Dermaga Tujuh. Pukul sebelas malam.
Gerimis lagi. Lintang Raya memang tidak bisa lepas dari gerimis—seolah langit kota ini punya hutang air yang tidak pernah lunas. Arsenio berdiri di depan loker 44, jaketnya basah di bahu, napasnya membentuk uap tipis di udara dingin.
Loker itu ada di sana. Sama seperti tiga hari lalu. Gembok baru. Inisial V.L. tergores di permukaan logam.
Tapi kali ini berbeda.
Kali ini, ada kunci di bawah loker. Ditempel dengan selotip bening. Kunci kecil, perak, dengan angka 44 di kepalanya.
Arsenio jongkok. Mengambil kunci itu. Menatapnya.
Pesan kelima bilang: buka malam ini. Sebelum mereka memindahkannya lagi.
Pesan keempat bilang: loker itu sudah kosong.
Dua pesan. Dua kebenaran yang saling membunuh. Dan Arsenio berdiri di tengahnya, memegang kunci, tidak tahu mana yang nyata.
Ia memasukkan kunci ke gembok. Memutar.
Klik.
Gembok terbuka.
Arsenio menarik pintu loker. Perlahan. Seperti membuka kotak yang mungkin berisi bom. Mungkin berisi jawaban. Mungkin berisi keduanya.
Di dalam: sebuah amplop. Bukan amplop cokelat seperti yang Laksmi berikan. Amplop putih. Bersih. Baru. Dan di atasnya, satu nama ditulis tangan:
"Untuk Arsenio. Dari Bimo."
"Bro. BRO. Lo lagi di mana? Gue telepon tiga kali nggak diangkat."
Rudi. Pukul sebelas lewat dua puluh. Arsenio menekan speakerphone sambil berjalan menjauh dari loker.
"Gue di Dermaga Tujuh."
"DI DERMAGA TUJUH?! JAM SEBELAS MALEM?! Lo literally ngajak maut—"
"Gue nemu sesuatu, Rud. Amplop. Dari Bimo Santoso."
Hening di ujung sana.
"...Bimo? Investor diaspora yang transfer tiga ratus juta tadi siang?"
"Iya. Dan gue nggak ngerti gimana amplop ini bisa ada di loker yang gue kira udah kosong. Dan gue nggak ngerti gimana Bimo bisa tahu soal loker ini."
"Bro. Itu red flag. Massive red flag. Literally segede bendera Kharisma Group."
"Gue tahu." Arsenio membuka amplop. Di dalamnya: selembar kertas dengan kop surat resmi—Bimo Santoso. Santoso Ventures. Singapura. Dan di bawahnya, satu paragraf.
"Arsenio. Saya tahu tentang loker ini karena saya yang menaruhnya di sana, dua jam lalu. Saya tahu tentang ibumu karena saya mengenalnya. Bukan kenal secara personal—tapi saya tahu di mana dia terakhir kali terlihat, dua puluh tahun lalu. Kalau kamu mau tahu lebih, temui saya besok. Bukan di kantor Kharisma. Di tempat netral. Warung Kopi Serayu Haven. Jam sepuluh pagi. Datang sendiri. Dan bawa Hana Kirana."
Arsenio membaca dua kali. Tiga kali.
"Rud."
"Apa."
"Bimo bilang dia kenal nyokap gue."
Hening. Lebih panjang kali ini.
"...Nio. Lo nggak bisa percaya ini. Lo nggak bisa. Kemarin lo ketemu dia di kantor Kharisma. Dan sekarang dia bilang dia kenal nyokap lo? Di loker yang katanya Victor yang sewa? Bro, ini nggak masuk akal."
"Gue tahu nggak masuk akal."
"Terus lo mau pergi?"
Arsenio menatap kertas itu. Menatap kalimat terakhir. Bawa Hana Kirana.
Kenapa Hana? Kenapa bukan Rudi? Bukan Maya? Bukan Dika?
