VitaCare Hospital Group. Lantai empat. Bangsal pediatri.
Bau antiseptik. Lampu neon yang terlalu putih. Dan suara—suara yang tidak pernah bisa Arsenio bayangkan sampai ia mendengarnya sendiri: tangis anak kecil yang terlalu lemah untuk berteriak.
Arsenio tidak seharusnya ada di sini.
Pertemuannya dengan Bimo Santoso di Kharisma Capital berjalan aneh—bukan jebakan, bukan ancaman. Bimo bicara empat puluh menit, mengajukan tujuh pertanyaan, dan akhirnya bilang: "Saya invest tiga ratus juta. Tapi saya mau lihat uang itu dipakai untuk sesuatu yang bisa saya tunjukkan ke istri saya tanpa malu."
Arsenio menjawab: "Logistik medis. Alat kesehatan untuk rumah sakit yang nggak mampu beli."
Bimo mengangguk. Transfer masuk dua jam kemudian.
Dan sekarang Arsenio berdiri di koridor VitaCare, membawa proposal donasi yang ia tulis di kereta tadi, mencari seseorang yang namanya disebut Bimo: Dr. Lintang Ayu. Pediatri. Satu-satunya dokter di rumah sakit ini yang masih menolak suap dari vendor.
"Lo nggak bisa masuk ke ruang perawatan tanpa izin."
Suara itu datang dari belakang. Datar. Dingin. Seperti air es yang dituangkan perlahan ke tengkuk.
Arsenio berbalik.
Dr. Lintang Ayu. Dua puluh tujuh tahun. Jas putih yang sedikit terlalu besar di bahu. Stetoskop melingkar di leher seperti kalung yang tidak pernah dilepas. Rambut hitam diikat asal—bukan asal yang stylish, asal yang berarti tidak ada waktu. Dan matanya—
Matanya menatap Arsenio seperti menatap bakteri di bawah mikroskop. Tanpa emosi. Tanpa rasa ingin tahu. Hanya penilaian.
"Gue Arsenio. Gue—"
"Saya tidak peduli siapa kamu. Bangsal ini untuk pasien dan keluarga pasien. Kalau kamu bukan salah satunya, keluar."
"Gue bawa alat medis. Donasi. Dari investor yang—"
"Alat medis masuk lewat logistik rumah sakit, bukan lewat orang asing yang berdiri di koridor bangsal pediatri tanpa appointment." Dr. Lintang tidak menaikkan suara. Tidak perlu. Nada datarnya lebih tajam dari teriakan. "Sekarang keluar. Ada pasien yang harus saya periksa."
Ia berbalik. Jas putihnya berkibar sedikit. Langkahnya cepat—langkah seseorang yang sudah menghitung berapa detik yang terbuang untuk percakapan ini dan memutuskan itu terlalu banyak.
Arsenio tidak bergerak.
"Dr. Lintang."
Langkahnya berhenti. Tidak berbalik.
"Gue nggak mau jualan alat ke lo. Gue mau ngasih. Gratis. Tiga set monitor vital anak, dua nebulizer portabel, dan satu pulse oximeter. Semua baru. Semua bersertifikat. Dan gue nggak minta apa-apa kecuali lo pasang di bangsal ini dan pakai buat pasien lo."
Hening. Tiga detik. Lima detik.
Dr. Lintang berbalik. Perlahan. Dan kali ini, di balik semua lapisan es dan profesionalisme dan saya-tidak-punya-waktu-untuk-ini, ada sesuatu yang lain.
Kewaspadaan.
"Gratis," ulangnya. Datar. "Tidak ada yang gratis di dunia ini. Siapa yang bayar? Dan apa maunya?"
"Investor namanya Bimo Santoso. Diaspora Singapura. Dia nggak minta apa-apa. Dia cuma mau uangnya dipakai buat sesuatu yang beneran." Arsenio mengeluarkan proposal dari tasnya. Kertasnya lecek. Ia menulisnya di kereta. "Ini detailnya. Spesifikasi alat, sertifikat, jadwal pengiriman. Gue cuma butuh lo tanda tangan penerimaan."
Dr. Lintang tidak mengambil proposal itu. Ia menatap Arsenio. Lama. Menilai. Mengukur.
"Kamu tahu kenapa saya tanya 'apa maunya'?" katanya akhirnya. Suaranya masih datar, tapi lebih pelan sekarang. Lebih manusia. "Karena tiga bulan lalu, vendor alat kesehatan datang ke sini. Bilang 'donasi'. Gratis. Ternyata di balik donasi itu ada kontrak eksklusif lima tahun. Rumah sakit ini dipaksa beli semua consumable dari mereka. Harga tiga kali lipat. Dan pasien yang bayar."
Arsenio mengangguk. "Gue tahu sistemnya rusak."
