"Yah ... beneran pergi." Asmara menatap sang ayah sampai tak terlihat lagi sosoknya. "Bagus deh kalau gitu." Ia nampak begitu bahagia dan lega setelahnya. "Alhamdulillah, nggak ada baku hantam."
Samara pun nampak begitu lega. Ia bisa bernapas dengan leluasa sekarang. Pun demikian Samran.
Tekat bulat dan sugesti diri untuk tidak takut nyatanya cukup ampuh. Meskipun rasanya tetap penuh pacuan adrenalin.
"Bang Mara banyak kerjaan ya. Sibuk banget?" tanya Samran akhirnya.
"Iya, nih. Tapi untungnya sejak aku bantuin ayah, aku jadi dapet hp lagi. Habis ini bisa save nomor kalian lagi deh." Asmara lagi - lagi tertawa.
"Wah ... asik dong!"
"Asik banget lah. Ngomong - ngomong kerjaan kamu gimana Samran? Udah jadi melayani orang - orang sendirian kan? Kamu pasti bisa ka