Empat belas jam. Itu yang tersisa dari tenggat utang Hana Kirana.
Arsenio tahu itu. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa menyelamatkan Hana dengan tangan kosong. Empat ratus juta bukan angka yang bisa ia sentuh. Yang bisa ia sentuh adalah narasi. Dan narasi, di dunia yang Maya Sari kuasai, adalah mata uang yang lebih kuat dari rupiah.
Pukul tujuh pagi. Kamar asrama. Dika masih di depan laptop—mata merah, tiga kaleng energy drink kosong di lantai. Maya duduk bersila di kasur Arsenio, hoodie masih melekat, tapi matanya sudah hidup. Berbeda dari kemarin. Ada arah di sana sekarang.
"Oke. Spill the plan, Nio," kata Maya. "Gue punya waktu sampai siang buat bikin konten. Setelah itu, kalau algoritma Kharisma masih nge-block, konten gue masuk ke void dan kita semua literally buang waktu."
"Nggak masuk ke void," kata Arsenio. "Karena gue nggak mau lo post di platform lama."
Maya mengernyit. "Terus di mana?"
"SinarRoute. Fitur community. Dika udah bypass lock-nya jam tiga pagi." Arsenio menoleh ke Dika. "Udah stabil?"
Dika mengangkat jempol tanpa menoleh. "Stabil. Tapi kalau mereka detect lagi, gue nggak bisa jamin bertahan lebih dari enam jam."
"Enam jam cukup." Arsenio kembali ke Maya. "Gue nggak mau lo bikin klarifikasi, Maya. Klarifikasi itu defensif. Lo bilang 'gue nggak salah', orang denger 'gue panik'. Gue mau lo bikin sesuatu yang beda."
"Kayak gimana?"
Arsenio mengambil kertas. Menulis satu kalimat besar:
"GUE BANGUN DARI NOL. LIVE. SEKARANG."
Maya membaca. Mengernyit. "Lo mau gue... live-streaming? Di tengah gue di-cancel?"
"Gue mau lo nggak ngomongin skandalnya. Gue mau lo ngomongin apa yang lo bangun. Lo datang ke sini. Lo lihat SinarRoute. Lo lihat Pak Soleh di Lintang Raya yang ikannya nggak bisa sampai ke kota karena tengkulak. Lo lihat nelayan yang nggak punya akses pasar. Dan lo bilang: ini yang gue kerjain sekarang. Ini yang gue bangun. Kalau lo mau ikut, ikut. Kalau nggak, fine. Gue tetep jalan."
Maya diam. Lama. Jari-jarinya mengetuk lutut. Satu. Dua. Tiga.
"Lo mau gue jadi aktivis?"
"Gue mau lo jadi manusia. Beda. Aktivis itu lo ngomong buat orang lain. Manusia itu lo ngomong buat diri sendiri dan kebetulan orang denger." Arsenio menatapnya. "Tiga juta followers lo nggak follow Maya Sari si influencer. Mereka follow Maya Sari yang ngomong apa adanya. Dan sekarang lo nggak punya apa-apa buat di-hide. Jadi ngomong apa adanya."
Maya menelan ludah. Mengangguk. Pelan. "Oke. Gue bikin. Tapi gue butuh lokasi. Gue butuh visual yang nggak terlihat kayak gue lagi ngomong dari kamar mandi."
"Gue punya lokasi," kata Rudi dari sudut. Ia sedang mengikat tali sepatu, siap berangkat. "Pasar Lintang Raya. Dermaga. Kapal-kapal nelayan. Lo mau visual yang real? Itu real. Nggak perlu filter. Nggak perlu ring light."
Maya menatap Rudi. "Lo serius mau bawa gue ke pasar ikan jam tujuh pagi?"
"Gue serius mau bawa lo ke tempat di mana lo bisa ngomong soal sesuatu yang beneran ada, bukan soal engagement dan brand deal." Rudi berdiri. "Lo pernah lihat ikan diangkat dari kapal jam lima subuh, Mbak?"
Maya terdiam.
"Nggak, kan? Nah. Itu konten lo."
Pukul sepuluh pagi. Pasar Lintang Raya.
Maya berdiri di tepi dermaga. Angin laut menerbangkan rambutnya. Di belakangnya, Pak Soleh dan tiga nelayan lain sedang menurunkan keranjang ikan dari kapal. Cahaya matahari pagi memantul di permukaan air—keemasan, hangat, nyata.
