Tak terasa matahari sudah tenggelam di ufuk barat, burung burung pun mulai beterbangan kembali ke habitatnya. Setelah sholat magrib, keluarga Ajeng berkumpul di ruang tamu.
Ada Ajeng, Daryana, Titin dan anak bungsu mereka yaitu Aldi, yang baru berumur 16 tahun kemarin.
Karena ada keperluan tertentu, Ajeng pun menghampiri Abah dan Ambunya. Ya, mau tidak mau Ajeng pun, harus meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi.
"Abah, Ambu, eneng teh mau bicara sesuatu?" tanya Ajeng dengan sopan.
Daryana dan Titin pun saling bertatapan dengan raut bingung.
"Kamu teh memangnya, mau bicara apa sama Abah dan Ambu, neng? tentu saja boleh atuh." Sahut Daryana tersenyum kecil, kepada anak sulung kesayangannya.
"Makasih Abah?" ujar Ajeng tersenyum manis kepada Abahnya.
"Iya neng, sok atuh gera nyarios. Katanya tadi, mau cerita sesuatu sama Abah?"
"Jadi gini, tadi siang kan Intan teh, datang ke rumah kita. Ternyata Intan mau ngajak Ajeng, buat pergi ke pasar malam besok. Sesudah solat Ashar bah, apakah Ajeng boleh pergi?"
Jelas Ajeng, dia melirik Abah dan Ambunya bergantian.
Ajeng mendadak lupa, mengenai pepeling Abahnya tadi siang. Jadi dia bertanya dengan santai.
Daryana melirik anak sulungnya dengan tatapan tak percaya. Baru tadi siang ia mengatakan pepeling, tapi anaknya ini malah melupakannya. Sungguh di luar prediksi, pikir Daryana.
Titin menatap Daryana lekat, mencari jawaban atas pertanyaan anak sulungnya itu. Daryana yang di tatap seperti itu oleh istrinya pun, langsung mengerti.
"Memangnya kamu sama Intan, mau ngapain di pasar malam neng? apa gak sebaiknya kamu di rumah aja."
Jawab Daryana, menolak keinginan anaknya secara halus.
Ada rasa sedikit jengkel di dalam hatinya, saat sang putri melupakan pepelingnya tadi siang.
Mendengar penolakan halus dari Abahnya, wajah Ajeng langsung murung lalu melirik Ambunya.
"Eneng cuma pengen jalan jalan aja, bah. Sekalian refresing mumpung lagi libur kuliah. Sebenernya Ajeng teh, bosen diam di rumah terus bah."
Balas Ajeng sambil menunduk, takut Abahnya marah. Melihat putri sulungnya menunduk seperti itu, Titin sebagai ibu merasa tak tega melihatnya.
"Bah, sebaiknya Abah izinin aja si eneng pergi sama Intan, ke pasar malam. Lagi pula kan, habis Ashar perginya bukan malam malam." Bujuk Titin kepada suaminya.
"Tapi Ambu? apa Ambu yakin, si eneng gak akan di bawa kemana mana. Selain ke pasar malam oleh si Intan?"
tanya Daryana ragu menatap sang istri. Saat ini hati Daryana, selalu di hantui oleh rasa khawatir dan takut kehilangan.
"Loh, kenapa Abah berpikiran buruk seperti itu. Gak baik bah, menuduh orang tanpa bukti."
Sahut Titin menasehati suaminya, agar tidak terus berprasangka buruk kepada Intan.
Daryana yang mendengar perkataan istrinya langsung tersadar, dan mengucapkan istigfar berulang kali.
Mengapa harus sekalut ini pikirnya, sampai sampai ia berprasangka buruk kepada orang lain.
"Maafkan Abah ya, neng? Abah sudah keterlaluan sama temenmu itu. Abah bener bener khawatir, sama kamu neng? tapi kalo itu kemauan kamu, ya Abah bisa apa."
"Jika kamu pengen pergi silahkan, asal jangan pulang lebih dari jam lima sore. Itu saja nasehat Abah, neng?" ujar Daryana kemudian.
Pria paruh baya itu pun, mengizinkan putrinya untuk pergi. Agar Ajeng tidak kecewa dan sedih karena dirinya.
Sebenarnya ia ingin sekali putrinya itu, tidak pergi dan tetap berada di rumah. Tapi apalah daya, sebagai seorang ayah, ia juga tidak mau mengekang putrinya terlalu keras.
Ajeng yang mendengar sang Abah mengizinkannya pergi, langsung berbinar dan tersenyum manis. Lalu memeluk Abahnya saat itu juga, saking senangnya.
"Makasih ya Abah, udah ngizinin eneng. Eneng akan selalu ingat nasehat Abah."
"Sama sama neng."
Daryana memeluk sang putri dengan erat, ada rasa takut kehilangan yang begitu nyata di dalam hatinya. Ia tersenyum bahagia, melihat putrinya tersenyum manis.
