Pertanyaan itu terjawab untuknya, seperti hal-hal penting selalu terjawab, pada saat ia tidak siap.
Rumah Susun Tegalsari berdiri lima lantai di tepi kawasan padat, dibangun murah pada masa ketika kota masih punya uang dan tidak dirawat sejak kota tak lagi punya uang. Anjani melewatinya setiap malam dalam perjalanan pulang. Pada malam itu, pukul tujuh, saat beban listrik kota mencapai puncaknya karena seisi rumah menyalakan segalanya sekaligus, ia melihat percikan kuning di lantai tiga rusun itu, lalu lidah api kecil menjilat keluar dari jendela, lalu mendengar jeritan.
Ia berhenti tanpa memutuskan untuk berhenti.
Korsleting. Otaknya membacanya bahkan sebelum ia turun dari motor. Instalasi rusun setua ini, dibebani beban puncak, salah satu panel pasti menyerah. Api di balik dinding, di jalur kabel, makanan paling rakus untuk api karena ia menjalar di sepanjang isolasi dan menyembunyikan diri di rongga yang tak terlihat. Sudah ada orang berlarian keluar. Ada yang berteriak tentang lift yang macet di antara lantai dengan orang di dalamnya.
Anjani berlari masuk. Seorang petugas keamanan rusun mencoba menahannya, tapi ia menyelinap lewat, karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui petugas itu: selama panel induk masih bertegangan, api itu akan terus mendapat makan, dan tak seorang pun di sini cukup mengerti untuk mematikannya dengan benar tanpa membunuh diri sendiri. Saklar utama ada di ruang panel lantai dasar, dan ruang panel itu sendiri sudah berasap.
Ia menemukan pintunya. Asap menggumpal di langit-langit ruang sempit itu, dan panel utama, sebuah kotak besi tua dengan tuas pemutus yang besar, sudah meleleh di satu sisi. Untuk memutusnya dengan tangan telanjang berarti bunuh diri. Tuas itu mungkin sudah bertegangan, badannya mungkin sudah nyetrum. Petugas pemadam belum datang. Orang-orang masih di atas.
Lalu Anjani teringat ia bukan orang biasa.
Ia mencabut sarung tangan isolasinya, dan untuk pertama kalinya sejak gardu, ia melakukannya dengan sengaja. Ia menempelkan telapak tangannya yang telanjang ke badan panel, dan ia membuka dirinya untuk menarik.
Arus menyerbu masuk. Bukan setetes seperti dari aki di bengkel; ini banjir, seluruh beban yang mengalir ke panel itu menemukan jalan baru yang lebih mudah, yaitu dirinya, dan menyeret dirinya ke dalam. Tubuhnya menggeletar. Titik kontak di telapaknya langsung memanas, panas yang membuatnya menggertakkan gigi, tapi ia menahannya, menarik dan terus menarik, sampai ia merasakan panel itu mati di bawah tangannya, sampai api di balik dinding kehilangan makanannya dan mulai sekarat menjadi bara.
Ia berhasil. Tapi ia bisa merasakan harganya menjalar keluar darinya dalam gelombang gelap. Lampu di seluruh rusun padam. Lalu lampu di gedung sebelah. Lalu satu blok penuh di luar, jalanan, warung, rumah-rumah, semuanya jatuh ke dalam gelap karena Anjani baru saja menyedot terlalu banyak dari jaringan yang sama yang memberi makan mereka semua.
Di atas, lift berhenti karena tak ada arus, dan Anjani mengutuk dirinya. Ia berlari ke poros lift, dan inilah saatnya pengecualian yang ia temukan di bengkel menjadi penting. Ia tidak bisa menyalakan kembali seluruh jaringan, ia bukan pembangkit. Tapi sebuah lift hanya butuh sedikit untuk merangkak ke lantai terdekat dan membuka pintunya. Ia menemukan kabel kontrol lift, menempelkan tangannya, dan kali ini ia mendorong, melepaskan sebagian muatan yang baru ia rampas, hanya secukupnya, hanya supaya motor lift berputar pelan dan kabin merayap ke lantai dua tempat pintunya bisa dibuka paksa. Ia bisa mendengar orang-orang di dalam menjerit lega saat celah terbuka.
Lalu kapasitasnya habis, dan ia jatuh berlutut di lantai panel yang berasap, kosong, lemas, jantungnya berdebar dengan irama yang membuatnya ngeri karena ia tahu nama irama itu. Tubuhnya berkata cukup, dan untuk beberapa detik panjang Anjani tidak yakin apakah ia akan pingsan, atau lebih buruk.
Pemadam datang. Warga keluar, semua selamat, api padam sebelum menjalar ke lantai atas. Seharusnya itu malam kemenangan. Anjani menyelinap keluar lewat pintu samping sebelum ada yang bertanya siapa yang mematikan panel, dan dari seberang jalan ia berdiri di kegelapan yang ia ciptakan dan mendengarkan.
Ia mendengar seorang ibu menangis lega memeluk anaknya. Tapi ia juga mendengar yang lain. Ia mendengar seseorang mengeluh bahwa kulkasnya mati dan dagangannya akan busuk. Ia mendengar seseorang berteriak marah karena anaknya yang sakit butuh nebulizer dan nebulizer butuh listrik. Ia mendengar seluruh blok yang gelap menggerutu, satu blok penuh orang yang malam ini hidupnya menjadi lebih sulit, dan tak satu pun dari mereka tahu bahwa kegelapan mereka adalah ongkos dari nyawa yang baru saja diselamatkan di rusun.
Ia menyelamatkan belasan orang. Ia menghukum ratusan. Dan tak seorang pun bisa melihat kedua sisi neraca itu kecuali dirinya.
Anjani menarik tudung jaketnya menutupi kepala dan berjalan pergi ke dalam gelap yang menjadi tubuhnya sendiri, dengan luka bakar berdenyut di telapak tangan dan jantung yang masih belum mau kembali ke irama yang benar, sambil mengerti untuk pertama kalinya secara penuh bahwa kekuatan ini tidak akan pernah memberinya kemenangan yang bersih. Hanya pilihan, terus-menerus, tentang siapa yang akan ia rugikan untuk menyelamatkan siapa.