Pukul dua dini hari, gardu induk Karangwetan Lama berbau seperti besi panas dan debu lama. Anjani Larasati menyukai bau itu. Bagi orang lain bau itu pertanda sesuatu mungkin akan terbakar; baginya itu bau tempat kerja, bau ayahnya, bau seluruh hidupnya yang dihabiskan di antara kabel dan koil.
Ia berjongkok di depan panel kontrol 20 kilovolt, senter kepala menyorot deretan rele proteksi yang catnya sudah mengelupas. Angka-angka di meter analog bergetar pelan, lebih tinggi dari yang seharusnya. Karangwetan Lama dibangun pada zaman ketika kota ini masih berdenyut dengan pabrik tekstil; sekarang separuh pabrik itu tinggal kerangka, tapi gardunya masih dipaksa bekerja seolah tak ada yang berubah.
"Beban malam ini gendut, Pak," katanya lewat radio. "Tegangan di feeder tiga naik terus."
Di seberang ruang, Pak Hadi menggumam. Lelaki itu sudah dua puluh tahun lebih lama dari Anjani di perusahaan, perutnya membuncit dan lututnya berderak setiap kali ia jongkok, tapi tangannya masih lebih cepat dari siapa pun saat membaca jaringan. "Trafo dua memang rewel sejak musim hujan. Ada rembesan di bushing. Sudah kulaporkan tiga kali. Kau tahu sendiri jawabannya."
Anjani tahu. Jawabannya selalu sama: tunggu anggaran. Tunggu peremajaan. Tunggu sampai sesuatu meledak, baru ada uang.
Ia berdiri, menyeka keringat dengan punggung tangan. Sarung tangannya bau karet dan oli. Di luar, kota tidur. Lampu jalan oranye memantul di genangan, dan di kejauhan suara mesin pengecoran masih berdetak, satu-satunya pabrik yang belum mati. Listrik mengalir lewat tubuh kota seperti darah lewat pembuluh yang menua, dan tugas Anjani malam itu cuma satu: menjaga supaya darah itu tidak berhenti sampai pagi.
Lalu angka di meter melonjak.
Ia melihatnya sepersekian detik sebelum mendengarnya. Jarum melompat ke ujung skala, dan dari dalam kubikel terdengar bunyi seperti minyak menggoreng, lalu seperti sobekan kain raksasa. Anjani sudah membuka mulut untuk berteriak ketika dunia berubah putih.
Tidak ada api dalam pengertian biasa. Yang muncul adalah cahaya, cahaya yang begitu padat sampai terasa seperti benda, melompat dari satu rel tembaga ke rel yang lain dalam lengkungan yang lebih panas dari permukaan matahari. Busur listrik. Hal yang setiap teknisi diajari untuk takuti lebih dari apa pun, hal yang bisa menguapkan tembaga dan melelehkan baja dalam waktu kurang dari satu kedipan.
Gelombang tekanannya melempar Pak Hadi ke dinding. Anjani merasakan panas itu menampar wajahnya seperti pintu oven yang dibuka tepat di hadapannya, dan instingnya menyuruhnya berbalik, tapi tubuhnya sudah terlambat. Busur itu menjangkaunya. Ia melihat lengannya sendiri diterangi dari dalam, urat-uratnya menyala seperti benang lampu, dan ia menunggu rasa sakit yang akan menjadi hal terakhir yang ia rasakan.
Rasa sakit itu datang. Tapi ia tidak mati.
Yang terjadi lebih aneh dari mati. Cahaya itu seperti masuk ke dalam tubuhnya, bukan menghancurkannya melainkan mengalir melaluinya, dan untuk satu saat yang panjang dan mengerikan ia merasa penuh, penuh sampai ke ujung-ujung jari, penuh seperti gelas yang diisi terus padahal sudah meluap. Telinganya berdenging. Bau rambut terbakar memenuhi hidungnya. Lalu busur itu padam sendiri, kubikel menghitam, dan seluruh gardu jatuh ke dalam gelap yang pekat.
Anjani terbanting ke lantai. Ia tidak ingat kapan jatuh. Lantai beton itu dingin di pipinya, dan ia berbaring di sana, mendengarkan jantungnya sendiri berdebar dengan ritme yang salah, terlalu cepat lalu terlalu lambat, seperti motor yang businya kotor.
"Pak Hadi." Suaranya keluar serak. "Pak Hadi!"
Erangan menjawabnya dari sudut. Syukurlah. Anjani memaksa dirinya bangun, dan saat itulah ia menyadari hal pertama yang tak bisa dijelaskannya. Tangannya kesemutan. Bukan kesemutan biasa orang yang ketindihan tidur, melainkan kesemutan yang berdenyut, hidup, seakan masih ada sesuatu yang mengalir di bawah kulitnya, mencari jalan keluar.
Ia menemukan Pak Hadi dengan diraba dalam gelap. Lengan kanan lelaki itu melepuh, kemejanya hangus di bahu, tapi ia bernapas dan masih bisa mengumpat, yang menurut pengalaman Anjani adalah pertanda baik. "Jangan gerak," katanya. "Saya hubungi unit. Saya cari kotak P3K."
"Kau..." Pak Hadi mengernyit menatapnya dalam temaram cahaya senter yang terlempar dan kini menyorot langit-langit. "Kau kena busurnya. Aku lihat. Kau ada di tengahnya."
"Saya nggak apa-apa, Pak."
"Tidak ada orang yang tidak apa-apa setelah kena itu." Suara tua itu bergetar. "Mestinya kau..."
Mestinya kau mati. Pak Hadi tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi keduanya mendengarnya menggantung di udara yang bau ozon dan plastik leleh.
Anjani tidak menjawab. Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam. Jam tangan tua pemberian ayahnya, satu-satunya benda mewah yang pernah lelaki itu miliki, casing logamnya kini melengkung dan kacanya retak berembun dari dalam. Logamnya hangat. Bukan hangat sisa panas busur. Hangat seperti benda yang baru dicabut dari setrika.
Ia menelan ludah, dan rasanya seperti menelan sesuatu yang berlistrik.
Di luar, ia bisa mendengar sirene mulai meraung, masih jauh, merangkak lewat gang-gang sempit Karangwetan. Seseorang pasti sudah melihat blackout di kawasan ini. Sebentar lagi tempat ini akan penuh orang dengan helm dan papan klip dan pertanyaan, dan Anjani tahu, dengan kepastian dingin yang muncul jauh sebelum ia bisa menjelaskan alasannya, bahwa ada hal yang baru saja terjadi pada tubuhnya yang tidak boleh ia ceritakan kepada siapa pun.
Ia melepas jam tangan yang meleleh itu dan menyelipkannya ke saku dada. Lalu ia mengambil senter, menegakkan punggung, dan mulai memberi tekanan pada luka Pak Hadi seperti yang diajarkan pelatihan, seolah malam ini cuma malam buruk biasa di gardu tua, seolah jari-jarinya tidak sedang bergetar pelan dengan sesuatu yang belum punya nama.