"Lo nggak bisa pakai kaos itu ke gala, Nio."
Rudi berdiri di ambang pintu kamar asrama, menyilangkan tangan di d**a. Matanya menatap Arsenio dari atas sampai bawah dengan ekspresi seseorang yang baru saja melihat temannya mencoba masuk restoran bintang lima pakai sandal jepit.
"Gue nggak punya jas, Rud."
"Gue tahu. Makanya gue pinjemin." Rudi mengangkat kantong plastik besar. Di dalamnya, kemeja putih dan celana hitam yang sedikit terlalu panjang di bagian kaki. "Ini punya sepupu gue. Dia kerja di hotel Alvora City. Ukurannya mirip. Kurang lebih."
Arsenio mengambil kemeja itu. Kainnya halus. Berbeda dari semua yang pernah ia sentuh.
"Gue nggak bisa pakai dasi."
"Gue juga nggak bisa. Makanya kita skip dasi. Lo pakai kemeja, kancing atas dibuka satu. Effortless. Kayak lo memang nggak butuh dasi buat masuk ke ruangan penuh orang kaya."
"Gue memang nggak butuh dasi buat masuk."
Rudi menunjuknya. "Nah. That energy. Pegang itu. Lo masuk ke gala Serayu Haven bukan sebagai tamu. Lo masuk sebagai orang yang diundang buat ngomong. Beda."
Arsenio menatap kemeja di tangannya. Di cermin kecil yang retak di sudut kamar, ia bisa melihat bayangannya sendiri. Kurus. Mata yang terlalu tajam untuk usia dua puluh. Tangan yang masih ada bekas kapalan dari mengangkat karung ikan.
"Rud."
"Apa."
"Gue nggak siap buat ini."
Rudi diam sejenak. Lalu ia masuk ke kamar, mengambil kemeja dari tangan Arsenio, dan mulai mengancingkannya sendiri. Gerakannya kasar tapi hati-hati—gerakan seseorang yang sudah terlalu sering membantu sahabatnya tanpa diminta.
"Lo nggak pernah siap buat apa pun, Nio. Lo nggak siap waktu jual buku. Lo nggak siap waktu kirim ikan pakai kapal tengah malam. Lo nggak siap waktu bikin SinarRoute di laptop kentang. Tapi lo jalan. Dan itu yang bikin lo beda." Rudi mengancingkan kancing terakhir. "Sekarang lo jalan lagi."
Serayu Haven berbeda di malam hari.
Kalau siang hari kota ini berbau pasar tradisional dan kopi tubruk, malam hari Serayu Haven berubah menjadi sesuatu yang lain. Lentera-lentera kertas merah menggantung di sepanjang jalan utama. Warung-warung kopi berubah jadi bar kecil dengan musik keroncong live. Dan di pusat kota, di halaman bekas balai adat yang kini jadi venue acara elite, lampu-lampu kristal menerangi ratusan tamu berjas dan gaun mahal.
Gala Tahunan Serayu Haven. Acara yang mempertemukan seluruh elite bisnis Negara C. Dari direktur bank sampai pemilik tambang. Dari investor asing sampai pejabat kementerian. Semua di satu ruangan. Semua tersenyum. Semua menghitung.
Arsenio berdiri di depan pintu masuk. Kemeja putih tanpa dasi. Sepatu Rudi yang sedikit kebesaran. Dan di saku jas pinjaman, kartu undangan yang Bimo Santoso kirim tadi pagi: "Anda diundang sebagai pembicara tamu. Topik: Logistik dan Kemandirian Ekonomi Lokal."
"Lo yakin mau masuk?" Rudi di sampingnya. Juga pakai kemeja pinjaman, tapi yang ini ada noda kopi di kerah yang tidak bisa hilang.
"Gue nggak yakin. Tapi gue nggak punya pilihan."
"Itu literally kalimat lo setiap minggu. Gue mulai ngerasa 'nggak punya pilihan' itu nama tengah lo."
Arsenio tersenyum. Tipis. Lalu melangkah masuk.
Di dalam, udara berbau parfum mahal dan anggur putih. Arsenio bergerak di antara kerumunan dengan punggung tegak—postur yang ia latih di depan cermin asrama selama dua puluh menit tadi. Bahu ke belakang. d**a sedikit keluar. Jalan pelan.
"Hana di sana," bisik Rudi. "Sudut kiri. Blazer hitam. Sama tiga orang direksi KiranaTech."
