Niat untuk berhenti bertahan tepat selama sembilan hari, yaitu sampai gardu berikutnya jatuh.
Kali ini di kawasan perumahan, bukan pabrik, dan kali ini Anjani tidak ada di lokasi saat kejadian, tapi ia ada di ruang kendali keesokan paginya saat datanya masuk. Dan saat melihat datanya, ia tahu satu hal dengan kepastian yang membuat keputusannya untuk berhenti runtuh seketika: orang yang melakukan ini sedang mempelajari jaringan dengan metodis. Bukan amukan acak. Ini pemetaan. Penyabot itu mematikan gardu-gardu dalam urutan yang, kalau kau bisa membaca jaringan seperti Anjani membacanya, mulai membentuk sebuah pola, sebuah pengepungan pelan terhadap titik-titik paling rapuh kota.
Ia memerlukan data internal untuk memastikan firasatnya, dan itu berarti ia memerlukan ruang SCADA, jantung sistem pengawasan tempat setiap hela napas jaringan terekam dalam angka. Di situlah ia bertemu Reza.
Reza analis muda, mungkin baru tiga tahun di perusahaan, tipe orang yang lebih nyaman dengan layar daripada dengan kabel berlumpur. Anjani biasanya tidak punya banyak waktu untuk orang-orang ruang ber-AC yang tak pernah memegang tang. Tapi pagi itu ia mendapati Reza memandangi tiga monitor dengan kerutan dalam di dahinya, dan saat Anjani meminta riwayat data feeder yang gardunya jatuh, Reza tidak menjawabnya dengan basa-basi birokrasi. Ia malah berkata, pelan, seakan takut didengar, "Mbak teknisi lapangan, kan? Boleh saya tanya sesuatu yang... aneh?"
Ia memutar layar ke arah Anjani. "Lihat ini. Ini grafik beban gardu yang jatuh kemarin, dari sistem kita. Menurut data ini, bebannya normal sepanjang malam. Mendadak naik, lalu trip. Klasik kelebihan beban." Ia menggeser ke layar lain. "Tapi ini data mentah dari meter di lapangan yang saya tarik manual sebelum disinkronkan. Dan angkanya beda. Di sini bebannya nggak naik. Yang naik cuma di sistem pusat. Seakan ada yang menyuntikkan angka palsu ke SCADA supaya kelihatan kelebihan beban, padahal di lapangan nggak ada apa-apa sampai detik gardu itu meledak."
Anjani menatap dua layar itu, dan tengkuknya meremang lagi seperti di Gardu Tujuh. "Kau bilang ini ke siapa?"
"Saya bilang ke atasan saya." Reza tertawa kecil, getir, suara orang yang belajar sesuatu yang pahit tentang tempat kerjanya. "Dia bilang saya salah baca, datanya pasti rusak, sinkronisasinya bermasalah, dan saya disuruh jangan bikin ribut. Lalu file data mentah saya... hilang dari folder bersama. Untung saya simpan satu salinan di flashdisk pribadi."
Di situlah keduanya saling memandang, dan tanpa kata sepakat tentang dua hal sekaligus. Pertama: ini bukan kelelahan jaringan, ini bukan hantu, ini sabotase yang dirancang dengan rapi sampai ke manipulasi data. Kedua, dan ini yang lebih menakutkan: untuk memalsukan data di dalam SCADA, untuk tahu cara mengakali pengaman di lapangan, untuk menghilangkan file dari folder internal, pelakunya harus punya akses dalam. Bukan teroris dari luar. Seseorang dengan lencana yang sama dengan lencana mereka. Seseorang yang setiap hari berpapasan dengan mereka di koridor, mungkin tersenyum, mungkin mengeluh tentang kopi yang habis.
Orang dalam.
"Kenapa?" tanya Reza, lebih ke dirinya sendiri. "Kenapa ada orang dalam mau menghancurkan jaringannya sendiri?"
Anjani sudah memikirkannya sejak Gardu Tujuh, dan jawabannya membumi dengan cara yang membuatnya muak. "Karena jaringan yang hancur lebih mahal daripada jaringan yang dirawat," katanya. "Kau tahu proyek peremajaan gardu yang katanya mau cair tahun ini? Anggaran besar. Sangat besar. Sekarang bayangkan kalau gardu-gardu lama ini jatuh satu per satu sebagai 'bukti' bahwa peremajaan total mendesak. Tiba-tiba proyeknya jadi darurat. Tiba-tiba uangnya cair tanpa banyak pertanyaan, lewat pemenang tender yang sudah ditentukan. Tiba-tiba ada yang dapat untung besar dari setiap gardu yang meledak."
Reza memandangnya dengan wajah pucat orang muda yang baru mengerti bahwa kejahatan paling besar sering dilakukan dengan kemeja rapi dan rapat anggaran, bukan dengan topeng. "Itu... berarti orangnya ada di atas. Punya kuasa."
"Mungkin di atas. Tapi tangannya, yang benar-benar memegang tang dan mengakali rele, itu teknisi. Harus teknisi. Tak ada manajer yang bisa menjepit pengaman 20 kilovolt tanpa membunuh dirinya sendiri." Anjani menelan ludah. "Berarti ada dua. Otak yang ingin uangnya, dan tangan yang tahu jaringannya. Dan keduanya orang dalam."
Mereka berdiri di ruang SCADA yang dingin, dua orang dengan terlalu sedikit kuasa dan terlalu banyak kecurigaan, dikelilingi layar-layar yang baru saja terbukti bisa berbohong. Aliansi mereka rapuh; Reza tak tahu apa-apa tentang apa yang ada di dalam tubuh Anjani, dan Anjani tak berniat memberitahunya. Tapi untuk pertama kalinya sejak gardu, ia tidak sendirian memikul kebenaran. Itu saja sudah terasa seperti sedikit arus mengalir kembali ke dalam aki yang nyaris kosong.
"Simpan salinanmu di tempat aman," kata Anjani sebelum pergi. "Jangan di sini. Jangan di komputer kantor. Dan jangan percaya datanya, percaya lapangannya. Mereka bisa berbohong lewat angka. Mereka nggak bisa berbohong lewat puing."
Ia keluar dari ruang dingin itu ke koridor yang penuh orang berlencana, dan untuk pertama kalinya menatap rekan-rekan kerjanya bukan sebagai rekan, melainkan sebagai daftar tersangka. Salah satu wajah yang melewatinya pagi itu, yang menyapanya dengan senyum dan menanyakan kabar Pak Hadi dengan nada peduli, adalah wajah orang yang akan kembali ke benaknya berbulan-bulan kemudian dengan rasa mual, ketika ia akhirnya mengerti siapa yang ia percaya.