Hari kedua dari tiga.
Arsenio belum tidur.
Bukan karena insomnia. Bukan karena gelisah soal pesan misterius tentang ibunya yang masih hidup dan meminta tolong—meskipun kalimat itu berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa di-skip. Ia belum tidur karena di layar laptop pinjaman dari perpustakaan Laksmi—layar retak di pojok kiri atas, keyboard huruf Q yang sudah longgar—ia sedang menulis kode.
Bukan kode yang bagus. Bukan kode yang elegan. Kode yang ditulis oleh seseorang yang belajar dari tutorial YouTube jam dua pagi dan buku Pemrograman Dasar untuk Pemula yang ia pinjam tiga bulan lalu.
Tapi kode yang berfungsi.
Rudi masuk ke kamar asrama dengan dua gelas kopi dan wajah orang yang sudah menyerah pada konsep tidur.
"Bro. Lo belum tidur dari kapan? Kemarin? Kemarinnya lagi? Gue literally lupa kapan terakhir kali lo merem lebih dari dua jam."
"Gue nggak butuh tidur, Rud. Gue butuh selesai."
Rudi meletakkan kopi di meja. Mengintip layar laptop.
"...Lo ngoding? Lo? NIO? Lo nggak bisa bedain Python sama ular beneran."
"Gue belajar. Tiga jam tutorial, dua jam trial error, satu jam nangis di kamar mandi." Arsenio tidak menoleh dari layar. "Tapi gue udah punya kerangka. Dengerin."
Ia memutar laptop. Di layar: sebuah antarmuka sederhana. Sederhana sekali. Background putih, dua kolom, satu tombol hijau besar di tengah bertuliskan CARI JALUR.
"Oke," kata Arsenio. "Lo lihat ini?"
"Gue lihat kotak putih dengan tombol ijo. Very aesthetic. Very nothing."
"Ini bukan nothing, Rud. Ini platform. Gue namain sementara—SinarRoute."
Rudi mengedip. "SinarRoute."
"Iya. Konsepnya gini." Arsenio mulai menunjuk layar. "Kolom kiri: nelayan input barang mereka. Ikan kering, rempah, kain, apa aja. Volume, berat, lokasi. Kolom kanan: pembeli di kota input kebutuhan mereka. Volume, harga, deadline. Dan tombol ini—" ia mengetuk tombol hijau, "—mencocokkan keduanya. Nelayan nggak perlu tengkulak. Pembeli nggak perlu nunggu supplier tetap. Dan di tengah—"
"Lo dapet cut."
"Gue dapet cut. Lima persen per transaksi. Tapi yang lebih penting—" Arsenio mencondongkan tubuh, matanya berbinar dengan cahaya yang hanya muncul saat otaknya menemukan pola, "—gue kontrol jalur pengiriman. Gue yang nentuin rute. Gue yang nentuin kapal. Gue yang nentuin siapa yang boleh lewat dan siapa yang nggak."
Rudi diam. Lama.
"Bro. Lo baru aja describe monopoli logistik dengan bahasa yang lebih sopan."
"Bukan monopoli. Infrastruktur. Beda." Arsenio menyandarkan punggung. "Monopoli itu lo paksa orang pakai lo. Infrastruktur itu lo bikin jalur yang paling masuk akal buat dipakai. Orang datang sendiri karena nggak ada pilihan lebih baik."
"Dan lo mau bangun ini... sekarang? Di laptop kentang? Dengan skill coding yang lo dapet dari YouTube tadi malem?"
"Gue nggak bangun semuanya sekarang. Gue bangun prototipe. Satu rute. Lintang Raya ke Alvora City. Lima penjual, lima pembeli. Gue test manual dulu. Kalau jalan, gue scale."
Rudi menggaruk kepalanya. "Oke. Fine. Gue bantu. Tapi gue nggak bisa ngoding. Gue bisa angkat barang, nyetir, sama ngomong sama orang. Lo butuh orang buat bagian teknis beneran."
"Gue tahu. Dan gue udah punya orang."
Rudi mengangkat alis. "Siapa?"
