Alvora City berbau berbeda.
Bukan bau amis ikan dan solar seperti Lintang Raya. Bukan bau kretek dan gula aren seperti Serayu Haven. Alvora City berbau uang—kopi mahal dari mesin espresso, parfum dari botol kaca, dan aspal panas yang dipanggang matahari di antara gedung-gedung yang menjulang seperti jari-jari raksasa menunjuk langit.
Arsenio berdiri di trotoar depan Pasar Sentral Alvora, menarik gerobak kecil berisi lima puluh kilo ikan kering yang berhasil selamat dari perjalanan laut semalam. Pak Iwan mengantar mereka tanpa insiden—gelap, senyap, efisien. Bagas mengawasi dari dermaga sampai kapal menghilang di balik kabut.
"Bro, lo beneran mau jual di sini? Di pasar ini?" Rudi mengedarkan pandangan ke deretan lapak yang tertata rapi—jauh lebih bersih dan teratur dari Pasar Lintang Raya. "Orang-orang di sini beli ikan pakai aplikasi, Nio. Bukan datang ke pasar."
"Makanya gue di sini. Gue nggak jual ke orang-orang yang beli pakai aplikasi. Gue jual ke pedagang yang butuh stok." Arsenio mengeluarkan secarik kertas. "Gue udah riset tadi malam. Ada tiga distributor ikan kering di Pasar Sentral yang supply ke restoran-restoran Jepang di distrik bisnis. Mereka butuh grade A, konsisten, dan harga di bawah supplier tetap mereka."
"Lo literally riset di jam satu pagi setelah ngangkat ikan?"
"Gue nggak bisa tidur, Rud."
Rudi mendengus tapi tidak berkomentar. Ia tahu nada itu—nada yang sama saat Arsenio membaca buku sampai lampu perpustakaan dimatikan Laksmi. Nada orang yang otaknya menolak berhenti.
Mereka masuk ke pasar. Arsenio menghampiri lapak pertama—Ikan Jaya, distributor terbesar di sisi timur. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya dengan kalkulator di tangan, bahkan tidak mendongak.
"Udah punya supplier tetap, Nak. Nggak butuh."
Lapak kedua sama. Ketiga sama.
Rudi menyandarkan punggung ke pilar. "Tuh kan. Lo nggak bisa cold approach kayak gini. Lo bukan sales, bro. Lo nggak punya track record. Nggak ada yang mau ambil risiko dari orang asing."
Arsenio diam. Otaknya berputar. Ketidakseimbangan informasi. Bukan cuma soal harga. Soal kepercayaan. Orang-orang ini tidak butuh ikan—mereka butuh kepastian. Dan kepastian tidak datang dari anak dua puluh tahun tanpa nama belakang yang muncul tiba-tiba dengan gerobak.
"Rud," katanya pelan. "Gue butuh satu pintu."
"Hah?"
"Satu orang yang mau coba dulu. Sekali. Kalau kualitas gue bagus, mereka yang akan cari gue, bukan sebaliknya."
"Dan lo mau nemu orang itu di mana?"
Arsenio tidak menjawab. Matanya bergerak menyapu pasar—dan berhenti di satu titik.
Di sudut pasar, di depan sebuah kafe kecil yang terlalu sepi untuk lokasi sepenting ini, ada kerumunan. Lima, enam orang berjas. Berdiri melingkar. Dan di tengah lingkaran itu—
Seorang wanita.
Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang kalah. Itu hal pertama yang Arsenio perhatikan.
Dua puluh lima tahun, mungkin lebih sedikit. Blazer navy yang pas di bahu, rambut hitam diikat rendah, dan postur yang terlalu tegak untuk seseorang yang sedang dikepung. Tapi matanya—matanya menceritakan cerita yang berbeda. Lelah. Merah di pinggirannya. Mata seseorang yang sudah tidak tidur berhari-hari tapi menolak menunjukkan itu kepada siapa pun.
Pria-pria berjas itu bicara. Keras. Tangan menunjuk. Salah satunya menggebrak meja kafe sampai cangkir berdenting.
"—Nona Kirana, kami sudah beri kelonggaran dua minggu. Dua minggu. Dan sampai hari ini, tidak ada pembayaran, tidak ada proposal restrukturisasi, tidak ada apa pun—"
Arsenio berhenti berjalan.
Kirana.
Rudi menarik lengannya. "Nio, jangan ikut campur. Itu bukan urusan kita. Lo baru di sini, nggak kenal siapa—"
"Gue denger nama itu, Rud." Arsenio tidak beranjak. "KiranaTech. Perusahaan agro biotek. Gue baca profilnya di perpustakaan Laksmi tiga bulan lalu. Perusahaan keluarga. Teknologi pengawetan pangan. Paten di tiga negara."
"Terus? Mau lo apain? Lo punya gerobak ikan kering, bro. Bukan venture capital."
