Galang melihat Vino untuk pertama kalinya dua malam kemudian, di sebuah balapan kelas atas yang ia datangi hanya sebagai penonton. Ia ingin mempelajari musuh sebelum menantangnya.
Vino tidak seperti yang Galang bayangkan. Ia tidak berteriak, tidak menyombongkan diri, tidak dikelilingi gerombolan yang ribut. Ia berdiri tenang di samping mobilnya—sebuah coupe Jepang putih dengan turbo yang suaranya seperti raksasa menahan napas. Pakaiannya rapi, gerakannya hemat, dan matanya... matanya seperti permukaan danau di malam hari. Tenang, gelap, tak terbaca.
Balapan dimulai. Vino melawan seorang pembalap yang menurut Doni cukup disegani. Tapi sejak garis start, tak ada pertarungan yang sesungguhnya. Vino memimpin dari awal sampai akhir, mulus, presisi, seakan ia tahu setiap tikungan jalan ini lebih baik daripada ia tahu garis tangannya sendiri. Ia menang dengan jarak yang menghina—begitu jauh sampai lawannya seperti tak pernah ada.
Saat Vino keluar dari mobilnya, kerumunan menyambutnya dengan campuran kagum dan takut. Ia tak menanggapi. Ia hanya menerima lipatan uang taruhan, memasukkannya ke saku jaket tanpa menghitung, lalu menatap ke kerumunan dengan ekspresi datar.
Dan untuk sesaat, mata itu bertemu mata Galang.
Vino tidak kenal Galang. Tapi Galang merasakan sesuatu—seakan dalam sekejap itu, Vino sudah menilai dan mengabaikannya sebagai bukan ancaman. Galang merasakan sesuatu mengeras di dadanya. Bukan amarah. Tekad.
"Itu dia," bisik Doni di sampingnya. "Sekarang lu udah lihat. Sekarang kita pulang, oke? Kita main aman di kelas bawah. Pelan-pelan kumpulin uangnya."
Tapi Galang tahu pelan-pelan tak cukup. Dengan lima belas hari tersisa dan menang lima sampai sepuluh juta semalam, ia takkan pernah sampai dua ratus dua puluh juta tepat waktu. Ia butuh lompatan besar. Dan lompatan besar hanya ada di kelas atas. Di meja Vino.
Galang menunggu sampai kerumunan menipis, lalu melangkah mendekat. Doni menarik lengannya, "Lang, jangan—" tapi Galang sudah berjalan.
Ia berhenti beberapa langkah dari Vino. "Permisi."
Vino menoleh perlahan. Matanya menyapu Galang dari ujung kaki ke kepala, lalu ke "si Hantu Tua" yang terparkir di kejauhan. Sudut bibirnya naik sedikit, bukan senyum, lebih ke arah geli.
"Coupe tua itu punya lu?" tanya Vino. Suaranya pelan, dingin, terlatih. "Lu yang lagi ramai dibicarakan di kelas bawah. Galang, kan? Anak montir."
"Saya mau balapan sama Anda."
Beberapa orang di sekitar tertawa pelan. Vino tidak. Ia hanya menatap Galang lama, seakan menimbang sesuatu. "Tahu kenapa orang-orang ini ketawa?" Vino mengangkat dagunya ke kerumunan. "Karena mereka tahu apa yang akan terjadi. Lu naik kelas bukan dengan menang lima balapan recehan, Galang. Lu naik kelas dengan punya mobil yang pantas, tim yang pantas, dan nyali yang lebih dari sekadar nekat. Lu belum punya satu pun dari itu."
"Saya punya nekat," kata Galang. "Dan saya punya sesuatu yang Anda nggak punya."
Untuk pertama kalinya, alis Vino terangkat sedikit. "Apa?"
"Saya nggak punya apa-apa untuk dijaga. Anda raja. Raja takut jatuh. Saya udah di dasar."
Sesuatu berkelebat di mata Vino—terlalu cepat untuk dibaca. Ketertarikan, mungkin. Atau hanya rasa geli yang lebih dalam. Ia melangkah mendekat, sampai jaraknya hanya sejengkal dari wajah Galang.
"Lu tahu," kata Vino pelan, hampir berbisik, "lu mengingatkan gue sama seseorang. Orang yang dulu juga nekat kayak lu. Orang yang juga pikir aspal ini bisa nyelamatin hidupnya." Ia mundur. "Tahu di mana orang itu sekarang? Nggak ada. Aspal nggak nyelamatin siapa-siapa. Dia cuma nungguin lu lengah."
Galang menahan tatapan dingin itu. "Kalau gitu balapan sama saya. Buktiin saya cuma sampah kelas bawah."
Vino menatapnya lama. Lalu, akhirnya, ia tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tak sampai ke matanya. "Belum waktunya, Galang. Lu belum pantas berdiri di garis start gue. Kumpulin dulu modal lu. Menang dulu di kelas menengah. Kalau lu masih hidup dan masih punya nyali pas udah sampai sana, datang lagi ke gue. Mungkin gue layani."
Ia berbalik dan masuk ke mobilnya. Mesin turbo meraung, lampu menyala, dan coupe putih itu melesat keluar dari kawasan gudang, meninggalkan Galang berdiri di tengah debu dan asap.
Doni menghampirinya. "Tuh kan. Dia bahkan nggak nganggep lu."
Galang menatap arah perginya mobil Vino, rahangnya mengeras. "Belum. Tapi dia bakal nganggep gue. Gue bakal naik ke kelas menengah. Gue bakal sampai ke garis start dia, Don. Dan gue bakal ngalahin dia."