Terminal kargo Pelabuhan Sinar Utara, pukul tujuh pagi.
Aroma solar bercampur bau kardus basah. Truk-truk kontainer berjejer seperti raksasa yang sedang antre. Arsenio berdiri di depan loket perizinan dengan map cokelat di tangan—fotokopi KTP, surat keterangan usaha dari kelurahan, dan nota pembelian lima puluh kilo ikan kering dari Pak Soleh.
Rudi di sampingnya, mengunyah roti isi selai kacang.
"Lo yakin dokumen lo lengkap, Nio? Gue denger terminal ini ribet kalau nggak punya orang dalam."
"Orang dalam gue lo, Rud. Lo yang kenal orang di sini."
"Kenal doang. Bukan deket. Beda, bro. Gue kenal kayak lo kenal kasir minimarket—tahu namanya, tapi dia nggak bakal kasih lo diskon."
Arsenio mendengus. "Kita lihat."
Di loket, seorang petugas berkacamata tebal—Pak Hendra, lima puluhan, seragam pelabuhan yang kancingnya sudah tidak muat—menerima map Arsenio tanpa menatap.
"Nama?"
"Arsenio. Tanpa nama belakang."
Pak Hendra mendongak. Kacamata turun ke ujung hidung. "Tanpa nama belakang? Gimana mau daftar izin kirim tanpa nama lengkap?"
"Di KTP saya memang begitu, Pak. Dari kecil."
Pak Hendra menghela napas. Membuka map. Membaca. Matanya bergerak lambat—terlalu lambat untuk seseorang yang seharusnya sudah melakukan ini ribuan kali.
"Ikan kering. Lima puluh kilo. Tujuan Alvora City. Jalur darat." Ia mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoin. "Ini pengiriman pertama?"
"Iya, Pak."
"Ada izin distribusi pangan dari dinas?"
Arsenio menegang. "Di persyaratan yang saya baca di website pelabuhan, pengiriman di bawah seratus kilo nggak perlu izin distribusi. Cukup surat keterangan usaha dan nota pembelian."
Pak Hendra melepas kacamatanya. Membersihkan lensa dengan ujung kemeja. Gerakannya lambat. Sengaja.
"Website itu belum di-update, Nak. Per bulan lalu ada regulasi baru. Semua pengiriman pangan, berapa pun volumenya, butuh surat jalan tambahan dari otoritas pelabuhan." Ia mencondongkan tubuh. "Dan surat jalan itu..." Ia mengetuk meja lagi. "...harus ditandatangani kepala otoritas. Yang kebetulan minggu ini nggak ada di tempat."
"Berapa lama?"
"Bisa seminggu. Bisa dua minggu. Tergantung."
"Tergantung apa, Pak?"
Pak Hendra tersenyum. Senyum kecil yang tidak mencapai mata. "Tergantung ada yang minta dipercepat atau nggak."
Rudi menepuk meja pelan. "Pak, kita bicara di sini kayak orang bodoh. Lo bilang aja—berapa?"
Pak Hendra mengangkat tangan. "Saya nggak bilang apa-apa. Saya cuma bilang regulasi. Tapi kalau kalian mau konsultasi..." Ia menggeser secarik kertas kecil ke tepi meja. Di atasnya tertulis satu nama dan satu nomor telepon.
Arsenio membaca nama itu.
Damar Wicaksono. Asisten Operasional Kharisma Group.
Darahnya naik ke kepala.
Kharisma Group.
"Terima kasih, Pak." Arsenio mengambil mapnya. "Saya pikir-pikir dulu."
Ia berbalik. Rudi mengikuti.
Di luar terminal, Rudi mencengkeram lengannya. "Bro. Lo lihat nama itu? Kharisma Group. Victor. Literally Victor. Lo belum bisa jalan satu langkah tanpa nabrak orangnya dia."
"Gue lihat, Rud."
"Terus lo mau ngapain? Bayar fee ke Damar? Itu sama aja kayak bayar Bagas tapi versi korporat."
"Nggak." Arsenio berjalan ke arah gerobak ikan yang diparkir di belakang gudang. "Gue nggak bayar siapa pun. Gue cari jalan lain."
"Jalan lain kayak gimana? Terminal kargo satu-satunya jalur darat resmi ke Alvora City."
Arsenio berhenti. Menoleh.
