Tubuhnya mulai mengirim tagihan, dan tubuh tidak pernah menerima cicilan.
Luka bakar di telapak tangan kanannya, sisa malam di Rusun Tegalsari, tidak sembuh seperti seharusnya. Sudah lewat dua minggu, dan di tempat yang seharusnya jadi jaringan parut merah muda, kulitnya tetap mengkilap, tegang, dan kadang merembeskan cairan bening. Anjani tahu cukup tentang luka bakar untuk mengerti bahwa luka karena listrik berbeda dari luka karena api. Listrik melukai dari dalam ke luar; ia mengalir lewat jaringan, memanaskannya dari kedalaman, dan kerusakan di permukaan sering hanya puncak dari kerusakan yang jauh lebih dalam. Telapak tangannya mungkin terlihat kecil. Yang di bawahnya, ia tak berani membayangkan.
Dan ada hal lain, hal yang lebih menakutkan dari luka. Jantungnya.
Sejak rusun, setiap kali ia melepas atau menarik muatan dalam jumlah besar, jantungnya kehilangan iramanya. Bukan sekadar berdebar cepat karena tegang; ia bisa membedakan keduanya. Ini berbeda. Ini seperti motor yang businya menyala di waktu yang salah, denyut yang tergesa lalu tertinggal, jeda yang terlalu panjang yang membuatnya berpegangan pada apa pun sambil menunggu denyut berikutnya datang dan diam-diam takut denyut itu tak akan datang. Anjani pernah belajar di pelatihan keselamatan kerja apa yang dilakukan arus pada jantung. Arus yang lewat melalui dada bisa mengacau sinyal listrik yang membuat jantung berdetak teratur, membuatnya menggetar tak berguna alih-alih memompa. Fibrilasi. Kata itu menggantung di benaknya seperti vonis. Jantungnya sendiri pun mesin yang digerakkan listrik, dan ia telah mengubah seluruh tubuhnya menjadi jalan bagi arus liar.
Ia tidak bisa ke klinik perusahaan. Mereka akan bertanya, dan setiap jawaban jujur akan membongkar segalanya. Maka ia pergi ke klinik umum di seberang kota, di mana tak ada yang mengenalnya, dan berbohong dengan hati-hati. Ia bilang ia kena setrum ringan saat memperbaiki instalasi rumah, sesuatu yang masuk akal bagi seorang teknisi, dan ia menyebut gejalanya: jantung berdebar tak teratur, dada sesekali nyeri, luka bakar yang lambat sembuh.
Dokter muda yang memeriksanya menanggapinya serius, dan itu justru membuat Anjani gugup. Dokter itu memasang EKG, menempelkan elektroda dingin ke dadanya, dan Anjani harus menahan diri agar tidak menarik arus dari mesinnya tanpa sengaja. Ia memejamkan mata dan memerintahkan tubuhnya untuk diam, untuk sekali ini saja menjadi tubuh biasa, dan untungnya rekamannya keluar tanpa ia mengacaukan alatnya.
Dokter itu mengernyit menatap kertas grafik. "Ada beberapa denyut yang lewat lebih awal dari seharusnya. Kontraksi prematur. Sendirian, ini sering nggak berbahaya, banyak orang sehat mengalaminya. Tapi dengan riwayat tersengat listrik..." Ia menatap Anjani lebih tajam. "Listrik bisa mengganggu sistem hantar di jantung. Kadang efeknya muncul belakangan. Mbak harus jujur ke saya. Seberapa besar setrum yang Mbak kena? Karena yang saya lihat di sini, dan luka bakar di tangan Mbak yang nggak sembuh-sembuh ini, ini bukan setrum colokan biasa."
Untuk satu saat berbahaya, Anjani ingin menumpahkan semuanya. Tapi ia menelannya, seperti selalu. "Mungkin lebih besar dari yang saya kira," katanya, yang setidaknya bukan kebohongan penuh.
Dokter itu memberinya rujukan ke spesialis jantung yang takkan ia datangi, obat untuk lukanya, dan satu nasihat yang menempel di Anjani lebih lama dari resep apa pun. "Apa pun yang Mbak lakukan yang membuat Mbak terus kena arus," kata dokter itu, menatapnya lurus, "berhentilah. Jantung itu nggak punya cadangan. Setiap kali ia kena gangguan listrik besar, ia bisa terbiasa salah, dan suatu saat ia bisa lupa cara kembali benar. Saat itu terjadi, biasanya nggak ada kesempatan kedua. Saya nggak tahu pekerjaan Mbak apa persisnya. Tapi nggak ada pekerjaan yang sepadan dengan itu."
Anjani pulang dengan resep di saku dan kalimat itu berdengung di kepalanya. Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan itu. Dokter itu berpikir tentang pekerjaan biasa, tentang teknisi yang ceroboh dengan kabel. Ia tidak tahu bahwa bagi Anjani, pertanyaannya bukan tentang pekerjaan, melainkan tentang apakah ada nyawa orang lain yang sepadan dengan jantungnya. Karena itulah pertukaran yang sebenarnya. Setiap kali ia turun tangan, ia tidak hanya mengambil risiko memadamkan kota; ia mengambil risiko jantungnya sendiri lupa cara berdetak.
Malam itu, di bengkel ayahnya, ia duduk lama dengan tangannya yang terluka di pangkuan. Ia memikirkan ayahnya, yang mati bukan oleh listrik melainkan oleh tahun-tahun, oleh paru-paru yang penuh serbuk logam dan rokok, oleh tubuh yang ia berikan sedikit demi sedikit untuk kampung yang mesin pompanya selalu butuh diperbaiki. Ayahnya tak pernah punya kekuatan super. Ia hanya punya tangan dan keras kepala dan keyakinan bahwa kalau kau bisa memperbaiki sesuatu yang rusak, kau wajib memperbaikinya, dan ongkosnya kau bayar dengan dirimu sendiri.
Anjani mulai mengerti, malam itu, bahwa ia bukan menjadi sesuatu yang baru sama sekali. Ia menjadi versi paling murni dan paling mengerikan dari hal yang selalu ia warisi: orang yang memperbaiki yang rusak dengan membayarnya memakai tubuhnya sendiri. Bedanya, harga yang ayahnya bayar butuh tiga puluh tahun. Harga yang akan ia bayar mungkin butuh satu malam buruk.
Ia menutup botol obatnya, menatap tangannya yang takkan pernah benar-benar sembuh, dan tidak berjanji pada dirinya untuk berhenti. Ia hanya berjanji untuk berhati-hati, yang ia tahu, di dunia yang sedang dibakar dari dalam ini, adalah janji yang takkan bisa ia tepati.