"Asalamualakum?"
Teriak seorang gadis. Dia mengetuk pintu rumah bercatkan hijau muda dan elegan itu.
Mendengar ketukan pintu dari luar, seorang pria paruh baya, yang tengah bersantai di ruang makan. Tampak melirikan matanya, ke arah sang putri sulung.
"Neng, itu teh si Intan kesini lagi. Ada urusan apa atuh, kamu teh sama dia? Abah mah kurang suka jika kamu teh, sok babarengan wae jeng si Intan."
Tanya Daryana menatap putri sulungnya dengan raut serius.
Mendengar pertanyaan Abahnya. Gadis cantik berambut pirang, yang memakai kebaya jarik berwarna coklat itu. Sontak menatap sang Abah, dengan pandangan heran dan bertanya tanya.
"Ajeng teh kurang tau, apa tujuan Intan datang ke rumah kita. Memangnya kenapa, Abah tidak suka eneng temenan sama Intan?" tanya Ajeng keheranan.
"Iya bah. Kenapa Abah, tidak menyukai Intan temenan sama si eneng? Ambu juga pengen tau alasannya."
Sahut seorang wanita paruh baya yang merupakan ibunya Ajeng.
Daryana yang mendengar keingintahuan istri dan anaknya pun, menghela nafas perlahan. Dia pun langsung menjelaskan alasan, mengapa dia tidak menyukai Ajeng berteman dengan Intan.
"Jadi begini neng, Ambu? Ambu tau sendirikan kumaha sikapna si Intan. Si etateh sok keras kepala, jika di nasehati orang tua. Abah teh takut, si eneng nanti kebawa bawa sikap buruknya si Intan."
"Malahken sok sien, nanti si eneng terjerumus ke jalan yang salah. Komo dei hal hal anu ngabahayaken, kasalametan si eneng sorangan. Kitu tah, kasien Abah teh neng, Ambu."
Ucap Daryana dengan jujur. Dia menatap anak dan istrinya bergantian.
Daryana sebagai seorang Ayah, merasa jika anak sulungnya berteman dengan anaknya Pak Taryo. Juragan beras di desanya itu, takut membuat anak sulungnya terbawa sikap buruknya Intan.
Terutama sikap ngeyel Intan yang menurutnya bisa saja membuat putrinya itu, terjerumus ke jalan yang salah.
Entah mengapa akhir akhir ini perasaan Daryana selalu khawatir, jika melihat pertemanan mereka.
"Iya juga ya bah. Ambu teh jadi ikut khawatir. Bener ucapan Abahmu neng? Ambu pun setuju. Tolong kamu manut sama omongan Abahmu ya neng. Biasanya ke khawatiran orang tua itu, merupakan pepeling alias pertanda, eneng kudu hati hati ke depannya."
Balas Titin menyetujui perkataan suaminya, sekaligus menasehati sang putri.
Ajeng yang mendengarkan ucapan Abah dan Ambunya menjadi gusar. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini.
Ajeng dan Intan sudah lama bersahabat dari kecil sampai sekarang. Ketika mereka berdua, sama sama sudah menetap di bangku Kuliah.
Ada perasaan aneh dan bingung di benaknya saat ini, mengenai sikap sang Abah. Padahal dulu saat dia dan Intan berteman pun, Abahnya tidak mempermasalahkan itu semua.
Namun sekarang, mengapa sang Abah tiba tiba melarang dirinya berteman lagi, dengan Intan?
"Jadi begitu kekhawatiran Abah sama eneng. Makasih Abah, Ambu, sudah kasih pepeling sama eneng. Eneng janji akan selalu manut, sama keputusan Abah dan Ambu."
"Syukurlah, jika kamu mengerti neng. Tolong ingat baik baik, pepeling Abahmu ini ya, neng. Ini juga demi kebaikan kamu."
"Iya bah insyaallah, eneng akan selalu mengingatnya. Yasudah kalau begitu bah, eneng pergi ke depan dulu ya?" ucapnya.
Gadis cantik berusia 19 tahun, yang mengenakan kebaya jarik berwarna coklat khas orang desa itu. Tersenyum kepada Abah dan Ambunya, sambil menangkup tangan sebagai penghormatan.