Tidak ada ring light. Tidak ada makeup artist. Hanya Maya, ponsel di tangan Rudi yang jadi kameramen dadakan, dan bau amis ikan yang tidak bisa ditutupi filter mana pun.
"Oke," bisik Maya ke Arsenio yang berdiri di luar frame. "Gue nervous. Gue literally nggak pernah bikin konten tanpa script."
"Bagus. Jangan di-script."
"Kalau gue ngomongnya jelek?"
"Berarti lo jujur. Dan jujur itu viral."
Maya menarik napas. Menatap lensa ponsel. Dan mulai bicara.
"Hai. Gue Maya. Dan sebelum lo skip video ini—gue tahu lo marah. Gue tahu lo kecewa. Gue tahu lo lihat berita itu dan lo pikir, oh, Maya Sari ternyata sama kayak yang lain. Dan gue nggak bakal bilang lo salah. Lo punya hak buat marah."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Tapi gue nggak bakal minta maaf karena gue nolak promosiin produk yang gue tahu palsu. Gue nggak bakal minta maaf karena gue bilang nggak ke orang yang punya duit lebih banyak dari gue. Dan gue nggak bakal minta maaf karena sekarang gue di sini—di pasar ikan, di dermaga, di tempat yang nggak punya WiFi stabil—karena gue lagi ngebantu bangun sesuatu yang beneran."
Ia menunjuk ke belakang. Pak Soleh mengangkat keranjang ikan. Tertawa ke kamera.
"Ini Pak Soleh. Enam puluh tahun. Nelayan. Dan sampai kemarin, ikannya nggak bisa sampai ke kota karena satu orang yang ngontrol semua jalur. Satu orang. Dan itu bukan fair. Itu bukan oke."
Maya kembali menatap lensa. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis.
"Gue nggak tahu apakah lo bakal percaya lagi. Gue nggak tahu apakah lo bakal follow lagi. Tapi gue tahu satu hal: gue nggak akan berhenti. Dan kalau lo mau lihat gue bangun—beneran bangun, dari nol, tanpa script, tanpa management, tanpa bullshit—lo bisa lihat di sini. Channel baru. Nama baru. Tapi gue tetap gue."
Rudi menekan tombol stop.
Hening.
Maya menurunkan tangan. Kakinya sedikit gemetar.
"Gimana?" tanyanya. Suaranya kecil. "Apa itu—"
"Itu sempurna," kata Arsenio. Dan ia bersungguh-sungguh.
Rudi mengangguk. "Bro, gue literally merinding. Dan gue nggak pernah merinding. Gue nggak punya kelenjar merinding."
Dika, yang menonton dari layar laptop di belakang: "Gue udah upload. Server stabil. Dan... oh. OH. Viewers pertama udah masuk. Lima. Sepuluh. Tiga puluh. Bro, ini naik."
Maya menatap layar. Angka di pojok berputar. Tiga puluh. Lima puluh. Seratus.
Dan kolom komentar mulai terisi. Bukan hate. Bukan spam.
"Maya? Ini beneran lo?"
"Gue kira lo udah hilang. Glad lo masih ada."
"Pak Soleh semangat banget wkwk. Gue mau beli ikannya."
"Ini bukan klarifikasi. Ini lebih dari klarifikasi. Ini... manusiawi."
Maya menatap komentar-komentar itu. Dan untuk kedua kalinya dalam empat hari, ia tertawa. Kali ini bukan tawa kecil yang dipaksakan. Tawa yang keluar. Yang berbunyi.
"Oke," katanya. Mengusap mata. "Kita belum selesai. Gue butuh jaringan. Gue butuh influencer lain yang mau amplify. Dan gue tahu siapa yang bisa bantu."
"Siapa?"
Maya tersenyum. Senyum yang berbeda dari semua senyum sebelumnya. Senyum seseorang yang punya rencana.
"Ada tiga orang. Ex-influencer yang juga di-cancel sama Kharisma Media dalam dua tahun terakhir. Mereka nggak punya platform. Nggak punya manajemen. Tapi mereka punya followers setia yang nggak bisa dihapus sama algoritma mana pun. Dan mereka marah."
"Lo bisa hubungi mereka?"