Arsenio tidak menjawab. Ia melangkah mendekat. Bukan cepat. Bukan agresif. Pelan—seperti seseorang yang mendekati hewan liar yang terluka.
Pria berjas yang menggebrak meja menoleh. "Ada apa? Ini urusan internal. Pergi."
Arsenio berhenti di tepi lingkaran. Menatap wanita itu. Bukan pria-pria berjas itu. Wanita itu.
"Mbak," katanya. Suaranya tenang. Rendah. Bukan nada pedagang yang menawarkan barang. Nada seseorang yang sedang membaca situasi dan memutuskan untuk tidak berjalan pergi. "Mereka nagih berapa?"
Wanita itu—Hana Kirana—menoleh. Matanya tajam. Dingin. Mata seseorang yang sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya pada orang asing yang tiba-tiba peduli.
"Siapa kamu?"
"Nggak penting siapa gue. Yang penting—mereka nagih berapa, dan lo butuh berapa hari."
Salah satu pria berjas mendengus. "Anak kecil, ini bukan urusanmu. Pergi sebelum kami panggil keamanan."
Arsenio mengabaikan mereka. Matanya tetap pada Hana. Menunggu.
Hana menatap balik. Lima detik. Sepuluh detik. Ada perang kecil di matanya—antara harga diri yang menolak bantuan dan keputusasaan yang butuh sekutu.
"Empat ratus juta," katanya akhirnya. Datar. Seperti menyebut angka cuaca. "Jatuh tempo tiga hari. Dan sebelum kamu bertanya—tidak, saya tidak butuh belas kasihan dari anak yang belum bisa mencukur kumisnya."
Rudi di belakang Arsenio menahan tawa. Arsenio tidak bergeser.
"Empat ratus juta dalam tiga hari," Arsenio mengulang. Bukan kaget. Menghitung. "Itu utang ke siapa?"
"Kharisma Capital. Divisi pinjaman korporat." Hana mengucapkannya seperti menyebut nama penyakit. "Mereka beli utang kami dari bank asal. Dengan bunga yang tiba-tiba naik empat kali lipat karena klausul tersembunyi yang tidak pernah ada di kontrak awal."
Kharisma.
Nama itu lagi. Selalu nama itu lagi.
Arsenio merasakan sesuatu di dadanya—bukan takut. Bukan kagum. Marah. Marah yang dingin dan terstruktur. Marah yang sama saat ia melihat Pak Soleh dipaksa menjual ikan lima belas ribu ke Bagas. Marah yang sama saat Pak Hendra di terminal kargo menyodorkan nama Damar Wicaksono.
Victor H. Lang tidak hanya mengendalikan pelabuhan. Ia mengendalikan semuanya. Dari nelayan kecil di Lintang Raya sampai CEO muda di Alvora City. Dari loker berkarat di Dermaga Tujuh sampai kontrak pinjaman yang dicekik klausul palsu.
"Gue nggak punya empat ratus juta," kata Arsenio. Jujur. "Gue punya gerobak ikan kering dan sisa uang di bawah enam juta rupiah."
Hana mendengus. "Kalau begitu, terima kasih sudah menyela. Pergi."
"Tapi gue punya sesuatu yang lebih berharga dari empat ratus juta."
Hana berhenti melangkah. Berbalik.
Arsenio menatapnya lurus. "Gue punya waktu. Dan gue punya otak yang nggak pernah berhenti mikir. Lo butuh tiga hari. Kasih gue tiga hari. Gue nggak janji gue bisa bayar utang lo—itu bohong. Tapi gue bisa bantu lo mengulur waktu. Nego ulang. Cari celah di klausul mereka. Bikin mereka nggak bisa eksekusi."
Hana menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia tertawa—pendek, kering, tanpa humor.
"Kamu bahkan tidak tahu nama saya."
"Hana Kirana. KiranaTech. CEO. Dua puluh lima tahun. Paten teknologi pengawetan pangan di Jepang, Singapura, dan Belanda. Perusahaan keluarga yang hampir bangkrut karena Kharisma Group beli utangnya dan mencekik dengan bunga palsu." Arsenio mengangkat bahu. "Gue baca. Gue suka baca."
Hana terdiam.
Pria-pria berjas itu mulai gelisah. Yang paling besar—jas abu-abu, jam tangan mahal—melangkah maju.
"Cukup. Nona Kirana, kami akan kembali besok. Kalau tidak ada pembayaran, kami eksekusi aset sesuai perjanjian." Ia melirik Arsenio. "Dan kamu, Nak. Kalau kamu menghalangi proses penagihan resmi, itu masuk ranah hukum."
Mereka pergi. Berjalan menjauh dengan langkah-langkah yang terlatih—langkah orang yang sudah melakukan ini berkali-kali dan tahu persis berapa lama waktu yang mereka punya.
Hana menatap punggung mereka. Rahangnya mengatup.
Lalu ia berbalik ke Arsenio. Dan kali ini, di balik semua lapisan es dan harga diri dan luka yang belum kering—ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang rapuh.
