Sepasang suami istri yang tengah duduk di ruang tamuku itu saling memandang. Ada garis melengkung tipis di wajah sang istri berparas anggun dengan khimar berwarna salem membingkai wajahnya. Tubuh langsingnya terbalut gamis indah, membuat tampilannya begitu mempesona.
"Jadi, inikah wanita pilihan Abang?" tanya sang istri, lembut menatapku.
Leo, pria yang dipanggil 'Abang' itu mengangguk pelan, pandangannya pun tertuju padaku.
"Sebenarnya, ini ada apa ya?" tanyaku ragu, "maksud kedatangan kalian kemari, tuh apa?"
"Aku ingin melamarmu untuk suamiku," jawab sang istri penuh keyakinan.
"Hah! Apa saya nggak salah dengar, Kak Maya dan Bang Leo kemari untuk melamar saya jadi istri ke dua?"
Kak Maya tersenyum menjawab pertanyaanku, tapi tidak dengang Bang Leo. Dia terlihat kikuk dan malu.
"Kak Maya, ini nggak lucu. Istigfar Kak." Aku menekan suara agar tidak berteriak, sehingga terdengar seperti perintah.
"Nggak bercanda, Vi. Ini serius, Bang Leo ingin poligami, dan dia ingin kamu menjadi maduku sebagai penebus dosanya di masa lalu."
"Apa!" Aku menjerit, seketika perasaan jijik dan muak muncul melihat pasutri ini, terutama pada Bang Leo.
"Sabar Vi, Maya sudah tau semuanya tentang masa lalu kita dan dia menerimanya." Akhirnya lelaki yang dulu menjadi cinta pertamaku angkat bicara.
"Terimakasih atas niat baik Kak Maya yang ingin menjadikan saya madu untuk Bang Leo. Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Bisakah kalian sudahi kujungan ini!" Aku mengusir mereka.
"Apa tak sebaiknya dipikirkan dulu, Vi. Usiamu juga sudah matang, jangan sampai lewat masa produktifmu." Pelan, Kak Maya menyebutkan kalimat terakhir dan justru semakin membuatku muak melihat wajah sok lembutnya.
Kenapa aku harus bertemu kembali dengan Bang Leo? Setelah hati ini sudah mulai pulih untuk melupakannya. Dua puluh tahun memang bukanlah waktu yang sebentar untuk melajang selama ini, tapi bagaimana lagi, aku yang saat itu berusia 19 tahun Jatuh cinta pada pria matang berusia mendekati akhir dua puluhan.
Pria yang siap menikah dari segi lahir maupun batin. Bang Leo, aku memanggilnya. Dia adalah cinta pertamaku. Awalnya begitu indah, Bang Leo begitu menjagaku, sikapnya sopan dan tidak macam-macam. Hingga, Mama Papa pun menaruh harapan. Kelak, dialah yang akan menjadi menantu mereka.
Tepat di hari jadi Bang Leo yang ke tiga puluh, dia memintaku pada Papa, untuk dijadikannya istri. Tentu saja orang tuaku setuju, dengan syarat pernikahan dilakukan setelah aku lulus kuliah, enam bulan lagi.
Bang Leo pun memperkenalkanku pada Orang tuanya. Sambutan yang tak pernah aku bayangkan diberikan oleh Mami, Bang Leo.
"Apa-apaan ini Leo? Kamu bilang Via hanya teman, kenapa sekarang menjadi pacar dan merengek minta menikah?" Suara Mami terdengar lantang, tak dihiraukan olehnya perasaanku.
"Via, gadis yang ingin Leo nikahi, bukan pariban pilihan Mami,"
"Mami tak akan memberi restu!"
"Leo tak butuh restu dari Mami."
Saat itu, hanya jeritan suara Mami memanggil nama Bang Leo yang aku ingat, ketika aku meninggalkan rumah megah keluarga Siregar.
"Gimana, Vi?" Suara Bariton milik Bang Leo membuyarkan lamunanku.
"Pergi, pergilah kalian dari rumahku," ucapku menahan isak yang sudah sedari tadi ingin aku lepaskan.
"Apakah kamu masih belum memaafkan aku Vi?"
"Aku sudah memaafkan Bang Leo."
"Lalu kenapa kamu menolak pinangan ini?"