Melihat pemandangan di hadapannya, Aldi mendesis melihat sang kakak berperilaku manja seperti itu.
"Udah gede masih saja, seperti b***k letik. Sadar napa, teteh teh udah gede, ulah jiga b***k wae atuh kalakuan teh."
(Sudah besar masih saja, seperti anak kecil. Sadar napa, Mbak sudah besar, jangan berperilaku seperti anak kecil terus.)
Ujar Aldi dengan sewot. Anak laki laki remaja itu merasa jika kakaknya ini terlalu manja, dan ia risih melihatnya.
"Kamu teh, kalo syirik bilang aja jangan ngatain orang." Sahut Ajeng meledek adiknya.
"Sudah sudah jangan berantem."
Tegur Titin geleng geleng kepala, melihat kelakuan dua anaknya.
"Aldi tuh Ambu, syirik sama eneng." Ledek Ajeng sambil tersenyum mengejek.
"Apaan atuh. Ya tidak mungkin lah, aku teh syirik sama teteh. Buat apa lagi, syirik syirik segala. Dari pada teteh, umur ges gede kalakuan jiga b***k leutik haha."
Sahut Aldi tertawa kencang, laki laki remaja itu langsung kabur ke kamarnya. Sebelum di amuk oleh sang kakak karena sudah meledeknya.
"Aish adi pikasebelen." Sahut Ajeng geleng geleng kepala, melihat kelakuan adiknya.
(Aish adik menyebalkan.)
Daryana dan Titin tersenyum, melihat tingkah laku anak anaknya itu.
Pernah terbesit dalam benak Daryana, akan jadi seperti apa? jika suatu saat salah satu anaknya pergi.
Mungkin rumahnya tidak akan ramai, seperti sekarang oleh canda tawa, anak anak mereka.
***
Tok Tok
"Neng gera ugah tos jam 07.00?" teriak Titin sambil mengetok pintu kamar putrinya.
(Neng bangun sudah jam 07.00?)
Pintu pun terbuka, menampakan Ajeng dengan penampilan khas bangun tidurnya.
"Aish Aish, kamu belum mandi neng? mandi dulu atuh sana, meni barau kie ih. Ulah jorok atuh jadi parawan teh neng,"
(Aish Aish, kamu belum mandi neng? mandi dulu sana, badanmu bau kaya begini. Jangan jorok jadi anak perawan itu.)
Tegur Titin melirik putrinya dari atas sampai bawah. Sedangkan Ajeng yang masih mengantuk, menatap Titin samar samar.
"Hoammm.. iya Ambu iya. Ini juga eneng mau mandi kok." Balas Ajeng sambil menguap lebar.
Sumpah demi tuhan mandi adalah hal termalas, yang harus Ajeng lakukan selama di rumahnya sekarang.
Padahal dulu sewaktu masih tinggal di kosan. Ajeng selalu bangun pagi, bahkan terkadang olahraga pagi.
Entahlah, suasana di kota dan desa begitu sangat berbeda menurutnya. Karena hal itulah, yang membuatnya menjadi malas malasan.
"Cepetan atuh sana, gera mandi? Ambu mah ges teu kuat ah, barau kie."
Perintah Titin kepada putrinya, sambil menutup hidung. Lalu melenggang pergi meninggalkan Ajeng.
(Cepetan mandi sana, ibu sudah tidak kuat mencium baunya.)
"Iihhh.. Ambu mah kitu."
Teriak Ajeng tak terima, saat sang ibu menutup hidung, seperti menahan bau. Padahal menurutnya dirinya tidak bau.
(Iihhh.. ibu kok begitu.)
Gadis itu pun masuk ke kamarnya, sambil menekuk wajahnya sebal. Setelah kepergian Ambunya. Aldi sang adik menjahili kakaknya sambil berteriak kencang.
"Aish Aish, si teteh can mandi. Kumaha atuh, parawan teh jorok pisan ning nya. Palaur we, ke menangken jajaka nu loba brewokan haha.. haha."
(Aish Aish, Mbak belum mandi. Gimana kalau sudah seperti begitu ya, perawan kok jorok. Emang gak takut, nanti dapat cowok banyak brewoknya haha.)
Mendengar suara Aldi tertawa meledeknya.
Ajeng pun berteriak kencang, karena tidak terima di ledek berjodoh dengan laki laki brewokan. Menurut Ajeng itu sungguh menggelikan.
"Apaan sih kamu teh Aldi. Amit amit ih, sok ngadoaken te bener. Tuman dasar b***k pikasebelen."
(Apaan kamu Aldii. Amit amit pokoknya, suka mendoakan tidak benar. Dasar anak menyebalkan.)
Setelah mengatakan itu Ajeng pun masuk ke kamar mandi dan melanjutkan ritual mandinya. Sedangkan Aldi hanya cekikikan di kamar, mendengar teriakan sang kakak.
