."
"Nggak perlu lo bilang dua kali—"
Motor bebek itu meraung. Rudi memutar gas, ban belakang berdecit di aspal basah, dan mereka melesat menjauh dari Dermaga Tujuh tepat saat dua sosok gelap muncul di ujung jalan.
Arsenio tidak menoleh ke belakang. Tangannya mencengkeram pinggang Rudi begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Di saku jaketnya, amplop cokelat berisi foto ibunya dan tujuh juta dua ratus ribu terasa seperti bom yang belum meledak.
Lima menit kemudian, mereka berhenti di warung kopi pinggir jalan. Arsenio turun. Kakinya gemetar.
"Nio. NIO." Rudi mencengkeram bahunya. "Lo nggak bisa diem aja. Spill. Sekarang. Siapa mereka? Kenapa lo lari kayak di film thriller?"
Arsenio menelan ludah. Menatap jalanan kosong di belakang mereka.
"Gue nggak tahu, Rud. Gue literally nggak tahu. Tapi mereka bilang—" Ia berhenti. Mengusap wajahnya. "Mereka bilang nyokap gue nggak meninggal. Mereka bilang dia disembunyikan."
Hening.
Rudi melepas helmnya. Pelan. Seperti gerakan seseorang yang baru saja mendengar dunia akan berakhir besok.
"...Bro. Lo serius right now?"
"Dan ada inisial di loker itu, Rud. V.L." Arsenio menatap sahabatnya. "Lo tahu siapa V.L."
Rudi tahu. Semua orang di Lintang Raya tahu. Nama itu disebut di setiap koran bisnis, di setiap obrolan pelabuhan, di setiap bisikan pedagang yang takut bicara terlalu keras.
Victor H. Lang.
Rudi mengembuskan napas panjang. "Oke. Oke. Kita nggak bahas ini di sini. Lo butuh kepala dingin. Lo butuh tidur. Dan besok—" ia menunjuk d**a Arsenio, "—besok lo bikin deal ikan itu. Yang udah lo rencanain. Karena kalau lo fokus ke misteri nyokap lo tanpa modal, tanpa posisi, lo literally nggak punya power buat ngelawan siapa pun."
Arsenio menatapnya. Lama.
"Lo bener."
"Gue selalu bener. Itu canon." Rudi menyerahkan kopi hitam dari warung. "Minum. Tidur. Besok kita jadi pedagang."
Pukul lima pagi. Pasar ikan Lintang Raya.
Udara masih dingin, berbau garam dan solar. Lampu-lampu neon pasar berkedip di atas lapak-lapak kayu yang basah. Nelayan baru pulang—perahu-perahu kecil bersandar di dermaga, dan keranjang-keranjang berisi ikan segar diturunkan dengan tangan-tangan kasar yang sudah bekerja sejak subuh.
Arsenio berdiri di ujung pasar. Kaos hitam. Celana kerja. Amplop cokelat di saku dalam. Di tangannya, secarik kertas berisi daftar: 50 kg ikan kering. Harga beli maksimal 22.000/kg. Target margin: 60.000/kg di Alvora City. Modal terpakai: 1.100.000.
Ia menghampiri seorang nelayan tua yang sedang menata ikan tongkol di atas es.
"Pak. Ikan keringnya ada?"
Nelayan itu mendongak. Wajahnya terbakar matahari, keriputnya dalam seperti peta sungai. Menatap Arsenio dari atas sampai bawah.
"Anak pelabuhan ya? Mau beli berapa?"
"Lima puluh kilo. Tongkol kering. Grade A."
Nelayan itu—Pak Soleh, enam puluh tahun, tangan sebesar dayung—mengernyit. "Lima puluh kilo? Buat apa? Lo mau buka warung?"
"Buat dijual lagi, Pak. Di Alvora City."
Pak Soleh tertawa. Tawa pendek, kering. "Anak muda, semua orang di sini tahu ikan kering di Alvora mahal. Tapi nggak ada yang pernah beneran bawa ke sana. Terlalu ribet. Ongkos kirim, izin, bla bla bla."