Pertanyaan macam apa itu, tentu aku sudah memaafkannya tetapi aku belum dapat melupakan pengkhianatan nya dua puluh tahun lalu.
"Karena luka itu masih bersemayam di hatiku."
"Biarkan suamiku menyembuhkan luka yang pernah dibuatnya, Vi." Suara lembut dari Kak Maya, sukses menjebol pertahanan air mata yang sedari tadi aku tahan.
"Dengan menjadikan diriku istri keduanya?"
Hening sejenak.
"Jika memang ingin menebus kesalahan di masa lalu. Maka ceraikanlah istrimu."
Terlihat jelas ekspresi keterkejutan di wajah Bang Leo dan Kak Maya. Mungkin mereka sama sekali tak mengira kalau aku akan menolak dan memberikan syarat yang berat untuk menerima pinangan.
"Bagaimana?"
Lagi-lagi hening, baik Kak Maya maupun Bang Leo hanya saling menatap. Entah apa yang mereka diskusikan, tetapi rasanya syarat yang terdengar lancang itu sukses membuat Kak Maya dan Bang Leo pamit untuk undur diri.
"Saat ini sepertinya kamu sedang tidak bisa berfikir jernih. Kami dapat memakluminya. Tapi aku mohon, renungkanlah permohonan ini," pinta Kak Maya terdengar seperi tulus.
Sungguh menyebalkan mendengar suaranya yang begitu tenang dan terdengar lembut.
"Pikiranku selalu jernih. Sedari awal aku menolaknya sampai kapanpun tetap menolaknya. Aku benar-benar sudah memaafkan Bang Leo, tapi tidak untuk menerimanya kembali."
"Aku kira, kamu melajang selama ini hanya untuk menunggu suamiku. Rupanya aku salah. Maafkan aku ya Via, karena sudah lancang mengartikan jalan hidup yang kamu pilih."
"Tidak apa-apa. Jadi bisakah kalian pergi dari rumahku sekarang?"
*****
"Jika orang tua Bang Leo tidak datang melamar, papa tak akan memberi restu pada kita," ucapku kala itu, dua puluh tahun silam.
"Bagaimana bila kita kawin lari saja?"
"Nggak mau, ah."
"Kenapa, tak cintakah Via pada Abang?"
"Cinta, tapi ...." Belum tuntas aku bicara, pria bertubuh tegap dan berkulit putih itu mengecup pipiku, Itu adalah kecupan pertama buatku setelah setahun kami berpacaran.
"Via, maukan jadi istri Abang?" Lekat matanya menatapku. Membuat diriku tersipu dan menganggukan kepala dengan malu.
"Bang Leo. Pulang, yuk!" Pintaku padanya setelah melihat matahari yang mulai tenggelam di lautan. Suasana pantai pun sudah mulai sepi karena senja yang mulai merambat menggantikan siang.
"Aku lagi culik kamu, jadi jangan minta pulang dulu sebelum Papamu menghubungiku." Aku terkejut mendengar ucapannya.
"Jadi, Via lagi diculik?"
"Iya."
"Tebusannya?"
"Restu dari Papamu."
"Jika Papa, nggak mau kasih restu gimana?"
"Aku akan ...."
Cup!
Sebuah kecupan kembali dilayangkan Bang Leo untukku, kali ini bukan di pipi tapi di bibir. Aku termangu, bingung harus merespon apa. Yang aku rasakan hanya sentuhan bibir Bang Leo kembali beraksi membuatku berani merespon sentuhan bibirnya. Semua terjadi begitu saja ketika tubuhku direbahkan di atas pasir putih yang basah tersapu ombak. Bersaamaan dengan warna senja yang semakin pekat, aku menyerahkan kehormatanku pada Bang Leo.
Cinta.
Ya, saat itu, begitulah aku mengartikan cinta. Semua aku lakukan agar cinta kami dapat direstui.
****
Aku menutup mata, penuh kegusaran. Gelas kecil yang sudah terisi oleh urine, membuatku ragu untuk mencelupkan benda yang menyerupai batang kecil, alat pengecek kehamilan.
'Bismillah.'
Batinku dalam hati, berharap dengan menyebut namanya, Allah akan memberikan belas kasihnya padaku dan menghapus semua kegusaran selama tiga bulan yang tak kunjung mensturasi.
Mataku terbelalak mengetahui ada dua garis merah tercetak di bagian tengah stik yang aku genggam.