***
Tepat setelah Solat Ashar, Intan sudah tiba di rumah Ajeng. Gadis itu tengah berbincang bincang dengan Titin, sambil menunggu Ajeng selesai dandan.
"Tan, bibi teh mau cerita sedikit tentang Danau Wedari Ayu. Kamu mau dengar tidak cerita bibi?" tanya Titin kepada Intan.
Titin sengaja ingin bercerita, agar Intan tidak jenuh menunggu putrinya yang sedang dandan. Ya kalian tau sendirikan, kalau perempuan sedang dandan itu, membutuhkan waktu berapa lama.
"Boleh bi. Memangnya kalo boleh tahu, kenapa Danau Wedari Ayu yang ada di kampung kita teh, tidak di jadikan objek pariwisata?"
"Padahal menurut Intan yah. Danau Wedari teh meni gelis, bersih jeng caina herang. Walaupun warna caina hejo, jiga lukut."
(Padahal menurut Intan. Danau Wedari itu cantik, bersih dan airnya jernih. Walaupun warna airnya hijau seperti lumut.)
Sahut Intan antusias, ia memanfaatkan kesempatan bertanya lebih jauh, mengenai Danau Wedari Ayu yang sangat indah itu.
"Menurut sesepuh dahulu mah. Danau Wedari teh katanya, tempat Kanjeng Nyai Ageung mandi saseni getih di Danau itu, setiap jumat kliwon."
"Katanya mandi saseni getih teh, nyaeta mandi darah sakujur awak kanjeng ratu, untuk mempertahankan kagelisan jeng kangoraan nana."
(Katanya mandi saseni getih itu, adalah mandi darah sekujur tubuh kanjeng ratu, untuk mempertahankan kecantikan abadi.)
"Kalo masalah Danau Wedari, tidak di jadikan tempat wisata oleh pemerintah mah."
"Emang saur kokolot lembur urang, te di izinan neng? kan kamu tahu sendiri, banyak pantangan yang harus kita hormati."
(Memang menurut sesepuh dusun kita, tidak di izinkan neng? kan kamu tahu sendiri, banyak pantangan yang harus kita hormati.)
Sahut Titin serius dengan nada pelan. Dia melirik kesana kemari, seperti sedang menelisik sesuatu. Agar tidak ada orang yang mendengarkannya bercerita.
Titin menceritakan seputar Danau Wedari yang ia tahu, dengan raut muka kadang datar namun tiba tiba terlihat sendu, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Intan yang melihat perubahan raut wajah Titin curiga sebenarnya, namun ia tidak ingin tahu. Jadi hanya memilih diam mendengarkan Titin bercerita.
"Oh gitu ya bi. Lamun misalna urang teh berenang di Danau Wedari, sakali tawa dua kali. Kira kira akibatnya apa ya bi?" tanya Intan penasaran.
(Oh begitu Tante. Kalau misalnya kita berenang di Danau Wedari, satu atau dua kali. Kira kira apa akibatnya Tante?)
Raut Titin tiba tiba terlihat sendu dan nampak tidak nyaman, dengan pertanyaan yang di lontarkan Intan.
"Nya bibi juga tidak tau atuh, etamah neng. Ngan saur kokolot mah, walaupun pantangan eta ulah mandi lewih ti tilu kali di Danau eta, moal kajadian nanaon mah te ngajamin neng."
(Ya Tante juga tidak tahu. Cuma menurut sesepuh dahulu, walaupun pantangan tidak boleh mandi di Danau itu, lebih dari tiga kali. Tidak menjamin orang bisa selamat.)
"Soalna cek kokolot mah, b***k parawan katut umur 16 tahun nepika 26 tahun mah. Ulah mandi di dinya lewih ti tilu kali. Ngan lewih alus urang anu parawan, mening keneh ulah sakali sakali acan. Mandi tawa ngojay di Danau eta neng, amih urang ka jamin kasalametana nana."
(Soalnya kata sesepuh dahulu, gadis perawan dari umur 16 sampai 26 tahun. Di larang mandi di Danau Wedari lebih dari tiga kali. Lebih bagus lagi, jangan pernah mandi sekali pun. Biar kita terjamin keselamatanya.)
Jelas Titin dengan raut muka sebiasa mungkin.
Intan yang mendengar penjelasan Titin, merasa kurang puas dengan penjelasan yang di sampaikan. Gadis itu merasa ada yang salah dan sengaja di sembunyikan, dalam penjelasannya.
'Masa sih, kudu ulah sakali kali acan mandi di Danau eta. Bukannya pantangannya, cuma jangan mandi lebih dari 3 kali.'
(Masa sih, gak boleh mandi sekali aja di Danau itu. Bukankah pantanganya, tidak boleh mandi lebih dari 3 kali.)
'Saya teh yakin, kalo misalnya saya mandi di Danau itu, gak akan kenapa napa. Karena saya teh belum pernah sekali pun, mandi di sana.' Batin Intan.
***