Arus berbalik dalam semalam.
Pagi setelah gala, Arsenio bangun dengan ponsel yang bergetar tanpa henti. Empat puluh tujuh panggilan tidak terjawab. Seratus dua belas pesan. Dan di layar utama ponselnya, satu notifikasi berita yang membuat darahnya membeku:
"SKANDAL STARTUP: SinarRoute Diduga Eksploitasi Nelayan Lintang Raya – Dokumen Internal Bocor!"
Sumbernya: Kharisma Media Network. Tiga belas portal berita sekaligus. Dalam waktu tiga jam, berita itu sudah ada di mana-mana.
"Bro. BRO. Lo udah lihat?"
Rudi mendobrak masuk ke kamar asrama. Wajahnya pucat. Di tangannya, tablet pinjaman yang layarnya menampilkan headline yang sama.
"Gue udah lihat." Arsenio duduk di tepi kasur. Suaranya datar. Terlalu datar.
"Mereka bilang SinarRoute eksploitasi nelayan. Mereka bilang lo beli ikan di bawah harga pasar. Mereka bilang Pak Soleh dan teman-temannya dipaksa kontrak eksklusif dengan syarat yang merugikan." Rudi menggeser layar. "Dan mereka punya dokumen, Nio. Dokumen yang kelihatan kayak kontrak resmi SinarRoute. Ada tanda tangan lo."
Arsenio mengambil tablet itu. Membaca. Jari-jarinya dingin.
Dokumen itu palsu. Ia tahu itu. Kontrak asli SinarRoute tidak pernah punya klausul eksklusivitas. Tidak pernah ada syarat yang merugikan nelayan. Ia menulis sendiri setiap klausulnya.
Tapi dokumen palsu itu terlihat nyata. Kop surat. Format. Tanda tangan yang nyaris identik dengan miliknya.
"Siapa yang bisa bikin dokumen kayak gini?" bisik Arsenio.
"Itu yang bikin gue takut, bro." Rudi duduk di sebelahnya. "Karena format kontrak itu... itu format yang cuma ada di sistem internal kita. Yang Dika bikin. Yang cuma bisa diakses sama orang-orang di tim ini."
Hening.
Arsenio menatap layar. Menatap dokumen palsu itu. Dan satu pikiran mulai merayap—pikiran yang tidak ia inginkan, tapi tidak bisa ia hentikan.
Seseorang di dalam tim membocorkan template kontrak ke Kharisma.
Pukul sembilan pagi. Warung kopi belakang asrama.
Maya datang dengan hoodie dan topi—kebiasaan lama yang belum bisa ia lepas, meskipun shadowban-nya sudah dicabut minggu lalu. Di belakangnya, Nia dan Sasha. Tommy tidak bisa hadir; ia sedang di Serayu Haven mengurus konten travel yang baru mulai jalan.
"Oke. Spill," kata Maya. Langsung. Tanpa basa-basi. "Gue udah baca beritanya. Tiga belas portal. Semua di bawah Kharisma Media. Ini bukan berita. Ini operasi."
"Gue tahu," kata Arsenio. "Dan gue nggak tahu cara lawan tiga belas portal sekaligus."
Maya mendengus. "Lo nggak perlu lawan tiga belas portal. Lo perlu bikin tiga belas portal itu nggak relevan."
"Gimana?"
Maya mengeluarkan ponselnya. Mengetuk layar beberapa kali. Menyerahkannya ke Arsenio.
"Gue punya jaringan. Tiga ratus influencer kecil—bukan yang jutaan followers, tapi yang lima puluh ribu sampai dua ratus ribu. Loyal. Komunitas mereka real. Dan mereka semua udah gue brief tadi pagi sebelum gue ke sini."
Arsenio mengernyit. "Lo brief mereka jam berapa?"
"Jam enam. Gue bangun jam lima, baca berita, dan langsung gerak." Maya mengangkat bahu. "Welcome to the life of someone who's been cancelled once. Lo belajar cepat."
Rudi mengangkat alis. "Dan mereka mau bantu? Gratis?"
"Nggak gratis. Gue kasih mereka cerita. Cerita tentang Pak Soleh. Tentang nelayan yang akhirnya bisa jual ikan langsung ke kota. Tentang SinarRoute yang baru tiga bulan tapi udah kirim dua ton ikan." Maya menatap Arsenio. "Lo kasih gue akses ke Pak Soleh. Gue bikin video. Bukan klarifikasi. Bukan pembelaan. Testimoni. Pak Soleh ngomong sendiri. Tanpa script. Tanpa gue. Kamera jalan, dia ngomong apa yang dia mau ngomong."