Karena Bimo tahu sesuatu tentang KiranaTech. Tentang utang yang baru lunas. Tentang koneksi antara Hana dan sesuatu yang lebih besar dari empat ratus juta.
"Gue pergi, Rud."
"Nio—"
"Gue pergi. Tapi kalau gue nggak kirim pesan dalam satu jam setelah gue sampai di Serayu Haven, lo hubungi Bagas. Lo bawa Maya dan Dika keluar dari asrama. Kalian ke rumah Laksmi."
"...Bro. Gue nggak suka ini."
"Gue juga nggak suka ini. Tapi gue nggak punya kemewahan buat nunggu. Setiap hari gue nunggu, orang-orang di sekitar gue makin terekspos. Maya baru mulai bangun lagi. Dr. Lintang baru tanda tangan. Hana baru bebas dari utang. Kalau gue nggak gerak, Victor yang gerak. Dan Victor nggak nunggu."
Rudi menghela napas. Panjang. Berat. "Oke. Fine. Gue standby. Tapi Nio—kalau ini jebakan, lo lari. Lo nggak hero. Lo nggak main character di film action. Lo anak dua puluh tahun yang belum bisa numbuhin jenggot dan baru kemarin jual buku buat modal. Lo lari."
Arsenio tersenyum. Kecil. Lelah. "Deal."
Pukul sepuluh pagi. Warung Kopi Serayu Haven.
Warung ini berbeda dari warung kopi lain di Serayu Haven. Lebih tua. Lebih kecil. Dindingnya penuh foto hitam-putih—pasar malam tahun '70-an, kapal nelayan yang sudah tidak ada lagi, wajah-wajah yang sudah lama pergi. Di sudut, radio tua memutar lagu keroncong pelan.
Arsenio tiba pukul sembilan lewat lima puluh. Duduk di meja belakang. Punggung menghadap dinding. Posisi yang Rudi ajarkan: kalau lo nggak bisa lihat pintu, lo nggak bisa lihat siapa yang masuk.
Pukul sepuluh tepat, Hana Kirana masuk.
Blazer abu-abu hari ini. Rambut diikat lebih rendah dari biasanya. Dan matanya—matanya berbeda. Bukan lagi mata CEO yang dikepung debt collector. Mata seseorang yang baru saja bangun dari mimpi buruk dan belum yakin apakah ini masih mimpi.
Ia duduk. Tanpa bicara. Menatap Arsenio.
"Lo yang suruh gue datang?" tanyanya. Datar. Tapi tidak dingin. Tidak sedingin pertama kali mereka bertemu di Pasar Sentral.
"Bukan gue. Bimo Santoso."
Hana mengernyit. "Bimo. Yang bayar utang gue."
"Iya. Dan yang ngirim gue ke sini. Dan yang bilang dia kenal nyokap gue."
Hana menatapnya. Lama. "Ibumu?"
"Gue belum cerita soal itu ke lo, kan?"
"Nggak. Tapi gue denger dari Rudi. Sedikit." Hana menyilangkan tangan. "Dan sekarang orang yang bayar utang gue bilang dia kenal ibumu dan mau kita berdua di sini. Lo nggak ngerasa ini... diatur?"
"Gue ngerasa ini diatur." Arsenio jujur. "Tapi gue juga ngerasa kalau gue nggak datang, gue nggak akan pernah tahu. Dan gue udah terlalu lama nggak tahu."
Hana mengangguk. Pelan. "Oke. Gue di sini. Bukan karena gue percaya Bimo. Tapi karena gue percaya lo. Dan itu beda. Dan itu bikin gue lebih takut, honestly."
Arsenio membuka mulut untuk menjawab—
"Selamat pagi."
Bimo Santoso muncul dari balik pintu belakang warung. Bukan dari depan. Dari belakang. Seperti ia sudah ada di sini sebelum mereka datang.
