Ucapan Mama kemarin sore, sedikit banyak menggangu pikiranku. Apakah selama ini aku hanya menjadi beban untuk Mama karena hidup sebagai wanita lajang di usia yang seharusnya sudah memiliki dua atau tiga anak. Sebegitu inginkah beliau melihat diriku menikah dan berkeluarga? Lalu, kenapa pilihannya harus jatuh pada Bang Leo, pria yang telah menghancurkan diriku puluhan tahun yang lalu.
Ini tidak boleh terjadi, Mama tidak berhak memaksa aku untuk menerima pinangan pria b******k itu. Namun, siapa yang harus aku bujuk saat ini, Bang Leo kah? Atau Kak Maya, istrinya?
Tring!
Ornamen besi yang tergantung di atas pintu masuk toko kueku, berbunyi. Pertanda ada pelanggang yang memasuki toko ini.
Pria muda yang kutaksir berusia dua puluhan itu berjalan ke meja kasir tempat aku bereda. Senyum khas yang mengembang dihiasi oleh satu lesung di pipi kiri semakin membuat wajah orientalnya terlihat manis seperti perempuan.
"Risoles mayo dan lontong isinya satu, tambah white cofie, makan di sini." Ia memesan dengan suara bariton.
Semua pesanannya aku sajikan di nampan kecil dan meletakannya di meja kasir.
"Lima belas ribu."
Pria muda itu memberikan sejumlah uang yang kusebut.
"Mba, nggak butuh pegawai apa?" tanyanya membuatku terkejut.
"Kamu bisa masak?"
"Nggak bisa, tapi saya bisa ngegantiin posisi, Mba jadi kasir."
"Terus saya kerja apa dong?"
"Owner mah, nggak perlu kerja Mba, cukup ngawasin aja."
Dari mana anak ini tau kalau aku pemilik toko kue ini?
"Kamu tau dari mana saya owner di sini?"
"Karena tidak tiap hari, Mba berdiri di meja kasir. Biasanyakan di sana." Ia menunjuk ke sebuah sudut ruangan di toko ini.
"Kamu sudah sering ke sini?"
"Pacar saya, eh bukan, mantan pacar saya pelanggan toko kue ini. Saya sering nganterin dia kemari dan melihat Mba di sana." Tangannya kembali menunjuk sudut paforitku di toko ini.
"Kenapa kamu butuh pekerjaan ini?"
"Kena PHK Mba, dan butuh uang buat bayar kontrakan."
Terima jangan ya, tapi aku butuh, sih. Pegawai toko ini tadinya ada tiga orang dengan kasir. Tapi sang kasir baru sebulan kemarin mengundurkan diri karena ingin menikah di kampung dan memutuskan tidak kembali bekerja lagi.
"Gaji di sini tidak besar, kalau mau besok sudah bisa mulai kerja."
"Alhamdulillah. Hari ini saya juga siap," ucapnya girang sambil membawa nampan kuenya ke meja pengunjung. Dia menikmati pesanannya sambil menatapku.
Aku menghampirinya, sepintas dapat kulihat sorot mata yang terkejut karena melihatku menggunakan tongkat siku untuk membantu berjalan.
"Kamu mutusin kerja di sini, berarti nanti akan bertemu dengan mantan, apakah tidak malu?"
"Sudah mantan Mba, biarin aja. Daripada saya kelaparan." Pemuda itu menyeruput kopinya.
"Semoga kamu amanah ya."
"Insyaallah, saya akan buat toko kue ini tempat nongkrongnya anak muda." Dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan swafoto. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Dasar anak zaman sekarang, dikit-dikit selfie.
"Sini Mba, foto bareng saya." Tanpa ijin dariku dia mendekat dan ...
"Aciiis!" ucapnya, membidikan kamera depan ke arah wajah kami.
"Nama kamu siapa?"
"Faiz, Mba. Tapi biasa dipanggil Pey, sama teman-teman."
"Oke Pey, kamu batal kerja di sini karena sudah lancang memfoto saya tanpa ijin."
"Duh! Jangan dong Mba, saya minta maaf. Beneran butuh kerjaan ini. Oke saya hapus status WA saya, atau Mba yang hapus," pintanya padaku sambil menyerahkan ponselnya.