Arsenio berpikir. Lima detik.
"Kalau Pak Soleh nggak mau?"
"Dia mau." Maya tersenyum. Tipis. "Gue udah telepon dia jam tujuh pagi. Dia bilang—dan gue quote—'Kalau ada orang yang nanya gue soal Arsenio, gue bakal bilang yang beneran. Karena yang beneran itu nggak pernah bikin gue malu.'"
Arsenio menelan ludah. Tidak bicara.
"Oke," kata Maya. "Nia, lo pegang distribusi. Konten Pak Soleh harus tayang di minimal lima puluh akun dalam enam jam. Sasha, lo pegang narasi kuliner—bikin angle soal ikan kering Lintang Raya yang masuk restoran Alvora City. Buat orang ngomongin produknya, bukan skandalnya."
Nia mengangguk. "Gue bisa. Tapi Maya—tiga belas portal itu punya reach yang nggak bisa kita tandingin. Mereka punya budget iklan. Mereka punya algoritma."
"Makanya kita nggak tandingin reach. Kita tandingin kepercayaan." Maya menatap mereka semua. "Orang nggak percaya portal berita lagi. Orang percaya orang. Dan kita punya orang-orang yang nggak punya alasan buat bohong."
Pukul dua siang. Video Pak Soleh tayang.
Empat menit. Tanpa editing berlebihan. Pak Soleh berdiri di dermaganya, keranjang ikan di belakangnya, matahari sore menerangi wajah tuanya yang penuh keriput.
"Nama saya Soleh. Empat puluh tahun saya melaut. Dan sampai tiga bulan lalu, saya nggak pernah tahu berapa harga ikan saya di kota. Saya cuma tahu harga yang dikasih tengkulak. Lima belas ribu. Selalu lima belas ribu."
"Anak ini—Arsenio—dia datang ke pasar. Dia beli ikan saya dua puluh dua ribu lima ratus. Cash. Di muka. Dan dia bilang, 'Pak, bulan depan saya balik buat seratus kilo.' Saya pikir dia bohong. Semua orang di pasar ini bohong."
"Tapi dia balik. Dan bulan depannya, dia balik lagi. Dan sekarang ikan saya ada di restoran di Alvora City. Restoran yang dulu cuma bisa saya lihat dari luar."
"Kalau ada yang bilang anak ini eksploitasi saya—saya nggak tahu apa artinya kata itu. Yang saya tahu: dia nggak pernah bohong ke saya. Dan di dunia ini, itu udah cukup buat saya."
Video itu tidak viral dalam satu jam. Tidak viral dalam tiga jam. Tapi di jam keenam, sesuatu terjadi. Orang-orang mulai membagikan. Bukan karena algoritma. Karena mereka mau.
Dan di kolom komentar, narasi mulai bergeser.
"Wait, ini Pak Soleh yang di berita Kharisma itu? Kok beda banget ceritanya?"
"Dokumen yang bocor itu suspicious sih. Formatnya terlalu rapi buat kontrak nelayan."
"Kharisma Media owned by siapa ya? Kenapa semua beritanya barengan tayang jam 6 pagi?"
Pukul delapan malam. Kamar asrama.
Maya duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. Lelah. Tapi matanya berbinar—binar yang sama saat ia melihat angka viewers naik di live pertamanya.
"Tujuh puluh tiga persen sentimen udah balik," kata Dika dari laptopnya. Ia menulis script kecil untuk scrape komentar. "Dari yang tadinya delapan puluh persen negatif, sekarang tinggal dua puluh tujuh. Dan trennya turun terus."
"Berapa lama sampai mereka lupa?" tanya Rudi.
"Mereka nggak akan lupa," kata Maya. "Tapi mereka akan berhenti peduli. Itu beda. Dan itu cukup."
Arsenio tidak ikut bicara. Ia duduk di sudut, menatap layar ponselnya. Membaca ulang dokumen palsu yang bocor.
"Nio?" Maya menatapnya. "Lo kenapa?"
"Gue lagi mikir."
"Soal apa?"
Arsenio mengangkat ponsel. Menunjukkan dokumen itu. "Lo lihat format ini? Kop surat. Nomor kontrak. Layout tabel. Ini format yang Dika bikin bulan lalu. Format yang cuma ada di server internal kita."
Dika mendongak. "Iya. Kenapa?"