Lima puluh tahun. Kemeja batik. Kacamata baca di saku. Senyum yang hangat tapi matanya—matanya menghitung. Selalu menghitung.
"Maaf bikin kalian nunggu. Saya sudah di sini sejak jam sembilan." Ia duduk. Memesan kopi. Menatap mereka berdua bergantian. "Hana. Arsenio. Terima kasih sudah datang."
"Langsung aja, Pak," kata Arsenio. "Lo bilang lo kenal nyokap gue. Gimana?"
Bimo menyesap kopinya. Pelan. Tidak terburu-buru.
"Ibumu namanya Ratna. Ratna Wulandari. Dua puluh tahun lalu, dia bekerja di Pelabuhan Sinar Utara. Bukan sebagai nelayan. Sebagai akuntan. Dia pegang buku keuangan Dermaga Tujuh sampai Dermaga Dua belas. Semua transaksi. Semua catatan. Semua siapa bayar siapa."
Arsenio menelan ludah. "Dan?"
"Dan dua puluh tahun lalu, dia menemukan sesuatu di buku itu. Sesuatu yang tidak seharusnya dia temukan. Dan setelah itu—" Bimo meletakkan cangkir, "—dia hilang. Bukan meninggal. Hilang. Dan semua catatan yang dia pegang ikut hilang. Kecuali satu halaman. Satu halaman yang dia sembunyikan di loker 44 sebelum mereka datang untuknya."
"Halaman apa?"
Bimo menatap Arsenio. Dan untuk pertama kalinya, senyumnya hilang.
"Daftar pembayaran. Dari Kharisma Group ke tujuh pejabat pelabuhan. Tujuh nama. Tujuh jumlah. Dan satu nama di paling atas yang menerima uang paling banyak."
"Victor."
"Bukan." Bimo menggeleng. "Bukan Victor. Victor yang membayar. Nama di paling atas—yang menerima—adalah orang yang seharusnya melindungi pelabuhan ini. Orang yang seharusnya ada di pihak rakyat."
Hana mencondongkan tubuh. "Siapa?"
Bimo menatap mereka berdua. Lama.
"Nama itu ada di halaman yang Ratna sembunyikan. Dan halaman itu—" ia berhenti. Menelan ludah. "—halaman itu ada di dalam amplop yang kamu buka tadi malam, Arsenio. Di loker 44."
Arsenio membeku.
Amplop putih. Yang ia buka tadi malam. Yang ia baca di telepon dengan Rudi. Yang berisi surat dari Bimo.
Tidak ada halaman lain. Tidak ada daftar. Hanya surat.
"Lo bilang ada halaman di amplop itu," kata Arsenio perlahan. "Gue cuma nemu surat lo. Nggak ada halaman lain."
Bimo mengernyit. "Itu tidak mungkin. Saya menaruh dua dokumen di amplop itu. Surat saya, dan halaman daftar pembayaran. Saya menaruhnya sendiri. Pukul sembilan malam."
"Dan gue buka pukul sebelas. Isinya cuma surat lo."
Hening.
Hana menatap Arsenio. Menatap Bimo. Menatap Arsenio lagi.
"Seseorang ambil halaman itu," katanya pelan. "Di antara jam sembilan dan jam sebelas. Seseorang buka loker itu dan ambil halamannya."
Bimo mengangguk. Wajahnya pucat. "Dan hanya satu orang yang punya kunci cadangan loker-loker di Dermaga Tujuh."
"Victor," kata Arsenio.
"Bukan. Victor punya kunci. Tapi dia tidak akan datang sendiri. Dia akan kirim orangnya." Bimo menatap mereka. "Dan itu berarti satu dari dua hal. Entah orang Victor sudah mengambil halaman itu dan sekarang tahu apa yang ada di dalamnya. Atau—"
"Atau ada orang lain yang lebih dulu sampai," potong Hana. "Seseorang yang bukan Victor. Seseorang yang tidak mau daftar itu jatuh ke tangan siapa pun."
