Bengkel ayahnya sudah setahun terkunci, tapi kuncinya masih tergantung di paku yang sama. Anjani membuka gembok yang berkarat dan mendorong pintu seng yang menjerit di engselnya, dan bau lama itu menyambutnya: oli mesin, serbuk gerinda, kopi yang sudah lama mengering di gelas yang tak pernah sempat dicuci. Untuk sesaat ia berdiri di ambang, dan rindu menghantamnya keras, lalu ia menelannya seperti menelan segala hal lain dan masuk ke dalam.
Di sinilah ayahnya menghabiskan tiga puluh tahun menggulung ulang dinamo dan memperbaiki motor pompa untuk seisi kampung. Di sinilah Anjani belajar membaca koil sebelum ia bisa membaca buku dengan lancar. Kalau ada satu tempat di dunia di mana ia bisa mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya, tempat itu di sini, di antara meter dan multitester dan gulungan kawat tembaga yang masih tergantung rapi di dinding.
Ia memutuskan akan memperlakukan dirinya seperti ayahnya memperlakukan mesin asing: ukur, catat, jangan percaya tebakan. Ia mengeluarkan buku catatan dan pensil, lalu mulai bekerja.
Hal pertama yang ia uji adalah pelepasan. Ia mengambil bohlam kecil dua belas volt dari laci, memegang dua kabelnya, dan dengan hati-hati mencoba mendorong, bukan menarik, sesuatu keluar dari ujung jarinya. Butuh waktu lama sebelum ia menemukan rasanya. Seperti mengejan, seperti meludah, seperti melepaskan otot yang terlalu lama menegang. Bohlam itu menyala. Lalu, saat ia mendorong terlalu keras, filamen di dalamnya berkedip terang dan putus dengan bunyi tik kecil.
Ia mencatat: pelepasan bisa diatur, tapi kontrol kasar. Mudah berlebihan.
Hal kedua yang ia pelajari, dan ini yang membuatnya gemetar, adalah panas. Setiap kali ia melepas muatan dalam jumlah lumayan, titik kontak di ujung jarinya memanas. Bukan hangat. Panas, panas yang sungguhan, seperti memegang ujung solder yang baru dimatikan. Kulit di bantalan jarinya memerah dan satu kali, ketika ia ceroboh, melepuh kecil. Ia mengerti dengan jernih: tubuhnya konduktor, dan konduktor yang dialiri arus akan memanas. Tembaga pun memanas. Bedanya tembaga tidak punya saraf untuk merasakannya dan tidak punya protein yang menggumpal kalau terlalu panas. Tubuhnya punya.
Lalu ia menguji kapasitas, dan inilah penemuan yang paling penting.
Ia menghubungkan dirinya ke aki mobil bekas yang masih ada di pojok, sumber yang aman dan terbatas, dan membiarkan dirinya menarik. Ia bisa merasakan dirinya terisi, dan ia menghitung dalam hati sambil mengamati berapa lama ia bisa terus menyala melepaskannya kembali ke beban resistor yang ia rangkai. Hasilnya merendahkan hati. Ia bukan pembangkit. Ia bukan sumber tak terbatas. Ia kapasitor: ia menyimpan, lalu habis. Setelah beberapa pelepasan besar, ia kosong, dan saat kosong tubuhnya terasa lemas, dingin, gemetar, seperti orang yang gulanya turun. Untuk mengisi lagi ia harus menarik dari suatu tempat. Dan itulah inti seluruh kutukannya.
Ia mencatat baris yang akan ia baca berulang-ulang di malam-malam berikutnya: Aku tidak membuat listrik. Aku hanya memindahkannya. Setiap watt yang kupakai, kuambil dari orang lain.
Lalu ia menemukan satu pengecualian, dan itu satu-satunya kabar baik malam itu. Ketika ia menarik dari aki kecil atau dari deretan baterai bekas yang ia susun, lampu di bengkel tidak ikut padam. Ia menyedot dari sumber tertutup itu, bukan dari jaringan. Tapi kapasitas baterai-baterai itu kecil, jauh lebih kecil dari yang bisa ia ambil sekali sedot dari kabel dinding. Ia bisa mengisi diri tanpa memadamkan siapa pun, tapi hanya sedikit. Untuk muatan besar, satu-satunya sumber yang cukup cepat adalah jaringan itu sendiri, dan menarik dari jaringan berarti membuat orang lain gelap.
Di situ ia berhenti, pensil menggantung di atas kertas. Itu bukan sekadar masalah teknis. Itu pilihan yang akan ia hadapi berulang kali. Mengambil dari baterai dan tetap lemah, atau mengambil dari jaringan dan menghukum orang yang tidak bersalah. Ayahnya selalu berkata setiap perbaikan punya ongkos, dan tugas teknisi yang baik adalah tahu siapa yang membayar ongkos itu. Sekarang ongkosnya adalah listrik orang banyak, dan yang membayar tidak pernah ia yang memutuskan.
Ia beralih ke isolasi. Inilah bagian yang ia mengerti tanpa perlu eksperimen, karena ia sudah memakai alat pelindung sepanjang kariernya. Kalau tubuhnya bocor lewat titik kontak, maka titik kontak harus diisolasi. Ia membongkar sepasang sarung tangan tegangan tinggi milik perusahaan yang dulu ayahnya simpan, melapisinya, mengujinya. Saat memakainya, ia bisa menyentuh logam tanpa kebocoran tak sengaja. Lega itu hampir membuatnya menangis. Ia menambahkan sepatu bersol karet tebal, dan ia mendapati bahwa selama kaki dan tangannya terisolasi, ia bisa berjalan di antara manusia seperti orang biasa, tanpa risiko memadamkan dunia hanya karena bersandar di pagar.
Menjelang subuh ia menyelesaikan dua halaman penuh catatan, ditulis dengan tangan teknisi yang rapi dan tanpa basa-basi, seakan ia sedang mendokumentasikan kerusakan sebuah trafo, bukan dirinya sendiri. Ia membaca ulang dari atas. Menyimpan, terbatas. Melepas, kasar. Memanas, berbahaya. Mengisi dari jaringan, memadamkan; dari baterai, aman tapi kecil. Diisolasi, aman.
Ia menatap halaman itu lama-lama. Di dunia yang ditinggalkan ayahnya, mengerti sebuah mesin berarti tahu cara membuatnya bekerja dengan selamat. Tapi catatan ini tidak terasa seperti panduan menjalankan mesin. Ia terasa seperti daftar cara-cara dirinya bisa membunuh seseorang, termasuk dirinya sendiri. Ia menutup buku itu, mematikan lampu bengkel dengan saklar seperti orang normal, dan pulang lewat gang yang masih gelap, melewati klinik yang lampunya, malam ini, untungnya masih menyala.