Tiga hari kemudian mereka menyuruh Anjani libur. Bukan kebaikan; itu prosedur. Siapa pun yang ada di gardu saat insiden harus diistirahatkan sampai tim investigasi selesai. Pak Hadi masih di rumah sakit dengan lengan diperban, dan Anjani disuruh pulang, beristirahat, menunggu dipanggil.
Masalahnya, beristirahat membutuhkan tubuh yang mau diam, dan tubuh Anjani tidak mau.
Rumah keluarganya berdiri di ujung Gang Mawar Tiga, sebuah rumah petak satu lantai yang dihimpit tembok tetangga di kiri-kanan, dengan bekas bengkel ayahnya yang sudah ditutup sejak setahun lalu menempel di belakang. Ibunya, Bu Tarmi, tinggal di kamar depan; adiknya, Bayu, mahasiswa semester akhir yang lebih sering di kampus daripada di rumah, tidur di kamar yang dulu juga kamar Anjani. Rumah itu sempit, hangat, dan penuh, dan biasanya Anjani menyukai keramaiannya. Tiga hari ini ia membencinya, karena setiap kali ia menyentuh sesuatu yang logam ia menahan napas.
Sudah ada tanda-tandanya. Gagang pintu kulkas yang mengeluarkan percikan kecil saat ia memegangnya, lebih besar dari sekadar listrik statis musim kemarau. Kran air yang membuat lengannya kesemutan. Ia berusaha meyakinkan dirinya itu cuma sarafnya yang masih kacau setelah kejutan, bahwa itu akan hilang. Dokter di klinik perusahaan sudah memeriksanya dan menyatakan ia luar biasa beruntung, tanpa luka bakar dalam, jantung normal di EKG. Anjani membiarkan dokter itu percaya begitu. Ia tidak bercerita tentang kesemutan yang tak kunjung hilang, atau tentang bagaimana kadang, di malam hari, ia bisa merasakan kabel di dalam dinding seperti orang merasakan angin.
Malam itu Bu Tarmi memintanya mengganti bohlam di dapur yang mati. Anjani naik bangku, melepas bohlam lama, dan saat tangannya menyentuh fitting logamnya, semuanya terjadi sekaligus.
Ia merasakan tarikan. Bukan tarikan otot, melainkan tarikan dari dalam, seperti haus yang tiba-tiba menjadi tak tertahankan, dan sebelum ia bisa berpikir untuk melawannya, sesuatu di dalam dirinya membuka dan menyedot. Lampu di seluruh rumah meredup, lalu mati. Ia mendengar Bu Tarmi memekik di ruang depan. Ia mendengar kipas angin melambat sampai berhenti. Dan ia merasakan, dengan kejelasan yang membuat perutnya mual, arus dari seluruh rumah mengalir ke dalam tubuhnya lewat ujung jari, mengisi dirinya kembali sampai penuh, sampai panas.
"Mati lampu lagi!" teriak Bu Tarmi. "Anjani, kau apakan?"
Anjani turun dari bangku dengan tangan gemetar. Tapi tarikan itu belum berhenti. Ia bisa merasakannya menjangkau lebih jauh sekarang, lewat kabel rumah, ke tiang di depan gang, ke jaringan. Lampu di rumah Pak RT sebelah meredup. Dan di seberang gang, di klinik bersalin kecil milik Bidan Sri yang buka dua puluh empat jam, lampu jendela yang biasanya menyala kuning hangat tiba-tiba padam.
Klinik itu. Ada orang di dalam sana. Selalu ada orang di dalam sana.
Kesadaran itu seperti air dingin disiram ke wajah Anjani. Ia menarik tangannya menjauh dari segala sesuatu, mengepalkannya di dada, dan dengan seluruh kehendaknya berusaha menutup keran yang baru saja terbuka di dalam tubuhnya. Tarikan itu melemah. Berhenti. Lampu klinik di seberang gang berkedip, lalu menyala lagi. Genset cadangan mereka pasti baru menyala, atau mungkin Anjani sendiri yang berhenti menyedot, ia tak yakin, dan ketidakyakinan itulah yang paling menakutkan.
Ia berdiri di dapur yang gelap, mengisi penuh dengan sesuatu yang tak ia minta, mendengar ibunya meraba-raba mencari korek dan lilin sambil menggerutu tentang PLN yang tak becus, dan untuk pertama kalinya sejak gardu, Anjani membiarkan dirinya benar-benar takut.
Karena ia mengerti sekarang. Bukan sarafnya yang kacau. Ini nyata. Tubuhnya telah menjadi sesuatu yang menyimpan dan menarik listrik, dan ia tidak tahu cara mematikannya.
Bayu pulang setengah jam kemudian, mendapati seisi rumah pakai lilin dan kakaknya duduk diam di kursi dapur. "Trafo gang kita jelek banget sih," gerutu Bayu sambil melempar tasnya. "Tadi sepanjang Mawar Tiga gelap. Tapi cuma blok kita, anehnya. Mbak nggak apa-apa? Mukanya pucat."
"Capek aja," kata Anjani. "Banyak kerjaan."
Bohong itu keluar mudah, dan ia membenci betapa mudahnya. Ia menatap tangannya sendiri di cahaya lilin. Tangan yang sama yang sejak kecil diajari ayahnya untuk menghormati listrik, untuk tidak pernah, tidak pernah menyentuh apa pun yang bertegangan tanpa memastikan dulu, untuk selalu menganggap setiap kabel hidup sampai terbukti mati. Seluruh hidupnya ia dilatih menjaga listrik tetap di balik dinding, jauh dari tubuh manusia, karena ia tahu persis apa yang dilakukan listrik pada tubuh manusia. Ia pernah melihat orang tersengat. Ia pernah melihat luka masuk dan luka keluar, lubang kecil yang rapi tempat arus menemukan jalan tercepat untuk menembus daging.
Sekarang jalan tercepat itu adalah dirinya.
"Mbak," panggil Bayu lagi, lebih pelan, memperhatikannya. "Beneran nggak apa-apa?"
Anjani memaksakan senyum. "Beneran. Tidurlah, kau ada kuliah pagi."
Malam itu ia tidak tidur. Ia berbaring memandang langit-langit, kedua tangan sengaja menjauh dari rangka besi ranjang, dan menghitung. Sebuah blok padam karena satu sentuhan tak sengaja. Berapa banyak rumah di satu blok. Berapa banyak kulkas berisi obat, berapa banyak alat bantu napas, berapa banyak orang tua yang takut gelap. Dan klinik itu, klinik yang lampunya nyaris ia matikan, tempat orang datang justru untuk dilahirkan.
Ia bukan penolong. Belum, mungkin tidak akan pernah. Saat ini ia adalah kebocoran berjalan, sebuah hubungan singkat yang mengenakan kulit manusia, dan satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah bahwa ia harus mengerti aturannya sebelum aturan itu membunuh orang lain untuknya.