Penyabot itu rupanya juga punya jadwal, dan ia memilih malam ketika kota paling tak mampu melawan.
Malam Sabtu, beban tinggi, sebagian besar staf inti sedang libur atau lelah di akhir pekan panjang. Anjani sedang di rumah ketika ponselnya meledak dengan panggilan dan pesan sekaligus, dan ketika ia membuka aplikasi pemantauan darurat, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Bukan satu gardu yang jatuh. Tiga, hampir bersamaan, di tiga titik yang berjauhan, dipilih dengan presisi yang hanya bisa dirancang oleh seseorang yang mengerti betul bagaimana arus mengalir di kota ini.
Ia mengerti maksudnya dalam sekejap, dan kengerian dari memahaminya jauh lebih buruk daripada tidak tahu. Jaringan listrik bukan tiga pipa terpisah. Ia satu tubuh yang saling menanggung. Ketika satu gardu jatuh, bebannya tidak hilang; ia berpindah ke gardu tetangga, yang kini menanggung dua kali lipat. Kalau gardu tetangga itu sudah tua dan rapuh, ia ikut menyerah, dan bebannya kembali berpindah, menumpuk, menjalar. Pemadaman berantai. Penyabot tidak menjatuhkan tiga gardu untuk memadamkan tiga kawasan. Ia menjatuhkan tiga gardu di titik yang tepat untuk memicu kejatuhan beruntun yang akan menyapu separuh kota seperti barisan domino.
Dan di ujung barisan domino itu, kalau Anjani membaca peta beban dengan benar, ada Rumah Sakit Umum Karangwetan.
Rumah sakit punya genset cadangan, tentu. Setiap rumah sakit punya. Tapi Anjani tahu, karena ia teknisi dan teknisi tahu rahasia kotor di balik dinding, bahwa genset cadangan adalah janji yang sering ingkar. Genset tua yang jarang diuji nyala. Genset yang tangki solarnya tak terisi penuh karena anggaran. Genset yang butuh beberapa detik berbahaya untuk menyala, detik di mana ventilator berhenti memompa udara ke paru-paru orang yang tak bisa bernapas sendiri. Dan kalau pemadaman berantai ini cukup besar, kalau ia menyeret turun jaringan yang memasok rumah sakit di saat genset tak siap, maka di ruang perawatan intensif itu akan ada orang-orang yang nyawanya bergantung pada selang yang tiba-tiba diam.
Penyabot tahu ini. Itu yang membuat Anjani mual. Pemilihan waktu dan titiknya terlalu sempurna untuk kebetulan. Mungkin ia tidak menargetkan rumah sakit secara langsung, mungkin rumah sakit hanya korban yang kebetulan ada di ujung domino. Tapi mungkin juga ia tahu persis, dan tidak peduli, atau lebih buruk, justru menghitungnya sebagai bagian dari teror yang akan membuat kota menjerit minta peremajaan dengan biaya berapa pun. Dalam aritmetika orang yang membakar kota demi anggaran, beberapa pasien adalah angka yang bisa diterima.
Anjani sudah memakai jaketnya sebelum sadar ia memutuskan untuk pergi.
Reza meneleponnya saat ia menyalakan motor. "Mbak lihat ini?" Suara analis muda itu tinggi karena panik. "Ini bukan acak, ini persis pola yang kita takutkan, ini menuju ke arah pusat kota, dan saya nggak bisa hubungi siapa pun yang mau dengar, semua orang bilang ikuti prosedur, prosedurnya butuh berjam-jam, Mbak, dalam berjam-jam separuh kota sudah gelap."
"Mana titik kritisnya?" Anjani sudah melaju, ponsel terjepit di bahu.
"Gardu induk pusat yang mensuplai koridor rumah sakit. Kalau itu jatuh, rumah sakit kehilangan suplai utama dan harus bergantung penuh ke genset. Dan Mbak..." Reza menelan ludah, suaranya pecah. "Saya cek log perawatan genset rumah sakit, yang bisa saya akses. Uji nyala terakhirnya... lewat jadwal. Jauh lewat. Saya nggak tahu apakah genset itu akan nyala kalau dibutuhkan malam ini."
Anjani menutup telepon dan memacu motornya lebih cepat lewat jalanan Karangwetan yang sebagian sudah gelap, melewati rumah-rumah yang lampunya padam, melewati orang-orang yang berdiri di depan pintu memandangi kota mereka yang sekarat sepetak demi sepetak. Ia bisa merasakan jaringan di sekelilingnya, lewat indera baru yang ia benci, merasakan arus yang melemah, merasakan beban yang menumpuk seperti air membendung di belakang tanggul yang retak.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia tahu apa harganya, dan untuk pertama kalinya ia tidak punya pilihan untuk bersembunyi. Selama ini ia turun tangan dalam gelap, berkerudung, menyelinap, meninggalkan jejak yang dituduhkan pada hantu. Tapi yang akan terjadi malam ini terlalu besar untuk dilakukan diam-diam di sudut. Untuk menyelamatkan koridor rumah sakit, ia harus pergi ke jantung jaringan itu sendiri, ke gardu induk pusat, tempat yang dijaga dan dipantau dan diterangi kamera. Ia harus berhenti menjadi hantu dan menjadi seseorang yang melakukan sesuatu di tempat terang.
Ia memikirkan jantungnya. Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan itu, kata dokter itu. Lalu ia memikirkan ventilator yang berhenti, dada kecil yang berhenti naik turun, dan ia mengerti bahwa ada pekerjaan yang sepadan dengan apa pun, sekalipun dengan denyut terakhirnya sendiri, dan bahwa kutukan dilahirkan dari orang yang tak bisa berpaling dari yang rusak adalah ia akan selalu, selalu menemukan pekerjaan seperti itu menunggunya.
Di kejauhan, menara gardu induk pusat menjulang melawan langit malam, satu-satunya tempat di koridor itu yang lampunya masih menyala, untuk saat ini. Anjani membelokkan motornya ke arah sana, melepas sarung tangan isolasinya sambil melaju, dan untuk pertama kalinya tidak berniat menyembunyikan apa yang akan ia lakukan dari siapa pun yang akan melihatnya.