Rekaman itu muncul tiga hari kemudian, dan rekaman itu nyaris tak menunjukkan apa-apa, yang justru membuatnya sempurna.
Sebuah kamera keamanan dari toko kelontong di seberang Rusun Tegalsari menangkap sosok buram berlari masuk ke gedung beberapa saat sebelum semua lampu di rekaman itu padam serentak. Sosok itu terlalu kabur untuk dikenali, sekadar bayangan berkerudung jaket, tapi waktunya cocok dengan blackout, dan di kota yang lapar akan cerita, kecocokan waktu sudah cukup menjadi kebenaran.
Koran lokal yang memuatnya memberi judul dengan huruf besar: SOSOK MISTERIUS DI BALIK BLACKOUT BERUNTUN? Di bawahnya, seorang penjaga warung diwawancara dan bersumpah ia melihat lampu jalan mati satu per satu mengikuti langkah seseorang. Seorang ibu di kolom komentar daring menulis bahwa tetangganya melihat percikan biru di tangan sosok itu. Cerita itu tumbuh seperti api di balik dinding, menjalar di rongga yang tak terlihat, memberi makan dirinya sendiri. Pada hari kelima, sosok itu sudah punya nama yang dipakai semua orang seakan nama itu selalu ada: Hantu Gardu.
Anjani membacanya di layar ponsel sambil sarapan, dan nasi di mulutnya terasa seperti pasir.
Di kantor, namanya jadi bahan obrolan. "Konyol," kata seorang rekan sambil tertawa di ruang istirahat. "Orang nggak mau terima jaringannya bobrok, jadi nyari hantu. Khas Karangwetan." Yang lain mengangguk, tapi seorang teknisi tua bernama Pak Wiryo tidak ikut tertawa. "Hantu atau bukan," katanya pelan, "yang pasti tiap kali si hantu ini muncul, ada orang yang gelap semalaman. Anakku nggak bisa tidur kemarin, gerah, listriknya baru hidup subuh. Aku nggak peduli itu hantu atau trafo. Aku cuma mau lampuku nyala."
Kalimat itu menancap di Anjani lebih dalam dari semua judul koran. Karena Pak Wiryo benar. Itu yang tidak dimengerti orang-orang yang menertawakan ceritanya. Bagi warga, tidak penting apakah penyebabnya makhluk gaib atau hubungan singkat. Yang penting, dan satu-satunya yang penting, adalah bahwa lampu mereka mati, makanan mereka busuk, anak mereka gerah, dan tagihan yang sama tetap datang. Anjani sudah menyelamatkan nyawa di rusun itu, tapi tak seorang pun menyebut nyawa yang diselamatkan. Mereka menyebut lampu yang padam. Karena lampu yang padam itu yang bisa mereka rasakan di kulit mereka sendiri.
Ia mengurung diri di bengkel ayahnya malam itu, duduk di antara mesin-mesin mati, dan memaksa dirinya jujur. Ia telah mengira dirinya bisa menjadi sesuatu yang berguna. Ia telah membiarkan dirinya, untuk beberapa jam menggairahkan setelah rusun itu, merasa seperti seseorang yang akhirnya kekuatannya punya arti. Tapi neraca tetap neraca. Setiap kali ia turun tangan, ia meninggalkan jejak kegelapan, dan kegelapan itu lebih nyata bagi orang banyak daripada penyelamatan yang mereka tak pernah saksikan. Ia bukan pahlawan dalam cerita orang-orang. Ia adalah hantu. Ia adalah hal yang mematikan lampu. Ia adalah yang membuat anak Pak Wiryo gerah semalaman.
Dan yang paling pahit: penyabot sungguhan, orang yang dengan sengaja meledakkan Gardu Tujuh, kini bersembunyi di balik Hantu Gardu dengan sempurna. Setiap blackout yang ia ciptakan akan ditimpakan pada hantu. Anjani, tanpa sengaja, telah menjadi kambing hitam yang ideal bagi orang yang ingin meruntuhkan kota. Ia menyelamatkan orang dan menanggung kesalahan yang bukan miliknya, sekaligus kesalahan yang memang miliknya, dan keduanya tak bisa lagi ia pisahkan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dan menulis bukan tentang fisika kali ini, melainkan sebuah pertanyaan, satu kalimat saja, dengan tangan yang sedikit gemetar: Kalau setiap kali aku menolong aku justru menakuti orang, apakah lebih baik aku tidak menolong sama sekali?
Ia menatap kalimat itu lama. Ayahnya akan punya jawaban yang tegas, ia tahu. Ayahnya selalu berkata, kalau kau lihat kabel terbuka di dekat anak kecil, kau tutup kabelnya, tidak peduli orang berterima kasih atau tidak. Pekerjaan tidak menunggu tepuk tangan. Tapi ayahnya tak pernah membayangkan pekerjaan di mana menutup satu kabel berarti membuat seratus kabel lain mati.
Ketukan di pintu seng membuyarkan lamunannya. Bayu, dengan dua piring makanan dari ibu mereka, kaget mendapati kakaknya di bengkel yang dikiranya selalu terkunci. "Mbak ngapain di sini sendirian?" tanyanya, melihat sekeliling, melihat alat-alat yang ditata ulang, melihat baterai bekas yang tersusun aneh di meja kerja. Matanya menyipit. "Mbak... beneran nggak ada yang mau diceritain?"
Untuk satu saat panjang, Anjani hampir bercerita. Beban menyimpannya sendirian terasa lebih berat dari muatan apa pun yang pernah ia tarik. Tapi ia membayangkan wajah adiknya berubah, dari khawatir menjadi takut, takut padanya, dan ia tidak sanggup. Belum.
"Cuma beresin barang Bapak," katanya, mengambil piring. "Sayang dibiarin berdebu."
Bayu memandangnya satu detik lebih lama dari yang nyaman, lalu mengangguk dan pergi. Anjani makan sendirian di antara mesin-mesin mati ayahnya, dan memutuskan, untuk sementara, untuk berhenti. Berhenti turun tangan. Membiarkan kota mengurus dirinya sendiri. Itu keputusan yang masuk akal, keputusan pengecut yang menyamar sebagai keputusan bertanggung jawab, dan ia tahu persis itu apa, dan ia tetap memutuskannya, karena ia lelah menjadi kegelapan.