Pukul sepuluh pagi. Warung kopi belakang Pasar Sentral Alvora City.
Di depan Arsenio duduk seorang pria dua puluh tiga tahun, kurus, kacamata tebal dengan frame hitam yang terlalu besar untuk wajahnya, dan kaos bertuliskan I DON'T TRUST PEOPLE WHO DON'T COMMENT THEIR CODE. Di depannya, laptop stiker-penuh dan tiga bungkus keripik kosong.
Dika Prasetyo. Freelance developer. Tiga tahun pengalaman. Dipecat dari dua startup karena "terlalu jujur soal bug yang disembunyikan manajemen."
"Jadi lo mau gue bikin aplikasi logistik," Dika mengunyah keripik. "Dengan budget berapa?"
"Satu juta lima ratus buat bulan pertama. Plus persentase kalau platform jalan."
Dika berhenti mengunyah. Menatap Arsenio. Menatap Rudi. Menatap Arsenio lagi.
"Bro. Satu juta lima. Lo tahu rate gue di marketplace freelance—"
"Gue tahu. Rate lo tiga juta per project kecil. Tapi lo nggak punya project sekarang. Lo dipecat dua kali. Portfolio lo bagus tapi nobody's calling." Arsenio mencondongkan tubuh. "Gue kasih lo satu juta lima sekarang, dan kalau SinarRoute jalan dalam tiga bulan, lo dapet lima persen equity. Bukan gaji. Ownership."
Dika menatapnya. Lama.
"Lo literally nawarin gue saham di perusahaan yang belum punya kantor, belum punya server, dan belum punya user."
"Iya. Dan lo literally nggak punya kerjaan dan keripik lo tinggal setengah bungkus."
Hening.
Dika menutup laptopnya. Membukanya lagi. Menatap layar kosong.
"...Gue ikut. Tapi gue yang pegang backend. Lo nggak boleh sentuh kode gue. Dan gue mau kopi. Tiga gelas sehari. Bukan kopi sachet. Kopi beneran."
"Deal."
Hari itu, mereka bekerja. Arsenio menjelaskan alur. Dika mengetik. Rudi bolak-balik beli makanan dan menguji fitur dengan klik-klik asal.
Pukul empat sore, prototipe pertama hidup.
"Oke, test run," kata Dika. Jari-jarinya mengetuk keyboard. "Gue input data dummy. Lima nelayan, lima pembeli. Lo klik tombol."
Arsenio klik CARI JALUR.
Loading. Tiga detik. Lima detik.
Layar berkedip.
Lalu: ERROR 404. ROUTE NOT FOUND.
"..." Arsenio menatap layar.
"Oke. Oke. Jangan panik. Ini bug routing. Gue salah masukin parameter di—" Dika mengetik cepat. "—di sini. Oke. Fix. Coba lagi."
Klik.
Loading.
ERROR 500. INTERNAL SERVER ERROR.
Dika mengumpat pelan. "Gue belum setup database-nya. One sec."
Sepuluh menit kemudian. Klik ketiga.
Layar menampilkan satu baris teks: JALUR DITEMUKAN: LINTANG RAYA → ALVORA CITY. ESTIMASI: 2 HARI. BIAYA: RP 1.500/KG.
"YES!" Rudi memukul meja. "BRO, IT WORKS!"
Arsenio tersenyum. Kecil. Tapi nyata.
"Itu baru satu rute," kata Dika. "Gue masih perlu bikin sistem tracking, notifikasi, sama payment gateway. Tapi core-nya jalan."
"Bagus. Besok kita test dengan data beneran. Gue udah punya lima nelayan dari Lintang Raya yang mau coba."
"Siapa?"
"Pak Soleh. Tiga temennya. Dan satu kontak baru dari Serayu Haven."
Malam itu. Kamar asrama. Pukul sebelas.
Arsenio sedang menyiapkan data pengiriman pertama melalui SinarRoute—bukan lagi manual, bukan lagi gerobak dan kapal tengah malam. Melalui sistem. Lima puluh kilo ikan kering, rute Lintang Raya-Alvora City, estimasi dua hari, biaya seribu lima ratus per kilo.