"Jalur darat resmi. Tapi ada jalur laut. Kapal nelayan kecil yang berangkat dari Dermaga Dua. Mereka nggak lewat terminal kargo. Mereka lewat pos pemeriksaan nelayan."
Rudi menatapnya. Lama.
"Nio. Lo mau kirim lima puluh kilo ikan kering pakai kapal nelayan?"
"Gue mau kirim lima puluh kilo ikan kering pakai jalur yang nggak dikontrol Victor." Arsenio tersenyum. Tipis. Tajam. "Dia pegang terminal kargo. Dia pegang surat jalan. Tapi dia nggak pegang laut. Belum."
Siang itu, di warung kopi belakang pasar, Arsenio menunggu seseorang.
Orang itu datang pukul satu lewat sepuluh. Kaos ketat, rantai emas palsu, dan senyum yang setengah mengejek.
Bagas.
Duduk tanpa diundang. Mengambil gelas Arsenio. Menyesap kopinya.
"Lo yang traktir, kan?"
"Kalau lo duduk buat ngomongin tawaran gue, iya. Gue traktir."
Bagas meletakkan gelas. Menyandarkan punggung. "Gue mikir semalaman. Tawaran lo—dua ratus ribu per trip, gue cuma antar, nggak nanggung risiko." Ia mengangguk pelan. "Masuk akal. Gue suka duit tanpa mikir."
"Jadi?"
"Tapi." Bagas mengangkat satu jari. "Gue mau lo denger dulu sebelum lo seneng. Terminal kargo. Lo udah ke sana pagi ini, kan?"
Arsenio mengangguk.
"Ditolak, kan? Surat jalan. Regulasi baru."
"Lo tahu dari mana?"
Bagas tertawa pendek. "Bro. Semua orang di pelabuhan ini tahu. Regulasi baru itu bukan regulasi. Itu instruksi. Dari atas. Dari orang yang pegang pelabuhan ini." Ia mengetuk meja. "Dan orang itu bukan kepala otoritas. Orang itu namanya ada di setiap kontrak bongkar muat, setiap izin dermaga, setiap lembar kertas yang lewat di pelabuhan ini."
"Victor."
Bagas mengangguk. Pelan. Serius. "Victor H. Lang. Lo sebut nama itu jangan keras-keras, Nio. Dinding di sini punya telinga. Dan telinga itu punya bos."
Rudi, yang duduk di sudut, mencondongkan tubuh. "Bang, kita udah tahu soal itu. Makanya Nio mau pakai jalur laut. Kapal nelayan."
Bagas menatap Arsenio. Lama. Lalu menggeleng.
"Lo nggak bisa."
"Kenapa?"
"Karena Dermaga Dua—tempat kapal nelayan berangkat—udah dibeli kontraknya sama Kharisma Group tiga bulan lalu. Semua kapal yang berangkat dari sana harus punya stempel dari agen mereka. Lo kirim ikan tanpa stempel, kapal lo ditahan di tengah laut. Barang disita. Lo rugi total."
Hening.
Arsenio menatap kopinya. Gelap. Permukaannya memantulkan wajahnya sendiri.
"Jadi semua jalur udah dikunci," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
"Semua jalur resmi, iya." Bagas mencondongkan tubuh. Suaranya turun. "Tapi ada satu jalur yang belum mereka sentuh. Jalur kecil. Kapal-kapal tua yang berangkat dari Dermaga Tujuh."
Arsenio mendongak. Dermaga Tujuh. Tempat loker 44. Tempat pria berjas hitam itu.
"Dermaga Tujuh nggak aktif," kata Arsenio.
"Untuk kargo besar, iya. Tapi buat kapal kecil—lima, sepuluh ton—masih ada yang pakai. Nelayan-nelayan tua yang nggak mau pindah ke Dermaga Dua karena nggak mau bayar stempel Kharisma." Bagas mengangkat bahu. "Mereka berangkat tengah malam. Tanpa pemeriksaan formal. Tapi risikonya lo tanggung sendiri. Kalau ketemu patroli, nggak ada yang backup."
Arsenio menatap Bagas. "Lo mau antar gue ke orang-orang itu?"
Bagas tersenyum. Senyum yang berbeda dari tadi. Bukan mengejek. Lebih seperti—mengakui.
"Gue mau lebih dari itu, bro. Gue mau ikut. Dua ratus ribu per trip lo bilang? Gue ambil. Tapi bukan cuma antar. Gue jadi orang lo di lapangan. Lo yang otaknya, gue yang tangannya. Deal?"