Aku meraih benda pipih dengan merk buatan negeri ginseng itu. Mataku terbelalak melihat _caption_ yang dia tulis di status WA nya.
_Bos baru gue yang cantik, loe semua nongkrong ke sini ya, Bro._
Baru saja aku hendak komplen padanya, denting ornamen besi di atas pintu kembali berbunyi. Beberapa pemuda datang dan lansung menghampiri kami, tepatnya menghampiri si Pey.
"Jangan pecat saya yang sudah membawa pelanggan kemari," ucapnya setengah berbisik di telingaku.
"Yakin mereka pelanggan?"
"Yakin."
*****
Kehadiran Pey di toko membuat aku melupakan pinangan Bang Leo sementara waktu. Anak itu benar-benar membawakan banyak pelanggan untukku. Toko kue yang biasanya hanya ramai dikunjungi oleh kaum hawa seperti para ibu dan wanita lajang, kini juga dikunjungi oleh para pria yang kebanyakan temannya Pey. .
Ia juga menyumbangkan beberapa idenya untuk toko kue ini. Seperti, aku harus menyediakan pesenan lewat _go food_ dan menambah kreasi menu. Seblak pun aku jual sekarang.
Dua pegawaiku yang bertugas di dapur sampai kewalahan, yang biasanya hanya sibuk di akhir pekan kini tiap hari menjadi lebih sibuk. Namun mereka senang, itu berarti tak ada pengurangan gaji di musim pandemi ini.
"Mba, ada pelanggan yang mau ketemu." Pey menjulurkan kepalanya dari balik pintu pembatas dapur dan kasir.
"Siapa?"
"Nggak tau, cowok ganteng. Pacarnya ya?" Pemuda tengik ini menggodaku. Pey, memang seperti itu, selalu ceria dan cepat akrab dengan orang. Dia sudah seperti adik atau anak bagi kami, aku dan ke dua kokiku yang sudah berstatus ibu.
Aku melepas apron dan membersihkan diri dari tepung. Pelanggan yang ingin bertemu denganku biasanya orang yang ingin memesan kue dalam jumlah banyak untuk pesta.
"Selamat siang, bisa saya bantu?"
Pria yang sedang memunggungi tubuhku itu membalikkan badannya.
"Siang," jawabnya ramah. Namun terdengar seperti sambaran petir buatku.
"Bang Leo!" Tanpa sadar suaraku terdengar seperti orang yang sedang tercekik.
Aku pun bergegas kembali ke dapur, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba saja berpacu begitu cepat.
Tidak aku hiraukan pertanyaan ke dua pegaiwaiku yang keheranan melihat wajah pucatku.
"Mba Via, sehat? Kenapa Mba, kok wajahnya pucat." Wati menghampiriku dan memapah diriku untuk duduk.
Seluruh sendi pada tungkai kakiku sepertinya berubah menjadi jelly sehingga aku tidak dapat melangkahkan kaki untuk melangkah.
"Minum. Boleh saya minta minum?" Akhirnya hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku setelah detak jantungku perlahan normal.
Segelas air dingin berhasil menyegarkan perasaanku. Pey kembali muncul untuk memberi tahu bahwa tamu yang baru saja aku temui masih menunggu.
"Suruh pergi saja Pey."
"Orangnya nggak mau Mba. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Mba." Jawaban dari Pey benar-benar membuat amarahku tersulut.
"Kamu itu sebenarnya pegawai dia atau saya?" Aku memaki Pey, pria itu tampak begitu terkejut. Kulit wajahnya yang putih mendadak memerah.
Ah, aku sungguh menyesal melihat ekspresi wajah terkejutnya. Pey pasti sangat malu karena telah aku maki di depan dua pegawai lainnya.
"Saya pegawai Mba Via," ucapnya lirih dengan suara seperti tercekat. Perasaan bersalah semakin menyelimutiku.
"Maafkan saya, Pey. Saya tak bermaksud marah padamu."
Pey mengangguk.
"Saya akan mengusir orang itu," ucapnya sambil memutar tubuh bersiap kembali menemui Bang Leo.
"Pey, tunggu. Biar saya saja yang menemuinya." Tanganku mencegah langkah Pey dengan menarik ujung bajunya.
"Serius? Mba Via akan baik-baik saja?"
Aku mengangguk, mencoba meyakinkan.