"Gue bisa lebih dari menghubungi. Gue bisa bikin mereka jadi partner. Sama kayak gue jadi partner lo." Maya menatap Arsenio. "Tapi gue butuh satu hal dari lo."
"Apa?"
"Gue butuh lo ngomong sama mereka. Bukan gue. Lo. Karena mereka nggak percaya sama influencer lagi. Mereka percaya sama orang yang bangun sesuatu dari nol. Dan itu lo, Arsenio. Lo yang jual ikan kering dari kapal tengah malam. Lo yang bikin platform di laptop kentang. Lo yang literally nggak punya apa-apa tapi tetap jalan."
Arsenio menatapnya. Lama.
"Lo mau gue jadi wajah?"
"Gue mau lo jadi bukti. Sama kayak lo bilang ke gue kemarin. Beda orang, prinsip yang sama."
Pukul dua siang. Video call. Tiga wajah di layar laptop Dika.
Nia (24, ex-beauty vlogger, di-blacklist setelah menolak review produk Kharisma Beauty). Tommy (27, ex-travel content creator, channel-nya di-takedown setelah liputan soal limbah pabrik Kharisma). Sasha (21, ex-food blogger, kontraknya diputus setelah posting soal monopoli distribusi pangan).
Maya membuka percakapan.
"Guys. Thanks udah mau join. Gue nggak bakal basa-basi. Lo semua tahu gue lagi di-cancel. Lo semua tahu kenapa. Dan lo semua pernah di posisi yang sama."
Nia di layar menyilangkan tangan. "Maya, gue nggak mau jadi bagian dari comeback campaign lo. Gue nggak—"
"Ini bukan comeback campaign," potong Arsenio. Ia masuk ke frame. Tiga pasang mata menatapnya. "Gue Arsenio. Gue nggak punya channel. Gue nggak punya followers. Gue punya platform logistik yang baru di-hack tiga hari lalu dan server-nya masih bau ikan kering."
Tommy mengangkat alis. "Lo siapa?"
"Orang yang lagi bangun sesuatu yang nggak bisa di-cancel. Karena bukan platform media. Bukan channel yang bisa di-takedown. Ini infrastruktur. Jalur pengiriman. Sistem yang bikin nelayan bisa jual langsung ke kota tanpa tengkulak. Dan gue butuh orang yang bisa ngomong soal ini ke dunia."
Sasha mencondongkan tubuh. "Lo mau kita jadi... apa? Brand ambassador?"
"Nggak. Gue nggak mau lo jual nama gue. Gue mau lo jual cerita lo sendiri. Cerita lo di-cancel. Cerita lo bangun lagi. Dan di tengah cerita itu, ada SinarRoute sebagai alat yang bikin lo bisa bangun. Bukan sebagai produk yang lo endors. Sebagai jalan yang lo pilih."
Hening di layar. Tiga wajah. Tiga pasang mata yang sudah terlalu sering dikecewakan.
Nia bicara duluan. "Dan kalau kita ikut, kita dapet apa?"
"Platform. Channel di SinarRoute yang nggak bisa di-shadowban karena bukan milik Kharisma. Dan persentase dari setiap transaksi yang lewat referral lo. Lo nggak dibayar buat ngomong. Lo dibayar karena lo bawa orang masuk."
Tommy mendengus. "Persentase dari startup yang belum punya user."
"Persentase dari startup yang dalam empat jam udah punya tiga ratus viewers di live pertama." Arsenio menunjuk ke layar Dika. Angka masih naik. Empat ratus. Lima ratus. "Dan itu baru Maya. Bayangin kalau berempat."
Hening lagi. Lebih panjang.
Lalu Sasha—yang paling muda, yang paling banyak kehilangan karena kontraknya diputus saat ia baru mulai—berkata pelan:
"Gue ikut. Gue nggak punya apa-apa lagi buat hilang."
Tommy mengangguk. "Gue juga. Tapi kalau ini scam, gue bikin video expose lo lebih jelek dari yang Kharisma bikin ke gue."
"Fair," kata Arsenio.
Semua mata ke Nia.
Nia diam. Sepuluh detik. Lima belas.
"...Gue ikut. Tapi gue pegang editorial gue sendiri. Nggak ada yang script gue."
"Deal," kata Maya. "Welcome to the mess."
Pukul enam sore. Kamar asrama.