"Kamu tahu?" Dr. Lintang mengangkat alis. "Kamu tahu bagaimana rasanya harus bilang ke ibu pasien bahwa anaknya nggak bisa dapat nebulizer karena rumah sakit nggak punya budget? Kamu tahu bagaimana rasanya nulis resep obat yang kamu tahu nggak bisa ditebus keluarga pasien karena harganya lebih dari gaji ayahnya sebulan?"
"Gue nggak tahu itu, Dok. Gue nggak akan pura-pura tahu." Arsenio menatapnya lurus. "Yang gue tahu adalah gue punya alat yang lo butuh, dan gue nggak mau alat itu numpuk di gudang karena lo terlalu skeptis buat terima."
Hening.
Dr. Lintang mengambil proposal itu. Membuka. Membaca. Jari-jarinya bergerak cepat—mata terlatih yang sudah membaca ratusan laporan medis.
"Spesifikasi monitor vital ini..." Ia berhenti. Mengernyit. "Ini model yang sama dengan yang VitaCare pusat pakai di cabang Alvora City. Yang harganya empat puluh juta per unit."
"Iya."
"Dan kamu bilang ini gratis."
"Iya."
Dr. Lintang menutup proposal. Menatap Arsenio. Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang bukan penilaian. Bukan kecurigaan.
Lelah.
Lelah yang sangat dalam. Lelah yang sudah menumpuk berbulan-bulan, bertahun-tahun. Lelah seseorang yang setiap hari bertarung melawan sistem yang tidak peduli apakah pasien hidup atau mati, selama margin keuntungan tetap hijau.
"Ikut saya," katanya. Berbalik. "Kantor saya. Lima menit. Kalau dalam lima menit kamu nggak bisa meyakinkan saya bahwa ini bukan jebakan, kamu keluar dan tidak kembali."
"Deal."
Kantor Dr. Lintang kecil. Meja penuh kertas. Foto seorang anak kecil—lima tahun, mungkin enam—di sudut meja. Senyum lebar. Pipi gembul. Di belakang foto itu, obat-obatan. Banyak obat.
Arsenio duduk. Dr. Lintang tetap berdiri.
"Nama kamu Arsenio. Tanpa nama belakang."
"Iya."
"Kamu bukan dari perusahaan alat kesehatan."
"Bukan. Gue bikin platform logistik. SinarRoute."
Dr. Lintang mengernyit. "Logistik. Dan kamu donasi alat medis."
"Gue donasi karena gue bisa. Dan karena Bimo Santoso mau uangnya dipakai buat sesuatu yang nggak bikin dia malu." Arsenio mencondongkan tubuh. "Dok, gue nggak mau buang waktu lo. Lo punya pasien. Gue punya alat. Lo butuh alat. Gue butuh lo tanda tangan. Selesai."
Dr. Lintang menatapnya. Lalu duduk. Perlahan. Seperti seseorang yang kakinya baru saja menyerah.
"Kamu tahu kenapa bangsal ini kekurangan alat?" tanyanya. Bukan bertanya. Menceritakan.
"Gue bisa tebak. Budget."
"Bukan cuma budget." Dr. Lintang membuka laci meja. Mengeluarkan sebuah map. Tipis. Kusut. "VitaCare pusat memotong anggaran cabang Lintang Raya tiga puluh persen bulan lalu. Alasannya 'restrukturisasi'. Tapi di waktu yang sama, mereka buka cabang baru di Alvora City dengan investasi dua puluh miliar."
Arsenio mengambil map itu. Membaca. Angka-angka. Pemotongan. Realokasi.
"Dan lo nggak bisa ngelawan karena lo cuma dokter. Bukan manajemen."
Dr. Lintang tertawa. Pendek. Kering. "Saya bisa ngelawan. Saya sudah ngelawan. Tiga kali. Surat resmi. Rapat direksi. Bahkan saya ancam resign." Ia menatap Arsenio. "Dan tahu apa yang mereka bilang? Mereka bilang, 'Dr. Lintang, kalau kamu resign, siapa yang jaga bangsal pediatri? Kamu satu-satunya spesialis di sini.'"
"Dan lo nggak bisa pergi karena kalau lo pergi, pasien lo nggak punya siapa-siapa."
Dr. Lintang tidak menjawab. Tapi tangannya—yang terlipat di atas meja—sedikit bergetar.
Arsenio melihat foto anak kecil di sudut meja. "Anak lo?"
"Adik saya." Suara Dr. Lintang berubah. Lebih pelan. Lebih rapuh. "Namanya Bintang. Tujuh tahun. Leukemia. Dan obat yang dia butuh—" ia berhenti. Menelan ludah. "—obat yang dia butuh harganya delapan juta per bulan. Dan asuransi rumah sakit tempat saya kerja tidak cover karena katanya 'kondisi pre-existing'."
Hening.
Arsenio menatap wanita di depannya. Dua puluh tujuh tahun. Dokter. Satu-satunya spesialis pediatri di cabang ini. Dan adiknya sekarat karena sistem yang ia perjuangkan setiap hari tidak mau melindungi keluarganya sendiri.