Rudi sudah tidur di kasur sebelah. Mendengur pelan.
Ponsel Arsenio menyala. Notifikasi. Bukan pesan. Notifikasi dari aplikasi yang baru ia install di server—server murah yang Dika setup sore tadi.
SinarRoute: WARNING. Anomali terdeteksi pada node pengiriman #003.
Arsenio mengernyit. Membuka laptop.
Node #003. Itu rute Lintang Raya-Alvora City. Rute yang baru saja ia test.
Ia klik detail.
Log menunjukkan: pukul 10.47 malam, ada akses dari IP address tidak dikenal ke server SinarRoute. Bukan Dika. Bukan Arsenio. Bukan Rudi.
Seseorang masuk. Dan mereka tidak hanya melihat. Mereka mengubah.
Parameter routing untuk rute Lintang Raya-Alvora City telah diubah. Biaya pengiriman naik dari 1.500 menjadi 15.000 per kilo. Estimasi waktu berubah dari 2 hari menjadi 14 hari. Dan satu baris baru ditambahkan di bawah:
ROUTE LOCKED. AUTHORIZATION REQUIRED: KHARISMA LOGISTICS DIVISION.
Arsenio menatap layar.
Jari-jarinya membeku di atas keyboard.
Enam jam. SinarRoute baru hidup enam jam. Dan dalam enam jam itu, seseorang sudah menemukan server-nya, masuk, dan menanamkan blokade.
Bukan hack biasa. Bukan script kiddie. Ini targeted. Ini sengaja. Ini seseorang yang tahu apa yang Arsenio bangun sebelum Arsenio sendiri selesai membangunnya.
Ia membangunkan Rudi.
"Rud. RUD. Bangun."
"Hm—apa—jam berapa—"
"Seseorang udah masuk ke server kita. Seseorang yang punya akses ke sistem Kharisma Group."
Rudi langsung bangun. Kantuknya menguap seperti uap kopi tertiup angin.
"Apa maksud lo?"
Arsenio menunjuk layar. "Lihat. Seseorang lock rute kita. Dan lihat timestamp-nya. Mereka masuk jam sepuluh lewat empat puluh tujuh. Dika baru deploy server jam empat sore. Empat jam, Rud. Empat jam dari deploy sampai mereka nemuin kita."
Rudi menelan ludah. "Lo pikir mereka punya orang di dalam? Di tim kita?"
"Gue nggak tahu. Tapi satu hal yang gue tahu pasti." Arsenio menutup laptop. Perlahan. Seperti menutup peti. "Mereka nggak cuma ngawasin pelabuhan. Mereka ngawasin semua. Setiap server. Setiap rute. Setiap anak dua puluh tahun yang cukup bodoh buat berpikir dia bisa bikin jalur sendiri."
Ponselnya bergetar. Pesan ketiga. Nomor tidak dikenal.
"SinarRoute. Nama yang bagus, Arsenio. Sayang sekali. Semua cahaya butuh izin untuk menyala di negara ini. Dan izin itu bukan milikmu."
Di bawah kalimat itu, satu foto lagi.
Kali ini bukan loker.
Kali ini foto Dika Prasetyo. Di warung kopi. Siang tadi. Diambil dari sudut yang tidak mungkin tanpa seseorang berdiri tepat di sebelah meja mereka.
Seseorang ada di sana. Saat Arsenio merekrut Dika. Saat mereka test prototipe pertama.
Seseorang melihat semuanya.
Dan Arsenio tidak pernah menyadarinya.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal ketiga. Kecepatan bukan hanya soal siapa yang lebih cepat membangun. Kecepatan juga soal siapa yang lebih cepat menghancurkan. Dan orang yang menghancurkan selalu punya keuntungan: mereka tidak perlu membangun apa pun. Mereka hanya perlu menunggu kau selesai, lalu merobohkan. Aku belum selesai. Tapi mereka sudah mulai merobohkan. Dan itu berarti aku harus membangun lebih cepat dari tangan mereka yang menghancurkan. Atau aku harus membangun sesuatu yang tidak bisa mereka lihat sampai terlambat."