"Iya neng mangga." Jawab Daryana dan Titin bersamaan.
***
"Ambu, kita teh harus bagaimana ya, agar si eneng tidak berteman lagi sama Intan?"
tanya Daryana kepada sang istri. Terlihat jelas sekali, raut kekhawatiran di wajahnya.
"Ambu juga tidak tau bah. Kenapa ya, perasaan Ambu jadi tidak enak seperti ini, jika kita membahas pertemanan si eneng dan Intan."
Balas Titin khawatir. Entah mengapa, perasaan wanita paruh baya itu menjadi khawatir akan keselamatan putrinya.
Daryana menghela nafasnya pelan, lalu berkata pada istrinya.
"Bukan Ambu saja yang merasakan hal itu. Abah pun sama seperti Ambu. Sudah dua malam ini, tidur Abah tidak nyenyak karena khawatir memikirkan si eneng."
Jawab Daryana lesu, memberi tau kegundahan dan keluh kesahnya kepada sang istri.
Mendengar hal tersebut membuat Titin sebagai ibu, semakin khawatir dan panik berlebihan kepada anaknya.
"Ya ampun Abah, lalu kita sekarang harus bagaimana atuh. Ambu teh khawatir dan tidak tenang bah. Kira kira, apa yang akan menimpa putri kita."
Ujar Titin dengan tubuh gemetar, menatap sang suami.
"Istigfar! Abah tahu, Ambu teh khawatir sama si eneng. Tapi bukan seperti ini caranya. Gak baik Ambu berkata seperti itu, ucapan adalah doa. Lebih baik kita doakan saja si eneng."
" Supaya dia senantiasa di lindungi oleh gusti pangeran, nu maha welas asih jeng maha kuasa. Abah yakin allah akan melindungi si eneng, asal kita tidak putus untuk berdoa."
Nasihat Daryana menenangkan sang istri, sambil memeluknya erat. Titin yang ada dalam pelukan sang suami, hanya bisa menangis sesenggukan.
Begitulah kepribadian Titin, jika di singgung mengenai masalah keluarga. Dia selalu tiba tiba panik berlebihan, dan menangis histeris.
"Iya bah, astagfirulhalazim." Ucap Titin, sambil mengucapkan istigfar berulang kali.
Daryana pun menjadi sedih melihat istrinya bergetar dan panik berlebihan. Ia hanya menepuk nepuk bahu sang istri pelan, agar bisa lebih tenang.
'Gusti arek aya marabahaya naon ieteh. Kumaha carana, supaya sumpah anu ges mangtaun taun lilana ulah kajadian.' Batin Daryana berkecamuk tak karuan.
(Gusti akan ada marabahaya apa. Bagaimana caranya, agar sumpah yang sudah bertahun tahun lamanya, tidak terjadi.)
***
Ajeng berjalan gontai menuju pintu utama rumahnya. Sesampainya di depan pintu, Ajeng langsung membukakan pintu utama dengan perasaan tak karuan.
"Ajeng, kamu teh habis ngapain aja atuh? buka pintunya lama sekali. Saya teh lama loh, nungguin di sini."
Tanya seorang perempuan, begitu pintu langsung terbuka.
Mendapati perempuan itu telah menunggu lama dirinya. Ajeng merasa tidak enak, untuk mengatakan alasan sebenarnya.
Seorang gadis cantik sepantaran dengan Ajeng, yang mengenakan kebaya jarik berwarna abu itu.
Tampak menghembuskan nafas lega, kala sang tuan rumah akhirnya membuka pintu, setelah sekian menit dia menunggu.
"Tadi saya teh lagi mandi, jadi gak denger suara kamu."
Seru Ajeng tersenyum kikuk. Saat ini ia belum ada nyali, untuk mengatakan hal yang di sampaikan Abahnya tadi.
Intan yang mendengar penjelasan Ajeng, hanya menghela nafas kasar. Siapa yang tidak jengkel jika kita mengetuk pintu orang untuk bertamu, namun tidak ada jawaban dari sang tuan rumah.
Apalagi sampai menunggu di depan pintu beberapa menit. Rasanya Intan ingin mengamuk saat ini, tak biasanya Ajeng membuka pintu terlalu lama.