"Kenapa?" tanyanya. Suaranya lebih pelan sekarang. Lebih kecil. "Kamu tidak kenal saya. Kamu tidak punya uang. Kamu bahkan belum bisa menumbuhkan jenggot. Kenapa kamu mau bantu?"
Arsenio berpikir. Lama.
"Karena tiga hari lalu, ada orang yang bilang ke gue kalau nyokap gue nggak meninggal. Kalau dia disembunyikan. Dan orang yang menyembunyikannya punya nama yang sama dengan orang yang mencekik perusahaan lo." Ia menatap Hana. "Gue nggak kenal lo. Tapi gue kenal musuhnya. Dan orang yang punya musuh yang sama—"
"Bukan teman," potong Hana. Dingin. Otomatis. Refleks seseorang yang sudah terlalu sering ditusuk dari belakang.
Arsenio tersenyum. Tipis. "Bukan. Bukan teman. Sementara. Gue nggak minta lo percaya. Gue minta lo kasih gue tiga hari. Kalau gue gagal, lo nggak rugi apa-apa. Kalau gue berhasil—kita bicara lagi. Sebagai dua orang yang sama-sama nggak punya apa-apa kecuali kepala dan keras kepala."
Hana menatapnya. Lama.
Di kejauhan, klakson mobil. Di dekatnya, uap kopi dari kafe yang setengah kosong. Dan di antara mereka, jarak dua meter yang terasa seperti jurang.
Lalu Hana mengeluarkan kartu nama dari saku blazernya. Menyerahkannya. Jemarinya sedikit gemetar—hanya sedikit. Hanya Arsenio yang cukup dekat untuk melihatnya.
"KiranaTech. Lantai dua belas, Gedung Serayu, Distrik Bisnis Utara." Ia menatap Arsenio. "Kamu punya tiga hari. Setelah itu, saya tidak tahu kamu, dan kamu tidak tahu saya."
"Deal."
Hana berbalik. Melangkah pergi. Sepatu haknya mengetuk lantai pasar dengan irama yang teratur.
Tapi di langkah ketujuh, ia berhenti. Tidak menoleh.
"Satu hal."
"Ya?"
"Kalau kamu pikir ini tentang menyelamatkan saya—" suaranya datar, tapi ada getar di ujungnya, seperti senar gitar yang dipetik terlalu keras, "—saya tidak butuh diselamatkan. Saya butuh senjata. Beda."
Lalu ia pergi. Benar-benar pergi. Dan Arsenio berdiri di tengah pasar dengan kartu nama di tangan dan gerobak ikan kering di belakangnya, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan kagum. Bukan iba.
Resonansi.
Rudi muncul di sampingnya. Lama diam. Lalu:
"Bro."
"Apa."
"Lo baru aja janji ke CEO yang utangnya empat ratus juta. Lo sendiri punya duit lima juta delapan ratus dan gerobak ikan yang belum kejual."
"Gue tahu, Rud."
"Lo literally nggak punya plan, kan?"
Arsenio menatap kartu nama itu. Nama Hana Kirana tercetak dalam huruf perak. Di bawahnya, logo KiranaTech—helai daun yang melingkari molekul DNA.
"Gue nggak punya plan," katanya. "Tapi gue punya tiga hari. Dan gue punya satu hal yang Kharisma Group nggak punya."
"Apa?"
Arsenio tersenyum. Senyum yang membuat Rudi merinding tanpa tahu kenapa.
"Gue nggak punya apa-apa buat hilang. Mereka punya segalanya buat dilindungi. Dan orang yang punya segalanya buat dilindungi—" ia memasukkan kartu ke saku, "—mainnya hati-hati. Gue nggak perlu hati-hati. Gue perlu cepat."
Di kejauhan, ponsel Arsenio bergetar. Pesan kedua dari nomor tidak dikenal.
Ia membukanya.
"Kamu bertemu Hana Kirana hari ini. Bagus. Dia adalah kunci untuk membuka pintu yang belum kamu tahu ada. Tapi hati-hati, Arsenio. Pintu itu juga bisa membuka sesuatu yang menguncimu."
Tidak ada nama.
Tidak ada nomor.
Dan di bawah kalimat itu, satu kalimat lagi. Satu kalimat yang membuat jari Arsenio membeku di atas layar:
"Ibumu masih hidup. Dan dia meminta tolong."
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku bertemu seseorang yang mengingatkanku pada diriku sendiri—bukan pada siapa aku sekarang, tapi pada siapa aku bisa jadi kalau kemarahan mengubahku menjadi sesuatu yang dingin. Hana Kirana tidak butuh belas kasihan. Dia butuh bukti bahwa masih ada orang yang tidak akan menusuknya dari belakang. Aku belum bisa jadi orang itu. Tapi aku bisa jadi orang yang tidak pergi. Dan mungkin, untuk sekarang, itu cukup."