Arsenio melihatnya. Hana berdiri dengan segelas wine yang tidak diminum. Posturnya sempurna. Senyumnya sopan tapi kosong—senyum yang dipasang untuk acara resmi dan dilepas begitu masuk mobil.
Mata mereka bertemu.
Hana mengangkat gelas. Sedikit. Nyaris tidak terlihat. Pengakuan. Bukan sambutan. Bukan keramahan. Hanya: aku lihat kamu di sini.
Arsenio mengangguk. Sekali. Lalu bergerak lebih dalam ke ruangan.
"Bro," Rudi menarik lengannya. "Lo lihat siapa di sudut kanan?"
Arsenio menoleh.
Dan darahnya berhenti.
Victor H. Lang.
Lima puluh tahun. Jas hitam yang pas seperti kulit kedua. Rambut perak di pelipis. Dan senyum—senyum yang tidak pernah mencapai mata. Ia berdiri dikelilingi lima, enam orang yang tertawa terlalu keras untuk setiap kalimat yang ia ucapkan. Di tangannya, segelas whisky yang tidak pernah berkurang.
"Jangan natap lama," bisik Rudi. "Dia nggak tahu lo siapa. Jangan bikin dia tahu."
"Gue harus bikin dia tahu, Rud. Gue di sini buat ngomong di depan semua orang. Termasuk dia."
Rudi menelan ludah. "Oke. Tapi kalau dia mulai ngomong sama lo, jangan panik. Jangan—"
"Selamat malam."
Suara itu datang dari belakang. Dalam. Teratur. Seperti suara seseorang yang terbiasa didengarkan tanpa harus berteriak.
Arsenio berbalik.
Victor H. Lang berdiri dua meter di depannya. Lebih tinggi dari yang Arsenio bayangkan. Lebih dekat. Dan matanya—matanya menatap Arsenio dengan ketelitian seorang ahli bedah yang memilih di mana mengiris.
"Kamu Arsenio, kan?" Victor mengulurkan tangan. "Yang punya SinarRoute. Yang kirim ikan kering dari Lintang Raya pakai kapal nelayan tengah malam."
Arsenio menjabat tangan itu. Genggamannya kuat. Tidak terlalu keras. Tidak terlalu lembut. Terukur.
"Selamat malam, Pak Lang."
"Panggil Victor saja." Senyum itu lagi. Tidak mencapai mata. "Saya dengar kamu diundang bicara malam ini. Logistik dan kemandirian ekonomi. Topik yang... ambisius untuk anak dua puluh tahun."
"Gue nggak pilih topiknya. Gue cuma ngomongin apa yang gue tahu."
"Dan apa yang kamu tahu?" Victor menyesap whisky-nya. "Kamu tahu apa tentang ekonomi negara ini yang tidak bisa saya baca di laporan tahunan?"
Arsenio menatapnya. Lima detik. Tidak mundur. Tidak menunduk.
"Gue tahu apa yang nggak ada di laporan tahunan lo. Gue tahu berapa harga ikan di Lintang Raya jam lima subuh. Gue tahu berapa lama nelayan nunggu buat dapet pembeli. Gue tahu berapa banyak yang hilang di antara dermaga dan pasar karena orang-orang di tengah yang ambil terlalu banyak." Arsenio berhenti. "Lo punya laporan. Gue punya bau amis di tangan."
Hening.
Victor menatapnya. Lama. Lalu tertawa. Pelan. Terkontrol.
"Menarik," katanya. "Sangat menarik. Kita bicara lagi nanti." Ia berbalik. Lalu berhenti. Tidak menoleh. "Oh. Dan Arsenio—hati-hati di panggung nanti. Orang-orang di ruangan ini tidak suka mendengar kebenaran. Mereka lebih suka mendengar apa yang ingin mereka dengar."
Lalu ia pergi. Jas hitamnya menghilang di antara kerumunan.
Rudi menghela napas. "Bro. Lo literally baru aja roast Victor H. Lang di depan muka dia."
"Gue nggak roast. Gue jawab."
"Sama aja. Dan sekarang dia tahu nama lo. Dia tahu muka lo. Dia tahu lo ada. Dan itu, bro—" Rudi menelan ludah, "—itu bukan hal yang lo mau."
Pukul sembilan malam. Panggung utama.
MC menyebut namanya. Arsenio naik. Tiga ratus pasang mata menatapnya. Kemeja putih tanpa dasi di antara lautan jas Armani dan gaun desainer.
Ia berdiri di depan mikrofon. Tanpa slide. Tanpa catatan. Hanya satu hal di kepalanya: bau amis di tangan.
