Seketika tubuhku merosot bersandar pada dinding kamar mandi, mengetahui ada dua garis dalam test pack tersebut.
"Vi, kamu tidak apa-apa? Bu Bidannya sudah nungguin, tuh." Suara Bang Leo dari luar mengembalikan kesadaranku kembali.
Aku pasti kuat, bukankah ini yang diinginkan Bang Leo agar mendapat restu dari kedua orang tua kami?
Setelah mengatur perasaan yang di d******i rasa takut, aku membuka pintu dengan senyum penuh keraguan. Bang Leo, aku harap kau tetap berada di sampingku. Kuserahkan hasil test urine tadi pada bidan yang bernama Tuti.
"Selamat ya Pak, istrinya hamil," ucap Bidan Tuti, semringah.
"Hamil?" Bang Leo tampak terkejut.
"Iya, wah kalau dilihat dari reaksi Bapak kelihatannya ini anak pertama ya?"
"Iya," jawabku, mencoba mengalihkan tatapan curiga Bidan atas reaksi Bang Leo. Dia seolah tak bisa menerima kenyataan bahwa aku hamil.
Selama penjelasan Bidan Tuti yang meminta agar aku dijaga baik jasmani dan rohani, mata Bang Leo terlihat begitu kosong, seakan tengah berpikir hal lain.
Kami menyudahi konsultasi kehamilan itu setelah tiga puluh menit berlalu. Begini ternyata rasanya hamil di luar nikah, semuanya serba menegangkan dan harus sembunyi-sembunyi.
Sepanjang perjalanan dari klinik persalinan di kota Tangerang tadi, Bang Leo dan aku tak banyak berbicara saat di mobil. Sorot mata pria yang telah menanamkan benihnya di rahimku, terlihat begitu gusar.
"Abang pasti kecewa mengetahui diriku hamil. Sangat tidak terduga, bukan?" Aku memberanikan diri membuka suara demi mencairakan suasana yang sedari awal keberangkatan kami ke klinik sudah terasa mencekam.
"Bukan begitu, aku hanya sedang berpikir bagaimana mengahadapi reaksi Papamu."
"Papa pasti meminta Abang untuk bertanggung jawab atas diriku."
"Aku tau, hanya saja ...." Bang Leo menepikan mobilnya.
"Abang tak ingin menikahiku?" Aku berharap dia mengatakan tidak, tapi rasanya itu mustahil. Melihat gelagatnya yang cukup mencurigakan dengan menepikan mobil, itu berarti ada hal yang harus kami diskusikan. Apakah dia akan memintaku untuk menggugurkan kandungan ini?
"Aku mau. Sangat mau, tapi tadi saat kau berada di kamar mandi, ada SMS dari Papi, memberitahu kalau Mami masuk UGD. Kamu sabar ya Sayang, hari ini tunda dulu ketemu Papa kamu." Tangan Bang Leo mengusap lembut kepalaku seperti tengah membujukku.
"Lalu, kapan?" Aku mencoba bersimpati meski hati kecil keberatan. Kenapa Mami Bang Leo harus sakit di saat hubunganku dengan anaknya tengah memasuki masa genting.
"Besok atau lusa aku akan ke rumahmu," ucap Bang Leo terdengar mantap.
Percaya dan pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan, toh sudah sejauh ini, Bang Leo masih tetap ingin mempertahankan cinta yang kami punya. Bahkan saat kemarin aku menceritakan bahwa sudah tiga bulan, aku telat mensturasi dia langsung mengajakku ke klinik, meski harus menempuh perjalanan jauh ke luar kota. Kami melakukan itu hanya menjaga agar tak ada orang atau kerabat yang melihat kenapa aku mengunjungi klinik bersalin.
Seminggu telah berlalu. Namun tak ada kabar satu pun dari Bang Leo, baik lewat telpon ataupun SMS. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, meminta kepastian kapan ia akan menemui Papa.
Nekat, aku mencoba menemui Bang Leo di kantornya. Jawaban yang mengejutkan aku dapatkan dari sekretarisnya setelah diriku tak berhasil bertemu dengannya.
"Hari ini Pak Leo,melangsungkan akad nikah, saya pikir sama Mba Via," ucap sekertarisnya dengan jemari yang menutupi bibir tebalnya, seperti menyesal telah keceplosan bicara.
Sekuat tenaga aku berjalan meninggalkan kantor Bang Leo, dengan perasaan kecewa yang teramat sangat. Bagaimana bisa kekasih yang aku percayai mengingkari semua janji yang dibuatnya.
Pikiranku buntu. Membayangkan harus hidup sendiri dengan perut membuncit tanpa suami. Apakah Mama dan Papa akan memarahiku karena malu memeliki anak gadis yang tak bisa menjaga kehormatannya? Haruskah aku melemparkan kotoran ke wajah mereka?
Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku tak ingin menyakiti hati ke dua orang tuaku. Bila ada orang yang harus menderita, itu adalah aku, bukan mereka.
Ciiit! Suara decit ban mobil begitu memekakkan telinga ketika tanpa pikir panjang lagi, aku menabrakkan diri di jalan raya yang tengah ramai, tubuhku terpental sejauh lima meter.
"Awas!" seru orang-orang mencoba menghentikan laju mobil yang ada di depan agar tak terjadi tabrakan beruntun.
Darah mengucur deras dari pelipisku, pendengaranku mulai berdenging, lalu perlahan pandanganku menjadi kabur dan semua menjadi gelap. Aku pingsan.
"Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan bayi yang tengah dikandungnya. Kaki kiri putri bapak mengalami kehancuran parah, kami meminta persetujuan bapak untuk segera melakukan tindakan amputasi, mohon jangan ditunda lagi, Pak." Samar kudengar dokter berbicara dengan Papa, setelah aku tersadar dari koma selama dua hari.
"Assalamualaikum." Suara Mama dari luar membuyarkan lamunanku.
"Waalaikumsalam," jawabku, bergegas mengambil barang bawaan Mama. Mama baru saja usai menginap dari rumah Mita, adikku. Ia selalu rutin mengunjungi adikku sebulan sekali. Maklumlah baru punya cucu dari si bungsu.
"Waktu Mama tidak di sini, apakah Ustadzah Maya dan suaminya datang berkunjung kemari?" tanya Mama.
Aku menjawab dengan anggukan pelan. 'Jadi rupanya ini ulah Mama' batinku. Oh ya, aku lupa memberitahu bahwa Kak Maya adalah guru Tahsin Mama, Itulah sebabnya aku bisa kembali bertemu dengan Bang Leo setelah dua puluh tahun.
Awalnya Mama sama sekali tak mengetahui kalau Bang Leo adalah suami Kak Maya, hingga suatu hari Bang Leo datang ke pengajian tempat istrinya mengajar. Mama terkejut saat pertama kali melihat calon mantunya yang tidak jadi itu. Mama juga sempat mengira kalau Bang Leo datang untuk menemuinya demi mencari diriku. Namun, Mama lebih terkejut lagi setelah tahu bahwa Bang Leo adalah suami dari guru ngajinya.
"Apa yang mereka bicarankan?" Kembali Mama bertanya.
"Mama nggak cape apa, habis dari Bandung?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak lah, orang dekat cuma perjalanan tiga jam doang, Bekasi-Bandung tuh. Terus, gimana kemarin? Apa yang mereka bicarakan? " Lagi, Mama terlihat tidak sabar aku abaikan.
"Ini oleh-olehnya banyak banget Mah, buat siapa aja segini banyaknya?
"Via, mama sedang bertanya loh ke kamu. Umur kamu tuh sudah tua, satu tahun lagi masuk kepala empat. Sampai kapan kamu melajang dan hidup sendiri?" Suara Mama terdengar serius.
"Sampai Allah mengirimkan jodoh untuk Via," jawabku santai.
"Ya, jodoh kamu itu Leo, dari dulu juga dia. Buktinya sekarang bertemu lagi."
"Mah!" Tak sadar suaraku meninggi.
"Kenapa, kamu gengsi untuk menerima Leo kembali? Merasa terhina karena hanya jadi istri ke dua? Poligami itu halal, Via. Lebih baik jadi istri ke dua daripada menjadi perawan tua."
"Mama?!" Tak hanya kupingku yang pedih mendengar ucapan Mama, hati dan mataku pun juga. Sekuat tenaga aku mencoba menahan agar tidak menangis di depan Mama.
Jika itu aku lakukan, maka hanya akan membuat Mama semakin khawatir dengan diriku. Wanita yang melahirkan dan membesarkanku itu sudah tak layak lagi untuk aku sakiti hatinya. Sudah tak ada Papa yang menghiburnya bila Mama sedih.
"Astagfirullah, maafin mama ya, Vi." Mama mendekat dan memelukku. Kubiarkan dirinya menangis dalam dekapanku.
"Bukannya Via malu atau gengsi, Ma.Hanya saja Via merasa berdosa bila menerima Bang Leo kembali. Karena Via dan Bang Leo lah Papa terkena stroke dan akhirnya meninggal."
Yah, setelah bunuh diri yang aku lakukan gagal. Papa tak bisa menerima kalau putri kesayangannya hidup sebagai gadis difabel.
"Tapi, Leo ingin menebus kesalahannya di masa lalu Via. Dia ingin memberikan kamu kehormatan agar tak lagi menjadi bahan gunjingan," Isak Mama, masih mencoba membujukku.
Haruskah aku menerima pinangan Bang Leo?