"Dok," kata Arsenio pelan. "Gue nggak bisa fix sistem lo hari ini. Gue nggak bisa bikin VitaCare pusat peduli. Tapi gue bisa kasih lo tiga set monitor vital dan dua nebulizer yang lo nggak perlu beli pakai budget yang udah dipotong."
Dr. Lintang menatapnya.
"Dan gue bisa bantu lo cari akses ke obat Bintang."
Mata Dr. Lintang berubah. Bukan lagi es. Bukan lagi kewaspadaan. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Harapan.
"Kamu nggak kenal saya," katanya. Suaranya nyaris berbisik. "Kamu nggak punya alasan buat—"
"Gue punya alasan." Arsenio berdiri. "Gue punya alasan yang sama dengan alasan gue bantu Maya. Alasan yang sama dengan alasan gue jual buku gue buat modal pertama. Karena kalau gue lewat di depan orang yang butuh bantuan dan gue bisa bantu tapi gue nggak bantu—maka gue nggak beda sama orang-orang yang bikin sistem ini rusak."
Dr. Lintang menatapnya. Lama. Sangat lama.
Lalu ia mengambil proposal itu. Membuka halaman terakhir. Tempat tanda tangan.
Ia menandatangani.
Tangannya tidak bergetar lagi.
"Alat dikirim kapan?" tanyanya. Kembali profesional. Kembali datar. Tapi ada sesuatu di bawahnya sekarang. Sesuatu yang hangat.
"Tiga hari. Gue urus logistiknya sendiri."
"Bagus." Dr. Lintang berdiri. Mengulurkan tangan. "Saya Dr. Lintang Ayu. Dan sebelum kamu pergi—satu hal."
Arsenio menjabat tangannya. "Ya?"
"Kalau ini jebakan. Kalau di balik donasi ini ada kontrak tersembunyi, ada agenda, ada apa pun—" Dr. Lintang menatapnya. Dan matanya, untuk pertama kalinya, tidak dingin. Tajam. "—saya akan pastikan kamu menyesal dengan cara yang sangat klinis."
Arsenio tersenyum. "Gue percaya."
Ia keluar dari kantor Dr. Lintang pukul empat sore. Koridor bangsal pediatri masih berbau antiseptik. Tapi sekarang terdengar berbeda. Lebih manusiawi. Lebih mungkin.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rudi.
"Bro. Hana baru telepon. Utangnya udah lunas. BIMO TRANSFER LANGSUNG KE REKENING KREDITUR HANA. Hana nggak tahu lo yang arrange. Dia cuma tahu utangnya ilang. Dan dia literally nangis di telepon, bro. HANA KIRANA NANGIS."
Arsenio membaca. Menghela napas.
Satu masalah selesai.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan kedua. Nomor tidak dikenal. Pesan kelima.
"Kamu mulai membangun jaringan, Arsenio. Logistik. Media. Kesehatan. Tiga pilar. Bagus. Tapi kamu lupa satu hal. Pilar tanpa fondasi akan runtuh. Dan fondasimu—keluargamu—masih terkubur di tempat yang belum kamu gali."
Di bawah kalimat itu, satu koordinat GPS.
Dan satu kalimat terakhir:
"Dermaga Tujuh. Loker 44. Buka malam ini. Sebelum mereka memindahkannya lagi."
Arsenio menatap layar.
Loker 44. Yang terakhir ia lihat kosong. Yang fotonya dikirim orang tak dikenal tiga hari lalu.
Tapi pesan ini bilang belum dipindahkan. Bilang masih ada.
Siapa yang benar? Pesan keempat yang bilang loker itu kosong? Atau pesan kelima yang bilang masih ada?
Dan siapa yang mengirim semua ini?
Arsenio memasukkan ponsel ke saku. Mulai berjalan.
Di belakangnya, dari balik pintu bangsal pediatri, Dr. Lintang berdiri. Mengawasi punggungnya menjauh. Stetoskop masih di leher. Foto Bintang masih di meja.
Dan di tangannya, proposal yang baru ditandatangani. Di halaman terakhir, di bawah tanda tangannya, ada satu hal yang tidak Arsenio perhatikan saat ia membaca tadi.
Satu catatan kecil. Tulisan tangan Dr. Lintang. Di sudut bawah.
"Kalau kamu bisa bantu Bintang, saya akan bantu kamu dengan apa pun. Apa pun."
Tiga kata terakhir itu digarisbawahi. Dua kali.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal keenam. Ada dua jenis orang yang membangun kerajaan. Yang pertama membangun dengan uang—mereka membeli loyalitas, membeli waktu, membeli diam. Yang kedua membangun dengan kepercayaan—mereka memberi sebelum meminta, mereka hadir sebelum diminta. Aku memilih yang kedua. Bukan karena aku lebih baik. Tapi karena yang pertama bisa dibeli ulang oleh orang yang punya lebih banyak uang. Dan Victor H. Lang punya lebih banyak uang dari siapa pun. Yang kedua tidak bisa dibeli. Karena kepercayaan bukan transaksi. Keputusan."