Malam itu hujan turun deras, dan lintasan ditutup. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Galang punya waktu untuk diam. Dan diam adalah hal yang paling ia takuti, karena dalam diam, kenangan datang.
Ia duduk di kamar belakang bengkel, kotak kayu ayahnya kembali terbuka di pangkuannya. Kali ini ia mengambil foto-foto lama, satu per satu. Ayahnya muda, tersenyum, berdiri di samping mobil-mobil mengilap. Di beberapa foto ada seorang pria lain di sampingnya, sebaya, dengan tawa yang sama lebarnya. Galang membalik foto itu. Di belakangnya ada tulisan tangan ayahnya: "Aku & Bayu. Juara, 2006."
Bayu. Galang pernah mendengar nama itu, dibisikkan dengan nada takut. Bayu adalah sahabat ayahnya. Bayu juga yang tewas di balapan terakhir ayahnya.
Galang menutup matanya, dan potongan-potongan cerita yang pernah ia dengar selama bertahun-tahun mulai merangkai dirinya sendiri. Ayahnya dan Bayu adalah duo tak terkalahkan. Mereka raja aspal di zamannya, sama seperti Vino sekarang. Mereka menang banyak, hidup cepat, membakar uang dan malam. Sampai satu balapan besar—taruhan terbesar dalam karier mereka—mengubah segalanya.
Galang ingat sepotong cerita dari ibunya, sebelum perempuan itu pergi. Malam itu ayahnya dan Bayu balapan di lintasan basah, sama seperti malam ini. Ada tikungan yang oleh para pembalap disebut "Tikungan Mati"—tikungan tajam di ujung jalan menurun, di mana banyak mobil kehilangan kendali. Ayahnya, yang selalu lebih nekat, mengambil garis dalam. Bayu, yang berusaha mengikuti, kehilangan cengkeraman di aspal basah. Mobilnya melayang, menghantam tembok beton. Bayu tewas di tempat.
Ayahnya selamat. Tapi sejak malam itu, Surya tak pernah sama lagi. Ia berhenti balapan. Ia tenggelam dalam rasa bersalah dan alkohol. Pernikahannya hancur, ibu Galang pergi, dan satu-satunya yang tersisa dari Surya adalah bengkel kecil dan seorang anak laki-laki yang ia besarkan dengan tangan gemetar dan mata yang selalu menyimpan sesuatu yang patah.
"Jangan pernah sentuh aspal itu, Galang." Galang bisa mendengar suara ayahnya sejelas malam ini. "Aku bunuh sahabatku sendiri di sana. Aku bunuh diriku sendiri di sana, cuma butuh dua puluh tahun buat tubuhku nyusul."
Galang membuka matanya. Air hujan menderu di atap seng bengkel. Ia menatap foto ayahnya dan Bayu, dua sahabat yang tertawa di tahun 2006, tak tahu bahwa salah satu dari mereka akan membunuh yang lain.
Lalu sesuatu menyita perhatiannya. Ia mendekatkan foto itu ke lampu, matanya terpaku pada wajah Bayu—sahabat ayahnya yang berdiri tepat di sebelah Surya, namanya sudah jelas tertera di balik foto. Galang menatap lama, dan perlahan sebuah pemikiran yang dingin merayap di tengkuknya. Mata itu. Garis rahang itu. Cara bibirnya menyungging tipis di tengah tawa. Galang mengenalnya—bukan dari masa lalu, melainkan dari sekarang.
Bayu sangat mirip dengan Vino.
Bukan mirip sembarang mirip. Mirip yang membuat napas Galang tertahan. Seakan kalau wajah dalam foto tahun 2006 itu dibuat muda sedikit lagi, dipangkas tawanya jadi datar, dan ditambahi ketenangan yang dingin, ia akan menjadi si Dingin yang berdiri di samping coupe putih di kawasan gudang.
Galang membalik foto itu lagi, menatap nama yang tertera di sana. Bayu. Ia menatap wajah itu lama sekali, dan untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya—apakah hubungan keluarganya dengan Vino lebih dalam dari sekadar dua pembalap yang kebetulan bertemu di lintasan yang sama? Apakah Vino punya hubungan darah dengan pria yang tewas di tangan ayahnya?
Saat itu pula, ucapan Vino dulu kembali terngiang: "Lu mengingatkan gue sama seseorang. Orang yang dulu juga nekat kayak lu. Orang yang juga pikir aspal ini bisa nyelamatin hidupnya."
Siapa yang Vino maksud? Apakah ayah Galang? Apakah Vino tahu siapa Galang sebenarnya sejak awal?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya sepanjang malam, bercampur dengan suara hujan dan bayangan tikungan mati. Galang tak tidur. Ia hanya duduk, memegang foto itu, menatap wajah Bayu yang begitu mirip Vino, merasakan masa lalu ayahnya dan masa depannya sendiri mulai bertabrakan di satu titik gelap yang belum bisa ia lihat dengan jelas.
Di luar, hujan akhirnya reda menjelang subuh. Dan Galang tahu satu hal dengan pasti: jalan yang ia tempuh ini bukan jalan baru. Ini jalan lama, jalan yang sama yang pernah ditempuh ayahnya. Dan ujungnya, ia mulai takut, mungkin juga sama.