"Selamat malam. Nama saya Arsenio. Tanpa nama belakang. Dan tiga bulan lalu, saya masih angkat karung ikan di Pelabuhan Sinar Utara."
Bisikan di ruangan. Beberapa tawa kecil. Beberapa tatapan meremehkan.
"Tiga bulan lalu, saya jual buku-buku saya buat modal tujuh juta dua ratus ribu. Dan dengan uang itu, saya beli lima puluh kilo ikan kering dari seorang nelayan bernama Pak Soleh yang sudah empat puluh tahun melaut tapi tidak pernah tahu harga ikannya di kota sebelah."
Hening.
"Saya berdiri di sini bukan untuk bilang bahwa saya berhasil. Saya belum berhasil. SinarRoute baru punya lima puluh user. Server-nya baru di-hack dua minggu lalu. Dan saya masih tidur di asrama yang kipas anginnya bunyi kayak helikopter."
Tawa. Kali ini tawa yang hangat.
"Tapi saya berdiri di sini untuk bilang satu hal. Bahwa di negara ini, ada orang-orang yang tidak bisa masuk ke ruangan ini. Bukan karena mereka tidak pintar. Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena jalannya tidak ada. Dan selama jalannya tidak ada, mereka akan tetap di dermaga. Menunggu. Selalu menunggu."
Arsenio menatap ruangan. Di sudut kiri, Hana menatapnya. Matanya berbeda dari tadi. Tidak kosong. Hidup.
"Yang saya bangun bukan platform. Yang saya bangun adalah jalan. Dan jalan itu bukan milik saya. Jalan itu milik Pak Soleh. Milik nelayan yang nggak punya akses. Milik pedagang yang nggak punya koneksi. Dan kalau orang-orang di ruangan ini mau membantu membangun jalan itu—bukan karena kasihan, tapi karena masuk akal secara bisnis—maka saya di sini untuk bicara."
Ia turun dari panggung.
Tepuk tangan. Tidak berdiri. Tidak meriah. Tapi ada. Dan di ruangan yang penuh orang yang menghitung setiap detik dan setiap sen, tepuk tangan itu berarti sesuatu.
Setelah turun, Hana menunggu di dekat pintu keluar.
"Kamu tahu kamu baru saja bikin setengah ruangan ini nggak nyaman?" katanya. Datar. Tapi ada sesuatu di sudut bibirnya. Nyaris senyum.
"Gue tahu. Itu tujuannya."
"Dan kamu tahu Victor nggak akan lupa satu kata pun yang kamu bilang tadi?"
"Gue harap dia nggak lupa."
Hana menatapnya. Lama. Lalu ia mengambil gelas wine-nya—yang akhirnya ia minum, seteguk—dan berkata pelan:
"Kamu berbeda dari semua orang di ruangan ini."
"Gue nggak punya jas yang pas. Itu bikin gue berbeda."
Hana tertawa. Kecil. Pertama kalinya Arsenio mendengar ia tertawa tanpa dipaksakan. Dan tawa itu—di tengah lampu kristal dan parfum mahal dan tiga ratus orang yang menghitung—terdengar seperti satu-satunya hal yang nyata.
Di kejauhan, Victor H. Lang mengangkat gelas ke arah Arsenio. Dari seberang ruangan. Senyumnya masih tidak mencapai mata.
Dan di samping Victor, berdiri seorang wanita yang Arsenio belum pernah lihat. Tiga puluh tahun. Rambut pendek. Senyum yang lebih tajam dari pisau.
Nara.
Dan ia sedang menatap Arsenio. Bukan dengan kekaguman. Bukan dengan ketertarikan.
Dengan kalkulasi.
Ponsel Arsenio bergetar. Pesan ketujuh. Nomor tidak dikenal.
"Kamu baru saja masuk ke arena, Arsenio. Dan di arena ini, semua orang tersenyum sebelum mereka menikam. Nikmati malamnya. Karena besok, mereka mulai menghitung berapa harga kepalamu."
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal kedelapan. Dunia elite bukan dunia yang berbeda. Dunia elite adalah dunia yang sama—hanya dengan karpet yang lebih tebal dan pisau yang lebih tajam. Aku masuk ke ruangan itu dengan bau amis di tangan. Dan aku tidak akan mencucinya. Karena bau itu adalah bukti bahwa aku datang dari tempat yang nyata. Dan tempat yang nyata selalu lebih kuat dari tempat yang dibangun dari kebohongan."