Rudi masuk dengan dua kantong plastik berisi nasi goreng dan es teh.
"Bro. Update. Server SinarRoute stabil. Dika bilang kalau nggak ada serangan kedua, kita aman sampai besok." Ia melempar kantong nasi ke Arsenio. "Dan gue dapet telepon dari satu orang. Investor kecil. Namanya Bimo Santoso. Diaspora. Tinggal di Singapura. Bilang dia lihat live Maya dan mau ngomong."
Arsenio berhenti mengunyah. "Investor?"
"Iya. Bilang dia punya modal kecil. Lima ratus juta sampai satu miliar. Mau taruh di early stage. Tapi mau ketemu langsung."
Maya yang sedang duduk di lantai, menatap ponselnya—angka viewers sekarang sudah dua ribu—mendongak.
"Satu miliar," ulangnya. "Bro. Itu cukup buat bayar utang Hana dua kali."
Arsenio menatap Rudi. "Kapan dia mau ketemu?"
"Besok. Jam sepuluh. Di Alvora City. Tapi—" Rudi ragu. "—dia bilang dia mau ketemu di kantor Kharisma Capital. Lantai tiga puluh. Bilang dia lagi ada meeting di sana dan nggak bisa keluar."
Hening.
Maya menaruh ponselnya. "Di kantor Kharisma? Lo mau ketemu investor di sarang musuh?"
"Gue nggak punya pilihan," kata Arsenio pelan. "Dia yang punya duit. Dia yang nentuin lokasi. Dan kalau gue nggak datang, gue kehilangan satu-satunya jalan buat bayar utang Hana sebelum tenggat."
"Nio—"
"Gue tahu, Rud. Gue tahu ini bisa jadi jebakan. Gue tahu Victor bisa aja ada di lantai itu. Gue tahu." Arsenio menelan ludah. "Tapi Hana punya waktu sampai besok jam dua siang. Empat belas jam. Dan empat ratus juta nggak muncul dari langit."
Rudi menatapnya. Lalu mengangguk. Pelan. "Gue ikut."
"Nggak. Lo di sini. Jaga server. Jaga Maya. Kalau gue nggak balik dalam dua jam, lo hubungi Bagas dan kalian semua pindah."
Maya berdiri. "Gue nggak suka ini."
"Gue juga nggak suka ini. Tapi gue nggak punya opsi yang gue suka." Arsenio mengambil jaketnya. "Gue pergi sekarang. Prepare. Besok jam sepuluh."
Di ambang pintu, ia berhenti. Menoleh.
"Oh. Dan satu hal."
"Apa?"
"Kalau gue nggak balik—dan gue mean beneran nggak balik—video Maya yang tadi, jangan dihapus. Biarin tetap hidup. Biarin orang lihat bahwa ada orang-orang yang bangun dari nol dan nggak berhenti."
Maya menatapnya. "Lo nggak bakal nggak balik."
Arsenio tersenyum. Tipis. Lelah. Tapi nyata.
"Gue tahu. Tapi gue suka bikin contingency plan."
Ia keluar. Pintu tertutup.
Dan di dalam kamar, Maya menatap pintu yang baru tertutup itu. Lama.
"Rudi," katanya pelan.
"Hm?"
"Kalau dia nggak balik beneran... gue nggak tahu apa yang bakal gue lakuin."
Rudi tidak menjawab. Karena ia juga tidak tahu.
Dan di luar jendela, malam turun di Lintang Raya. Gelap. Sunyi. Dan di kejauhan, lampu-lampu Pelabuhan Sinar Utara berkedip seperti mata yang menghitung.
Menunggu.
Selalu menunggu.
Dari catatan harian Arsenio Pratama:
"Hari ini aku belajar hal kelima. Aliansi bukan soal siapa yang paling kuat. Aliansi adalah kumpulan orang-orang yang terlalu keras kepala untuk menyerah sendirian. Maya. Nia. Tommy. Sasha. Pak Soleh. Dika. Rudi. Mereka bukan tentaraku. Mereka bukan karyawanku. Mereka adalah bukti bahwa aku tidak gila—bahwa ada orang lain yang melihat dunia yang sama denganku dan memutuskan untuk tidak menutup mata. Dan besok, aku akan masuk ke sarang serigala untuk meminta uang. Dan aku akan keluar. Karena aku punya alasan untuk keluar."