Tikungan kedua. Hatchback kuning itu masih menempel di belakang, lampunya menyilaukan dari spion. Galang merasakan setir bergetar di tangannya, ban berteriak di setiap belokan. Jalan di kawasan gudang ini sempit dan penuh jebakan—lubang, pasir, genangan air sisa hujan kemarin. Salah baca sedikit saja, mobil bisa melayang ke tembok beton.
"Kiri ada pasir!" teriak Doni dari kursi penumpang, mencengkeram pegangan di atas pintu sampai buku jarinya putih.
Galang menggeser garis balapnya beberapa senti ke kanan, menghindari tumpahan pasir yang bisa membuat ban kehilangan cengkeraman. Lawannya tak seberuntung itu—Galang melihat lewat spion, hatchback kuning sedikit oleng saat melindas pasir, melambat sepersekian detik.
Sepersekian detik itu cukup.
Galang menambah jarak, menjaganya di tikungan terakhir, lalu menukik ke garis finish yang ditandai dua orang dengan senter. Mobil tua itu melintas lebih dulu, hanya selisih setengah badan mobil. Selisih setipis lapisan cat.
Kerumunan bersorak. Sebagian terkejut—tak ada yang menyangka coupe tua reyot itu bisa mengalahkan hatchback yang lebih bertenaga. Galang menepi, mematikan mesin, dan untuk beberapa detik hanya bisa duduk diam, dadanya naik turun, tangannya gemetar di setir.
"KITA MENANG!" Doni meninju langit-langit mobil, tertawa setengah histeris. "Anjir, Lang! Kita beneran menang!"
Galang menoleh ke sahabatnya, dan tawa lega akhirnya pecah dari mulutnya. Lima juta. Mereka memenangkan lima juta. Kecil dibanding utang dua ratus dua puluh juta, tapi ini adalah bukti. Bukti bahwa rencana gila ini mungkin berhasil.
Anak muda pemilik hatchback kuning menyerahkan uang taruhan dengan wajah masam, tak mau menatap mata Galang. Galang menerima lipatan uang itu, lalu mengulurkan tangan. "Balapan bagus."
Anak itu menampik tangannya dan pergi. Galang menurunkan tangannya, sedikit terkejut, tapi tak ambil pusing. Ia masih terlalu sibuk merasakan denyut kemenangan pertamanya.
Malam itu mereka pulang dengan lima juta di kantong dan senyum lebar di wajah. Tapi seperti yang dikatakan Bang Karim—sekali masuk lintasan, kau tak bisa keluar lagi. Dan Galang masuk lebih dalam.
Hari-hari berikutnya, Galang kembali. Sekali, dua kali, tiga kali. Ia menang lebih sering dari kalah. Coupe tua itu—yang kini orang-orang mulai panggil "si Hantu Tua"—membuktikan diri di tikungan-tikungan sempit. Galang belajar membaca lawan, membaca lintasan, membaca momen. Tabungannya yang sempat menipis perlahan terisi lagi. Lima juta jadi dua belas, dua belas jadi dua puluh tiga.
Tapi balap liar bukan hanya soal kecepatan. Ada hierarki di sana, ada wilayah, ada ego. Dan semakin sering Galang menang, semakin banyak mata yang mengawasinya. Beberapa pembalap mulai menghindarinya. Beberapa lainnya menatapnya dengan tatapan yang tak ramah.
Suatu malam, setelah Galang memenangkan balapan keempatnya berturut-turut, seorang pria bertubuh besar menghampirinya. Tato memenuhi lengannya, dan di belakangnya berdiri tiga orang lain.
"Lu yang namanya Galang? Anaknya si Hantu Tua?" Pria itu menyeringai. "Lu mulai kebanyakan menang, Bocah. Orang-orang mulai ngomongin lu. Itu nggak bagus."
Doni melangkah maju, tapi Galang menahannya dengan tangan. "Gue cuma balapan, Bang. Cari rezeki kayak yang lain."
"Rezeki." Pria itu tertawa. "Di sini nggak ada rezeki, Bocah. Yang ada cuma uang yang lu rebut dari orang lain. Dan tiap kali lu rebut, lu bikin orang itu benci sama lu." Ia menepuk pipi Galang dua kali, pelan tapi merendahkan. "Hati-hati. Di lintasan ini, kemenangan bisa jadi alasan orang mau lihat lu mati."
Pria itu pergi dengan ketiga temannya. Doni menatap Galang, wajahnya cemas. "Lang, kayaknya kita udah keliatan terlalu menonjol."
Galang menatap punggung pria bertato yang menjauh. Hatinya berdebar, tapi bukan karena takut. Karena ia mulai mengerti—dunia ini punya aturan tak tertulis, dan ia baru menginjak anak tangga paling bawah. Di atas sana, jauh di atas, ada nama yang disebut semua orang dengan campuran takut dan hormat.
"Siapa raja di lintasan ini, Don?" tanya Galang pelan. "Yang paling atas. Yang taruhannya paling gede."
Doni menelan ludah. "Lu nggak mau tahu."
"Gue mau tahu."
Doni menghela napas. "Namanya Vino. Dia raja aspal kota ini. Belum pernah kalah. Mobilnya gila, timnya gila, duitnya juga gila. Orang-orang manggil dia 'si Dingin' karena dia nggak pernah keliatan emosi, bahkan pas balapan paling sengit. Dia mainnya di kelas atas. Taruhan sekali balap bisa lima puluh juta ke atas."
Lima puluh juta ke atas. Galang menatap kegelapan jalan, ke arah garis finish yang baru saja ia menangkan. Angka itu menggantung di pikirannya seperti umpan di ujung kail.
Tujuh belas hari tersisa. Dua ratus dua puluh juta masih harus dikumpulkan. Dan jalan paling cepat menuju angka itu, ia mulai sadar, melewati satu nama.
Vino.