Mereka memanggilnya kembali bekerja pada hari kesepuluh, dan kota seakan tidak sabar menunggunya. Pada hari ketiga belas, Gardu Distribusi Tujuh di kawasan pabrik meledak.
Anjani sampai di lokasi bersama tim pagi, dan dari jauh ia sudah tahu ada yang tidak beres. Bukan asapnya; gardu memang bisa terbakar, dan kawasan ini penuh instalasi tua yang menunggu giliran mati. Yang membuat tengkuknya meremang adalah pola hangusnya. Ia tahu bagaimana sebuah gardu mati karena tua. Ia sudah melihatnya puluhan kali: bushing yang merembes, isolator yang retak, beban yang dipaksa melampaui kemampuan sampai sesuatu menyerah perlahan. Mati karena tua punya tanda yang khas, kotor dan berantakan dan menyebar.
Gardu Tujuh tidak mati seperti itu. Gardu Tujuh mati dengan rapi.
Ia berjongkok di depan kubikel yang menghitam, mengabaikan teguran supervisor lapangan untuk tidak terlalu dekat, dan membaca puing seperti membaca kalimat. Titik lelehnya terpusat. Pengaman yang seharusnya memutus saat terjadi gangguan justru ditemukan dalam posisi yang salah, seakan sengaja dijepit agar tidak bekerja. Dan di salah satu terminal, di tempat yang hanya akan dilihat orang yang tahu persis ke mana harus melihat, ada bekas jepitan tang pada konduktor yang seharusnya mulus. Seseorang telah menyentuh tempat ini. Seseorang yang tahu rele mana yang harus dilumpuhkan supaya gangguan kecil berkembang menjadi ledakan, bukan dipadamkan otomatis seperti seharusnya.
Ini bukan kelelahan jaringan. Ini sabotase.
Anjani berdiri, mencabut sarung tangan kerjanya, dan mencari supervisor. Pak Darus, lelaki bertubuh kurus dengan wajah yang selalu kelihatan lelah, sedang menulis di papan klip. "Pak, ini bukan kecelakaan," katanya, langsung, karena ayahnya tidak pernah mengajarinya cara basa-basi. "Lihat posisi relenya. Lihat bekas di terminal A-tiga. Ada yang mengakali pengaman sebelum trafonya dibebani. Kalau dibiarkan otomatis, mestinya cuma trip, lampu sebentar padam, selesai. Ini diatur supaya meledak."
Pak Darus menatapnya lama. Lalu ia menarik napas, menurunkan papan klipnya, dan berkata dengan suara pelan yang membuat Anjani waspada. "Jani. Kau baru kembali kerja. Kau habis kena insiden besar. Aku ngerti kau masih tegang."
"Saya nggak tegang, Pak. Saya bisa baca puing."
"Kau bisa baca puing," Pak Darus mengulang. "Dan kau lihat apa yang ingin kau lihat. Instalasi ini dari tahun delapan puluhan. Sudah jauh lewat umurnya. Kita semua tahu peremajaannya mandek. Kalau aku tulis di laporan ini sabotase, kau tahu apa yang terjadi? Polisi, audit, media. Dan saat semua selesai, kesimpulannya tetap: gardu tua kelebihan beban. Karena itu yang paling masuk akal, dan itu yang ditunggu semua orang di atas untuk dengar."
Anjani membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia mengerti sekarang. Bukan bahwa Pak Darus tidak melihat. Mungkin ia melihat. Tapi melihat sabotase berarti pekerjaan, berarti pertanyaan, berarti seseorang harus bertanggung jawab, dan tidak ada satu pun dari itu yang ada anggarannya. Jauh lebih murah membiarkan gardu tua mati karena tua. Cerita itu sudah disetujui sebelum ledakannya terjadi.
"Berapa lama pulihnya?" tanya Pak Darus, sudah beralih, sudah selesai dengan urusan sabotase.
"Tiga blok pabrik padam," jawab Anjani datar. "Pengecoran ikut. Mereka punya tungku yang nggak boleh mati mendadak. Kalau cairan logamnya membeku di dalam, tungkunya rusak total. Itu ratusan pekerjaan."
"Maka kerjakan," kata Pak Darus, dan pergi.
Anjani tinggal sendiri di depan kubikel hangus. Di kejauhan, klakson truk pabrik memanggil-manggil. Ia memandangi bekas jepitan tang di terminal itu sekali lagi, mengingatnya, memotretnya diam-diam dengan ponselnya saat tak ada yang melihat. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan dengan foto itu. Ia hanya tahu bahwa ada seseorang di kota ini yang cukup mengerti jaringan untuk membunuhnya dari dalam, dan bahwa orang itu baru saja mulai.
Malam itu ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Bukan cuma ancamannya. Yang menghantuinya adalah betapa miripnya cara berpikir penyabot itu dengan caranya sendiri. Untuk mengakali pengaman seperti itu, kau harus mencintai jaringan ini dengan cara yang sama sakitnya seperti dia mencintainya, harus tahu di mana ia rapuh, harus pernah menatap skema yang sama yang Anjani tatap setiap hari. Penjahat ini bukan orang luar dengan bom. Penjahat ini punya tangan teknisi, seperti dirinya.
Dan untuk pertama kalinya terlintas di benaknya, pelan dan dingin: kalau saja kota tahu apa yang sekarang ada di dalam tubuhku, mereka akan menatapku persis seperti aku menatap puing ini. Sebagai sesuatu yang merusak jaringan dari dalam. Sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Ia menutup laci catatannya, mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya bertanya bukan apakah ia bisa menyembunyikan kekuatannya, melainkan apakah ia harus diam saja saat kota mulai dibunuh.