Arsenio mengulurkan tangan. Bagas menjabat. Genggamannya keras. Kapalan. Nyata.
"Deal."
Malam itu. Pukul sebelas. Dermaga Tujuh.
Gelap. Hanya lampu minyak di ujung dermaga yang menerangi siluet kapal-kapal tua yang tertambat. Arsenio, Rudi, dan Bagas berdiri di tepi dermaga, menunggu.
"Kapalnya datang jam dua belas," kata Bagas. "Nahkoda-nya namanya Pak Iwan. Tua. Keras kepala. Tapi jujur. Lo kasih duit, dia antar. Lo kasih lebih, dia antar lebih cepet."
"Gue udah siapkan bayarannya," kata Arsenio.
"Bagus. Tapi ada satu hal." Bagas menoleh. Wajahnya serius di bawah cahaya lampu minyak. "Dermaga Tujuh ini—lo udah ke sini sebelumnya, kan? Gue denger lo ke loker empat puluh empat."
Arsenio tidak menjawab.
Bagas melanjutkan. "Hati-hati, Nio. Loker-loker di sini bukan loker biasa. Beberapa dari mereka dipakai buat simpan barang yang nggak boleh ada. Dan orang yang nyewa loker itu—mereka bukan orang yang lo mau bikin marah."
"Gue tahu siapa yang nyewa loker itu, Bang."
Bagas menatapnya. "Oh? Siapa?"
Sebelum Arsenio menjawab, suara mesin kapal terdengar dari kegelapan. Lampu kecil berkedip di kejauhan—kapal nelayan tua, lambungnya terkelupas, mendekat perlahan.
Tapi di saat yang sama—di ujung dermaga, di balik tumpukan jaring ikan—Arsenio melihat sesuatu yang membuat kakinya membeku.
Siluet. Berdiri. Mengawasi.
Bukan satu. Tiga.
Dan salah satunya—yang paling tinggi, paling tegap—mengangkat tangan. Bukan melambai. Bukan mengancam.
Memotret.
Kilatan cahaya kecil di kegelapan. Flash kamera.
Lalu siluet itu berbalik. Menghilang.
Bagas melihatnya juga. Rahangnya mengeras.
"Nio. Kita harus cepat. Barang naik, kapal jalan. Sekarang."
"Siapa mereka?"
"Gue nggak tahu. Tapi kalau mereka udah foto lo di Dermaga Tujuh jam sebelas malam..." Bagas menelan ludah. "...itu artinya lo udah dilihat. Dan orang yang melihat lo—mereka nggak pernah cuma melihat. Mereka mencatat."
Kapal merapat. Pak Iwan—tua, kurus, topi nelayan yang sudah pudar—melompat ke dermaga.
"Ikan kering? Lima puluh kilo?"
"Iya, Pak."
"Naikin. Cepet. Air pasang jam satu, gue nggak mau masih di sini."
Arsenio dan Rudi mulai mengangkut karung-karung dari gerobak. Satu per satu. Lima puluh kilo. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip.
Di saku jaketnya, ponsel Arsenio bergetar. Satu pesan. Nomor tidak dikenal.
Ia membukanya dengan satu tangan, tangan yang lain masih memegang tali karung.
"Selamat atas pengiriman pertamamu, Arsenio. Ibuku dulu juga pedagang ikan di dermaga ini. Sebelum aku memastikan dia berhenti."
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada nomor yang bisa dilacak.
Hanya kalimat itu. Dan di bawahnya, satu foto: loker 44. Terbuka. Kosong.
Arsenio menatap layar. Jantungnya berhenti satu ketukan.
Siapa pun yang mengirim ini—mereka sudah membuka loker itu sebelum Arsenio sempat membukanya.
Dan isi loker itu—apa pun yang ibunya sembunyikan dua puluh tahun lalu—
Sekarang ada di tangan orang lain.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal kedua. Victor H. Lang tidak hanya mengendalikan pelabuhan. Dia mengendalikan waktu. Dia selalu satu langkah di depan. Selalu sudah ada di sana sebelum aku tiba. Dan itu berarti satu dari dua hal: entah dia membaca gerakanku, atau ada seseorang di dekatku yang memberitahunya. Aku belum tahu yang mana. Tapi aku akan tahu."