"Berapa orang yang punya akses ke server internal?"
Dika berpikir. "Gue. Lo. Rudi. Dan... Maya, karena lo butuh akses buat fitur community."
"Empat orang," kata Arsenio. "Dan dokumen ini bocor ke Kharisma. Yang berarti satu dari empat orang ini—"
"Nio." Maya berdiri. Suaranya tajam. "Lo nggak boleh mulai ini. Lo nggak boleh nge-suspect orang-orang yang udah ngebantu lo dari nol."
"Gue nggak nge-suspect. Gue menghitung." Arsenio menatapnya. "Kalau gue nggak tahu siapa yang bocor, gue nggak bisa nutup lubangnya. Dan kalau lubangnya nggak ditutup, Kharisma bisa dapet semua. Data user. Data transaksi. Rencana ekspansi. Semuanya."
Hening.
Rudi mengangkat tangan. "Oke. Gue ngerti. Tapi lo nggak bisa nuduh tanpa bukti. Dan lo nggak bisa investigasi tanpa bikin semua orang di ruangan ini ngerasa lo nggak percaya mereka."
"Gue tahu." Arsenio menutup ponsel. "Makanya gue nggak akan nanya siapa pun. Gue akan pasang umpan."
Maya mengernyit. "Umpan kayak gimana?"
Arsenio tidak menjawab. Ia mengambil laptop. Membuka editor teks. Dan mulai mengetik.
"Gue bikin tiga dokumen palsu," katanya sambil mengetik. "Tiga rencana ekspansi yang beda. Gue kasih ke tiga orang yang beda. Masing-masing dapet versi yang beda. Dan gue tunggu lihat versi mana yang bocor ke Kharisma."
Rudi menelan ludah. "Bro. Lo mau jebak orang-orang lo sendiri?"
"Gue mau tahu." Arsenio tidak mendongak dari layar. "Dan orang yang nggak bocorin apa-apa nggak punya alasan buat takut."
Di sudut ruangan, Dika menatap layar laptopnya sendiri. Jari-jarinya berhenti mengetik. Ada sesuatu di wajahnya—sesuatu yang cepat hilang. Terlalu cepat.
Maya melihatnya.
Ia tidak bilang apa-apa. Tapi ia mencatat.
Pukul sebelas malam. Semua orang sudah pulang. Arsenio sendirian di kamar asrama.
Ponselnya bergetar. Pesan kedelapan. Nomor tidak dikenal.
"Kampanye hari ini bukan serangan pertama mereka padamu. Dan bukan yang terakhir. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu, Arsenio. Dokumen yang bocor hari ini tidak dibuat oleh Kharisma. Kharisma hanya menyebarkannya. Dokumen itu dibuat oleh seseorang yang sangat dekat denganmu. Seseorang yang makan di meja yang sama denganmu. Seseorang yang kamu percaya."
Arsenio menatap layar.
"Dan sebelum kamu bertanya—tidak, saya tidak akan memberitahu siapa. Karena kalau kamu tahu sekarang, kamu tidak akan pernah belajar membedakan siapa yang benar-benar ada di sisimu dan siapa yang hanya berpura-pura."
"Tapi saya beri satu petunjuk. Orang itu ada di ruangan saat kamu membuat rencana umpan malam ini."
Arsenio membaca kalimat itu dua kali.
Orang itu ada di ruangan saat kamu membuat rencana umpan malam ini.
Di ruangan itu tadi ada lima orang.
Arsenio. Rudi. Maya. Dika.
Dan satu orang yang tidak Arsenio sadari keberadaannya—karena orang itu hanya muncul di layar laptop Dika. Melalui video call yang tidak pernah dimatikan.
Seseorang yang seharusnya tidak ada di sana.
Seseorang yang tidak diundang.
Dan di pojok bawah layar laptop Dika yang belum dimatikan, kalau Arsenio melihat lebih dekat, ada satu ikon kecil yang berkedip.
Ikon rekaman.
Yang sudah berjalan sejak pukul enam sore.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal kesembilan. Media bukan cermin. Media adalah palu. Dan palu bisa dipakai untuk membangun atau menghancurkan—tergantung siapa yang memegangnya. Kharisma memegang palu itu hari ini. Tapi aku belajar satu hal: palu tidak bisa menghancurkan sesuatu yang tidak terlihat. Dan mulai hari ini, aku akan membangun di tempat yang tidak bisa mereka lihat. Sampai terlambat bagi mereka untuk mengangkat palu lagi."