"Ongkos kirim gue udah hitung, Pak. Seribu lima ratus per kilo kalau pakai jalur darat lewat terminal kargo Sinar Utara. Izinnya gue urus sendiri." Arsenio mencondongkan tubuh. "Gue beli dua puluh dua ribu per kilo. Cash. Sekarang. Lima puluh kilo."
Pak Soleh menyipitkan mata. "Dua puluh dua ribu? Harga pasar di sini dua puluh ribu."
"Iya. Gue kasih dua ribu lebih. Karena gue nggak mau nawar kayak tengkulak yang bikin bapak-bapak di sini rugi. Gue beli fair, gue bayar di muka, dan bulan depan gue balik buat seratus kilo."
Hening. Pak Soleh menatap anak muda di depannya. Ada sesuatu di mata Arsenio—bukan kesombongan, bukan keputusasaan. Kelaparan. Kelaparan jenis tertentu yang Pak Soleh kenal. Kelaparan seseorang yang tahu persis ke mana ia mau pergi tapi belum punya kendaraan.
"Dua puluh tiga ribu," Pak Soleh menawar.
"Dua puluh dua ribu lima ratus. Final."
Pak Soleh mengulurkan tangan. Kasar. Kapalan. Arsenio menjabatnya.
"Deal."
Rudi muncul dua puluh menit kemudian dengan gerobak pinjaman.
"Bro, lo literally baru aja ngabisin sejuta lebih dalam waktu lima belas menit. Speed run. Gue belum sempat beli sarapan."
"Gue traktir nanti. Bantu angkut dulu."
Mereka mengangkut karung-karung ikan kering ke gerobak. Keringat mulai mengalir meski matahari belum naik penuh. Arsenio menghitung dalam kepala: Modal 1.125.000. Ongkos kirim 75.000. Total cost 1.200.000. Kalau jual di Alvora 80.000 per kilo, revenue 4.000.000. Profit kotor 2.800.000. Dari tujuh juta, gue pakai sejuta dua ratus. Sisa lima juta delapan ratus buat—
"OI, OI, OI."
Suara itu memotong perhitungannya. Keras. Kasar.
Seorang pria mendekat. Tiga puluhan, badan lebar, kaos ketat bertuliskan RAJA LAUT, dan rantai emas palsu di lehernya. Di belakangnya, dua anak buah membawa tongkat kayu.
Bagas. Pengumpul ikan terbesar di Lintang Raya. Tengkulak yang sudah sepuluh tahun mengontrol harga beli nelayan. Yang menentukan siapa boleh jual ke mana dan dengan harga berapa.
"Lo siapa?" Bagas menunjuk Arsenio. "Beli ikan lima puluh kilo tanpa izin gue?"
Arsenio tidak mundur. "Gue nggak butuh izin lo buat beli ikan, Bang."
"Oh, nggak butuh?" Bagas tertawa. Tawa yang tidak lucu. "Semua orang di pasar ini jual ke gue. Gue yang nentuin harga. Gue yang nentuin siapa yang boleh ekspor ke kota. Lo pikir lo bisa datang, beli, terus cabut gitu aja? No cap, lo belum kenal gue."
"Gue kenal lo, Bang." Arsenio menatap lurus. "Lo beli dari nelayan lima belas ribu, jual ke pasar dua puluh lima ribu. Margin lo gede karena lo monopoli akses. Bukan karena lo nambah value."
Wajah Bagas mengeras.
"Denger ya, anak kecil." Ia melangkah maju. Jarak mereka tinggal setengah meter. Bau rokok kretek dan keringat. "Gue nggak peduli lo mau jadi pedagang. Gue nggak peduli lo mau jadi sultan. Tapi di pasar ini, di dermaga ini, nggak ada yang lewat tanpa pajak gue. Lo ngerti?"
Rudi bergerak ke samping Arsenio. Tangannya terkepal. "Lo mau apa, Bang? Kita beli fair. Cash. Nggak ngutang. Nggak ngambil jatah lo."
