Samara semakin pelan mendorong laju kursi roda Samran. Terlebih ketika mereka mulai memasuki kamar Asmara. Dulu rasanya biasa saja masuk ke kamar ini. Tapi sekarang rasanya jauh berbeda. Takut, khawatir, menegangkan.
"Dia tidur." Suster Lisa mendekati Asmara, membenarkan laju tetes infusnya. "Silakan duduk. Silakan di sini selama yang kalian mau. Kalau mau istirahat ada ranjang rambahan dan sofa panjang. Silakan digunakan. Dari pada mubadzir, hanya dibayar tanpa pernah digunakan sama sekali."
Samara tersenyum kecut. Tentu tak pernah digunakan karena orang tua Asmara tak pernah menginap di sini.
Suster Lisa kemudian pamit pergi. Tersisa mereka bertiga -- Samara, Samran, dan Asmara.
Padahal biasanya mereka juga tinggal bertiga. Namun entah mengapa suasananya begitu berbed