Naik ke kelas menengah butuh modal, dan modal butuh risiko. Galang mulai menaikkan taruhannya. Sepuluh juta. Lima belas juta. Tiap malam ia mempertaruhkan lebih banyak, dan tiap malam tubuhnya menua sedikit demi sedikit karena tekanan.
Ia menang lebih sering dari kalah—tapi kalah pun mulai datang. Satu malam ia kehilangan sepuluh juta dalam satu balapan karena gardan "si Hantu Tua" bermasalah di tengah lintasan. Uang itu lenyap dalam dua menit. Galang berdiri di pinggir lintasan, menatap mobilnya yang mogok mengepulkan asap, dan untuk pertama kalinya sejak memulai ini, ia merasakan dingin ketakutan yang sesungguhnya.
Untuk menutup kerugian dan memperbaiki mobil, Galang melakukan hal yang ia janjikan tak akan ia lakukan. Ia meminjam uang.
Pemberi pinjaman itu bernama Koh Aweng, seorang rentenir yang juga menguasai sebagian taruhan di lintasan. Pria gemuk berkacamata itu tersenyum ramah saat menyerahkan tiga puluh juta tunai, tapi senyumnya tak sampai ke matanya. "Bunga lima persen per minggu, Galang. Anak Surya, kan? Bokap lu juga dulu langganan gue. Sayang, dia nggak pernah lunas." Ia tertawa kecil. "Semoga lu lebih beruntung."
Galang menelan ludah dan menandatangani. Tiga puluh juta, bunga lima persen per minggu. Ia menghitung di kepalanya dan perutnya melilit. Tapi ia butuh mobil yang lebih baik, part yang lebih baik, untuk naik ke kelas menengah. Tak ada jalan lain.
Selama sepekan berikutnya, Galang membakar dirinya sendiri. Siang ia memperbaiki mobil, mengupgrade mesin "si Hantu Tua" dengan part-part yang lebih bagus—tapi ia menolak menempelkan turbo. Bukan karena tak mampu, melainkan karena ia tahu apa yang membuat mobil ini "si Hantu Tua": mesin NA ringan yang menari di tikungan, bukan monster lurus yang mengandalkan dorongan boost. Ia memilih jalan yang lebih sabar—porting dan polish kepala silinder, sepasang throttle body individu agar napas mesin lebih galak di putaran tinggi, gardan limited-slip bekas yang ia temukan susah payah, suspensi yang lebih keras, rem yang lebih pakem, dan ia mengupas bobot mobil sampai ke pelat-pelat yang tak perlu. Mobil itu tetap kalah di trek lurus dari mobil-mobil turbo—tapi di tikungan, ia jadi lebih tajam dari sebelumnya. Malam ia balapan, mempertaruhkan uang yang sebagiannya milik Koh Aweng. Ia kurang tidur, makan asal-asalan, dan tubuhnya mulai protes.
Doni mulai khawatir. "Lang, lu lihat diri lu di kaca nggak? Lu kayak mayat hidup. Mata lu cekung. Tangan lu gemeteran. Ini nggak sehat."
"Gue nggak punya pilihan, Don." Galang mengencangkan baut di mesin tanpa menoleh. "Utang Koh Aweng tumbuh tiap minggu. Utang bengkel makin dekat tenggatnya. Gue harus balapan lebih banyak, menang lebih banyak."
"Terus kalau lu kalah? Kalau lu kalah, lu utang lebih banyak ke Koh Aweng buat nutup, terus bunganya numpuk—Lang, ini lingkaran setan. Ini persis kayak yang bikin bokap lu jatuh dulu!"
Kalimat itu menampar Galang. Ia berhenti mengencangkan baut, tangannya membeku di kunci pas. Persis kayak bokap lu. Ia tak bisa menjawab, karena Doni benar. Inilah pola yang sama. Utang menutup utang, taruhan menutup taruhan, sampai aspal melahap segalanya.
Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Hari berikutnya, Koh Aweng mendatangi bengkel. Ia tak datang sendiri—dua orang berbadan besar berdiri di belakangnya, diam mengawasi. "Galang, anakku," kata Koh Aweng manis. "Minggu ini bunga lu belum dibayar. Tiga juta lima ratus. Gue cuma datang mengingatkan. Gue orang baik. Tapi orang-orang gue ini—" ia menunjuk dua pria di belakangnya dengan dagu, "—mereka nggak sabaran. Lu ngerti, kan?"
Galang menyerahkan tiga juta lima ratus, hampir seluruh kemenangannya malam sebelumnya. Tangannya nyaris kosong lagi. Koh Aweng menghitung uang itu, tersenyum puas, lalu menepuk pipi Galang—gerakan yang sama yang pernah dilakukan pria bertato dulu, gerakan yang merendahkan. "Bagus. Lu lebih rajin dari bokap lu. Pertahankan."
Setelah Koh Aweng pergi, Galang duduk di lantai bengkel, punggungnya bersandar ke ban mobil, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia menangis. Tanpa suara, hanya air mata yang mengalir di wajahnya yang berlumur oli.
Doni duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa. Tak ada yang bisa dikatakan. Ia hanya menepuk bahu sahabatnya, membiarkan Galang mengeluarkan semuanya.
"Gue takut, Don," bisik Galang akhirnya. "Gue takut gue jadi bokap gue. Gue takut gue udah jadi bokap gue."
Di luar, malam mulai turun. Dan di kejauhan, kawasan gudang lama mulai menyalakan lampu-lampunya, memanggil para pemburu malam untuk kembali. Aspal tengah malam tak pernah tidur, dan ia selalu lapar.