Bimo menatapnya. "Nona Kirana, kenapa Anda bilang begitu?"
Hana tidak menjawab. Ia menatap Arsenio. Dan di matanya, ada sesuatu yang baru. Bukan ketakutan. Bukan kecurigaan.
Pengenalan.
"Karena," kata Hana pelan, "dua puluh tahun lalu, sebelum perusahaan keluarga saya hampir bangkrut, sebelum Kharisma membeli utang kami—ayah saya pernah bilang satu hal. Dia bilang: 'Hana, ada satu dokumen di pelabuhan ini yang bisa menjatuhkan semua orang. Dan ada satu orang yang menjaga dokumen itu dengan nyawanya.'"
"Siapa orangnya?" tanya Arsenio.
Hana menelan ludah.
"Ayah saya nggak bilang namanya. Dia cuma bilang: 'Dia perempuan. Dan dia punya anak.'"
Hening.
Radio keroncong masih bermain pelan di sudut warung. Kopi Bimo sudah dingin. Dan di antara mereka bertiga, satu kebenaran mulai terbentuk—perlahan, seperti foto yang dicuci di ruang gelap.
Ratna Wulandari. Ibu Arsenio. Akuntan pelabuhan. Penjaga satu halaman yang bisa menjatuhkan semua orang.
Dan seseorang—dua puluh tahun lalu—menghilangkannya untuk melindungi halaman itu.
Atau untuk melindungi Arsenio.
Ponsel Arsenio bergetar. Pesan keenam. Nomor tidak dikenal.
Kali ini hanya satu kalimat. Tanpa foto. Tanpa audio. Tanpa koordinat.
"Halaman itu ada padaku, Arsenio. Dan aku akan memberikannya padamu. Tapi tidak hari ini. Tidak besok. Kamu harus membangun cukup kekuatan untuk melindunginya. Karena halaman itu bukan hanya daftar nama. Halaman itu adalah alasan ibumu masih bernapas."
Arsenio menatap layar.
Lalu mendongak. Menatap Hana. Menatap Bimo.
"Gue butuh waktu," katanya.
Bimo mengangguk. "Berapa lama?"
Arsenio berpikir. Lima detik. Sepuluh.
"Enam bulan," katanya. "Kasih gue enam bulan buat bikin mereka nggak bisa nyentuh gue. Dan gue akan ambil halaman itu."
Bimo menatapnya. Lama. Lalu tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hangat. Bangga.
"Deal."
Hana tidak bicara. Tapi di bawah meja, tangannya terulur. Menyentuh pergelangan tangan Arsenio. Sekali. Ringan. Seperti sentuhan yang tidak seharusnya terjadi tapi tidak bisa dihindari.
Arsenio tidak menarik tangan.
Dan di luar warung, gerimis berhenti. Matahari Serayu Haven muncul dari balik awan—keemasan, hangat, menerangi pasar malam yang baru mulai menata lapak.
Tapi di sudut jalan, di balik gerobak sate yang belum dinyalakan, seseorang berdiri. Mengamati warung kopi itu. Mengamati tiga orang di dalamnya.
Dan di tangannya, satu halaman kertas. Kusut. Tua. Penuh angka dan nama.
Halaman itu.
Masih ada.
Dan orang yang memegangnya tersenyum. Tipis. Dingin.
Lalu berbalik. Menghilang ke dalam kerumunan pasar.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal ketujuh. Kepercayaan bukan diberikan. Kepercayaan dipinjamkan. Dan setiap pinjaman punya jatuh tempo. Bimo meminjamkan kepercayaannya hari ini. Hana meminjamkan kepercayaannya tadi malam. Dr. Lintang meminjamkan kepercayaannya kemarin. Dan suatu hari, mereka semua akan menagih. Dan aku harus bisa membayar. Karena kalau aku tidak bisa membayar kepercayaan—aku tidak berbeda dari Victor. Dan aku menolak menjadi dia."