"Jatah gue itu semua, bro." Bagas menatap Rudi. "Dan lo—" kembali ke Arsenio, "—gue kasih waktu sampai sore. Lima puluh kilo itu balik ke pasar. Atau lo bayar fee dua juta. Pilih."
Arsenio diam. Tiga detik. Lima detik.
Lalu ia tersenyum. Tipis. Dingin.
"Gue pilih opsi ketiga, Bang."
Bagas mengernyit. "Apa?"
"Gue nggak balik ikannya. Dan gue nggak bayar fee lo." Arsenio mengambil amplop dari sakunya. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Menghitung. "Tapi gue kasih lo tawaran. Lo jadi mitra logistik gue. Lo punya akses truk ke Alvora City, kan? Gue bayar lo per pengiriman. Dua ratus ribu per trip. Lo nggak perlu beli ikan, nggak perlu nanggung risiko. Lo cuma antar. Dan lo dapet duit tanpa harus mikir."
Hening.
Bagas menatapnya. Anak di depannya ini—dua puluh tahun, kaos kebesaran, tangan kapalan—baru saja mencoba mengubahnya dari predator jadi karyawan dalam waktu tiga puluh detik.
"Lo..." Bagas menggeleng pelan. Tapi ada sesuatu di matanya. Bukan marah lagi. Penasaran. "Lo gila, ya?"
"Gue efisien, Bang. Beda." Arsenio mengulurkan tangan. "Lo pikir dulu. Gue berangkat ke Alvora City lusa. Kalau lo mau ikut, lo tahu di mana nemuin gue."
Ia berbalik. Mengambil tali gerobak. Mulai menarik.
Bagas tidak bergerak. Menatap punggung Arsenio yang menjauh. Rahangnya mengatup.
Di belakangnya, salah satu anak buahnya berbisik, "Bang, kita hajar aja?"
Bagas mengangkat tangan. "Nggak." Matanya masih mengikuti Arsenio. "Belum. Gue mau lihat dulu anak ini sejauh mana."
Malam itu, di kamar asrama, Arsenio duduk di tepi kasur. Gerobak ikan sudah dititipkan di gudang Rudi. Besok, ia akan mengurus izin kirim di terminal kargo. Lusa, lima puluh kilo ikan kering akan berangkat ke Alvora City.
Tapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa tidur.
Di tangannya, foto ibunya. Wajah wanita muda itu menatap balik dari kertas menguning.
"Cari di Pelabuhan Sinar Utara. Dermaga Tujuh. Loker 44."
Dan pria berjas hitam itu. "Ibumu tidak meninggal. Dia disembunyikan."
Dan inisial di gembok. V.L.
Arsenio memejamkan mata. Di kepalanya, dua dunia berputar bersamaan. Dunia ikan kering dan margin dan ongkos kirim. Dan dunia lain—dunia loker terkunci, wanita yang disembunyikan, dan miliarder yang namanya terdengar seperti doa yang tidak pernah dijawab.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rudi.
"Bro. Gue baru dapet info dari temen di pelabuhan. Loker 44 itu terakhir dibuka 3 hari lalu. SEBELUM lo ke sana. Seseorang udah ke sana duluan. Dan tebak siapa yang bayar sewa loker itu bulan ini."
Arsenio mengetik. "Siapa?"
Tiga titik. Lama.
Lalu:
"Victor H. Lang. Langsung. Transfer dari rekening pribadi."
Arsenio menatap layar. Cahaya ponsel menerangi wajahnya dalam gelap kamar.
Dan di luar jendela, di kejauhan, lampu-lampu Pelabuhan Sinar Utara berkedip seperti mata yang mengawasi.
Selalu mengawasi.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar satu hal. Di pasar ikan, musuhmu bukan orang yang menolakmu. Musuhmu adalah orang yang membuatmu merasa kau butuh izin untuk ada. Aku tidak butuh izin siapa pun. Tapi aku juga belajar—untuk melawan orang seperti Victor H. Lang, aku tidak bisa datang dengan tangan kosong. Aku butuh kerajaan. Dan kerajaan dimulai dari lima puluh kilo ikan kering."