Gardu induk pusat dipagari kawat berduri dan papan peringatan kuning bertuliskan bahaya tegangan tinggi, papan yang sepanjang hidupnya Anjani patuhi tanpa berpikir. Malam ini ia memanjat pagar itu.
Reza sudah memberinya cukup informasi lewat telepon untuk tahu ke mana harus pergi. Ada panel penghubung di mana suplai utama bertemu jalur cadangan rumah sakit. Kalau pemadaman berantai mencapai sini, kalau gardu induk pusat ini menyerah seperti yang lain, koridor rumah sakit akan kehilangan suplai utamanya, dan seluruh nyawa di ruang intensif akan tergantung pada genset yang mungkin tak mau menyala. Yang Anjani butuhkan bukan menyalakan kembali seluruh kota; ia tak sanggup, ia bukan pembangkit. Yang ia butuhkan lebih kecil dan lebih mungkin: menahan satu jalur ini tetap hidup cukup lama, dengan menyumbang muatannya sendiri sebagai bantalan, supaya saat genset rumah sakit akhirnya tersentak menyala, tidak ada celah gelap di antaranya. Beberapa detik. Ia hanya perlu menjembatani beberapa detik dengan tubuhnya sendiri.
Ia menemukan panelnya. Lampu kendali masih menyala redup, jaringan masih bertahan, tapi ia bisa merasakannya goyah, merasakan beban yang menjalar ke arah sini seperti gelombang yang mendekat. Ia melepas sarung tangan isolasinya, dan udara dingin malam menyentuh telapaknya yang masih terluka. Ia mengisi diri sebanyak mungkin dari jalur yang tersedia, merasakan tubuhnya penuh, panas, terlalu penuh, lalu ia menunggu, dengan tangan menggantung dekat terminal penghubung, untuk saat ketika gelombang itu tiba dan ia harus mendorong segalanya yang ia simpan ke dalam jalur untuk menahannya tetap hidup.
Gelombang itu datang lebih cepat dan lebih besar dari yang ia perkirakan.
Lampu kendali berkedip. Anjani merasakan suplai utama runtuh, merasakan jalur rumah sakit mulai mati, dan ia menekan telapaknya ke terminal dan melepaskan. Muatannya mengalir keluar, menahan tegangan jalur, dan ia bisa merasakannya bekerja, bisa merasakan jalur itu tetap hidup oleh dirinya sambil titik kontak di tangannya menyala oleh panas yang membuatnya menjerit. Ia menghitung. Genset rumah sakit harus menyala sekarang. Sekarang. Ia menahan jalur itu dengan tubuhnya, melepaskan lebih banyak, sampai kapasitasnya menipis dan jantungnya mulai tersandung dalam dadanya, irama yang salah itu, jeda yang terlalu panjang, dan ia menahannya sedetik lagi, sedetik lagi.
Lalu lampu kendali menyala penuh. Genset rumah sakit tersentak hidup; ia bisa merasakannya mengambil alih beban, merasakan jalur itu berdiri sendiri tanpa dirinya. Ia berhasil. Beberapa detik yang menentukan itu, ia telah menjembataninya dengan tubuhnya, dan di balik dinding-dinding rumah sakit di kejauhan, selang-selang itu terus memompa tanpa pernah berhenti.
Ia nyaris kosong dan jantungnya berderak, tapi ia berhasil, dan untuk satu detik murni Anjani membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang asing: bukan rasa bersalah, melainkan kemenangan yang bersih, yang pertama sejak gardu mengubahnya.
Saat itulah lampu ruang kontrol gardu menyala terang, dan seseorang melangkah keluar dari balik panel.
Anjani mengenalnya. Itu yang menghancurkan segalanya. Bukan orang asing, bukan teroris dengan topeng. Wajah yang ia kenal, yang menanyakan kabar Pak Hadi dengan nada peduli di koridor, yang pernah mengajarinya membaca rele saat ia masih baru, yang ia percaya seperti ia jarang mempercayai siapa pun. Tangan teknisi yang tahu jaringan ini sebaik dirinya, karena memang seharusnya begitu. Selama ini ia mencari seseorang yang berpikir seperti dirinya, dan ia menemukan orang yang mengajarinya cara berpikir itu.
"Kau," Anjani berbisik, dan suaranya hampir tak keluar.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Anjani dengan sesuatu yang lebih buruk dari kemarahan, sesuatu yang seperti penyesalan, dan menggeleng pelan, seperti orang yang menyaksikan sebuah jebakan menutup persis sesuai rencana.
Karena memang itu yang terjadi. Anjani menyadarinya terlambat, saat ponselnya bergetar dengan pesan terakhir dari Reza yang masuk sepersekian detik sebelum sinyal pun ikut padam: layar SCADA di ruang kontrol menyala dengan log otomatis, sebuah pesan terjadwal yang dipasang di sistem maintenance jauh sebelum malam ini, dingin dan tanpa nama, JEBAKAN BEBAN AKTIF, RELE PROTEKSI DINONAKTIFKAN. Bukan pesan dari seseorang yang tahu gerakan Anjani; sesuatu yang lebih membumi dan lebih kejam. Pengaman yang seharusnya melindungi gardu induk ini telah dinonaktifkan diam-diam, diset salah oleh orang dalam berhari-hari lalu, menunggu. Jalur yang baru saja Anjani tahan tetap hidup dengan tubuhnya bukan jalur yang menyelamatkan kota; itu umpan, satu-satunya jalur yang sengaja dibiarkan hidup untuk memancing beban seluruh jaringan yang runtuh mengalir ke satu titik. Ke titik tempat tangannya menempel.
Dan beban itu datang sekarang, semuanya sekaligus, seluruh kota yang runtuh menumpahkan arusnya lewat satu jalur tak terlindungi ke dalam tubuh yang sudah hampir kosong dan tak punya kapasitas untuk menerimanya. Anjani merasakannya menyerbu masuk, jauh melampaui apa pun yang pernah ia simpan, melampaui batas yang ia petakan dengan hati-hati di bengkel ayahnya. Ia mencoba melepaskan tangannya dari terminal dan tidak bisa. Bukan karena tegangan menahannya, ototnya sendiri yang berkhianat. Tubuhnya kelebihan beban, otot-ototnya kejang mengunci pada muatan yang tak bisa ia tampung dan tak bisa ia lepaskan dengan aman, karena melepaskan secepat ini ke mana pun akan menghentikan jantungnya sendiri, dan menahannya berarti membakar dirinya dari dalam sementara jantungnya menggetar menuju diam.
Lampu di seluruh Karangwetan padam serentak, dari pinggiran sampai ke pusat, kota itu jatuh ke dalam kegelapan total yang paling pekat yang pernah dilihatnya, dan di tengah kegelapan itu Anjani Larasati berdiri terkunci pada panel jantung jaringan, tubuhnya menyala dari dalam seperti malam pertama di gardu tua, terlalu penuh untuk bertahan dan tak mampu melepaskan, dengan wajah orang yang ia percaya menatapnya dari balik kaca ruang kontrol, dan denyut jantungnya sendiri tersandung sekali, lalu sekali lagi, lalu mencari denyut berikutnya di dalam dada yang sudah lupa caranya.