"Yang benar itu teh. Kamu teh, gak lagi bohong kan sama saya?"
Cetus Intan menatap Ajeng, dengan tatapan menyelidik.
"Aish, kamu teh bicara apa atuh. Ya enggak lah, saya gak lagi berbohong. Ayo masuk, kita bicaranya di dalam saja. Gak enak kalo bicara di depan pintu seperti ini, pamali."
Sahut Ajeng kemudian. Sebisa mungkin Ajeng tidak mengeluarkan gelagat aneh, yang bisa di curigai temannya itu.
Intan yang mendengarkan perkataan sahabatnya, hanya memutar bola matanya malas. Suka sekali sahabatnya itu, mengatakan fefatah kuno setiap waktu, jika ada kesempatan untuk menceramahinya.
Sekarang ini zaman Modern bukan zaman Ortodok lagi, yang apa apa harus mematuhi adat dan pamali.
"Jeng jeng, zaman udah maju kaya gini. Kamu masih percaya sama kata pamali, kuno tau."
Intan pun, mengekor di belakang Ajeng untuk memasuki rumahnya.
"Bukan masalah percaya atau tidaknya. Tapi ya, kita kudu saling menghargai papatah kolot bahela. Memang sok kadang enya kajadian, aya oge hentena."
Sahut Ajeng tegas. Begitulah sikap Intan jika di kasih tau orang, dia selalu ngeyel dan keras kepala. Pikir Ajeng.
Mendengar ucapan Ajeng, Intan menghela nafasnya kasar. "Terserah kamu lah jeng."
"Yasudah, silahkan duduk dulu. Ngomong ngomong, ada keperluan apa? kamu datang ke rumah saya."
Tanya Ajeng too the poin menatap sang sahabat.
Intan yang baru saja menghempaskan bokongnya di sofa, langsung menatap Ajeng tak percaya.
"Gusti, Ajeng. Kamu teh gak suruh aku minum dulu apa? malah tiba tiba ngobrol ke intinya." Sahut Intan kesal.
"Ouh, iya yaa. Yasudah, minum dulu tehnya? kebiasaan kamu mah suka kaya gitu."
Ujar Ajeng tertawa pelan, menutupi rasa jengkel kepada teman nya itu.
"Nah gitu dong. Gini kan enak jeng? kamu jangan marah ya sama saya, saya teh cuma bercanda jeng. Jangan di masukin ke hati ya." Sahut Intan tertawa tanpa beban.
"Haha iya tan. Lagi pula, saya udah biasa dengan sikapmu yang aneh itu."
Sahut Ajeng tertawa pelan. Mengingat permintaan Abahnya, Ajeng menjadi bingung harus bagaimana, dia menjelaskannya kepada Intan.
Tidak mungkin jika ia harus berterus terang kan? sudahlah, biarlah waktu yang menentukan saat itu tiba. Pikir Ajeng tak ambil pusing, perihal pepeling Abahnya.
Kini mereka berdua pun, bercerita ria dan mengatakan perihal kedatang Intan ke rumah Ajeng, sambil sesekali tertawa renyah.
"Oh, jadi kamu ke rumah saya teh, mau ngajak saya ke pasar malam toh. Kenapa gak bilang dari awal aja sih. Kamu udah bikin saya penasaran."
Ucap Ajeng cemberut, sambil menaik turunkan alisnya, karena heran dan sebal kepada temannya itu.
"Lagian memangnya kenapa? kalo saya gak langsung to the poin sama kamu, salah ya. Sudah lah, jangan marah begitu sama saya."
Ujar Intan tertawa, tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Iya saya maafin deh. Tapi lain kali, kamu teh jangan begitu lagi." Balas Ajeng dengan serius.
"Iya jeng, santai we atuh." Kikiknya pelan.
"Oh iya. Kamu mau ikut kan, ke pasar malam nanti sama saya jeng. Kamu tenang aja, kita perginya habis solat Ashar aja, biar bisa pulang sore."
Tanya Intan kepada Ajeng. Ajeng yang mendengarkan perkataan Intan pun mengiyakan perkataan temannya itu, tanpa rasa curiga sedikit pun.
***