Galang naik ke kelas menengah lebih cepat dari yang siapa pun duga. "Si Hantu Tua" yang sudah di-upgrade jadi monster kecil yang lincah, dan tangan Galang di setir makin matang dengan setiap balapan. Ia menang, lalu menang lagi, mengumpulkan uang dan—yang lebih berbahaya—reputasi.
Orang mulai menyebut namanya. "Galang, anak montir yang ngalahin si Hantu Tua jadi hidup lagi." Beberapa pembalap kelas menengah yang ia kalahkan menyimpan dendam. Tapi yang paling penting, namanya akhirnya sampai ke telinga yang paling tinggi.
Vino.
Mereka bertemu lagi di sebuah balapan besar, di mana Galang baru saja mengalahkan pembalap kelas menengah terbaik kota. Saat Galang keluar dari mobilnya, basah keringat dan masih bergetar oleh adrenalin, Vino sudah berdiri di sana, bersandar di mobil putihnya, menatap dengan ekspresi yang—untuk pertama kalinya—bukan sekadar mengabaikan.
"Lu cepet juga naiknya," kata Vino. Suaranya masih dingin, tapi ada nada baru di dalamnya. Pengakuan, mungkin. Atau peringatan. "Gue nggak nyangka lu masih hidup, apalagi udah sampai sini."
"Saya bilang saya bakal sampai ke garis start Anda."
"Iya. Lu bilang gitu." Vino menatapnya lama. "Tahu nggak, gue udah lama nungguin orang yang bener-bener bisa bikin balapan jadi balapan lagi. Bukan cuma gue memimpin dari awal sampai akhir terus pulang. Lu mungkin... orang itu."
Untuk sesaat, di antara dua pemuda itu, ada sesuatu yang nyaris seperti hormat. Tapi hanya sesaat.
"Tapi lu salah satu hal, Galang," lanjut Vino, suaranya mengeras kembali. "Lu pikir lu balapan buat nyelamatin bengkel bokap lu. Lu pikir lu beda dari kami semua. Lu nggak. Aspal ini udah masuk ke darah lu. Gue lihat di mata lu tiap kali lu menang. Lu nggak balapan buat uang lagi. Lu balapan karena lu ketagihan."
Kata-kata itu menghantam Galang lebih keras dari yang ia mau akui. Karena Vino benar. Di suatu titik dalam minggu-minggu terakhir ini, garis antara "balapan untuk menyelamatkan bengkel" dan "balapan karena ia hidup di atas aspal" mulai kabur. Setiap kemenangan memberinya sesuatu yang tak pernah ia dapat di tempat lain—rasa berkuasa, rasa bebas, rasa bahwa untuk beberapa menit, ia bukan anak montir yang dikejar utang, melainkan raja jalanan.
"Saya nggak kayak Anda," kata Galang, tapi suaranya kurang yakin.
Vino tersenyum tipis. "Belum. Tapi lu akan jadi kayak gue. Pertanyaannya cuma, lu mau jadi gue, atau lu mau ngalahin gue."
Persaingan di antara mereka tumbuh sejak malam itu. Bukan persaingan terbuka yang ribut, tapi sesuatu yang lebih halus dan lebih panas. Setiap kali Galang menang di kelas menengah, Vino tahu. Setiap kali Vino menang di kelas atas, Galang mendengarnya. Mereka belum pernah balapan langsung, tapi seluruh lintasan merasakan ketegangan yang membangun di antara dua nama itu.
Lalu situasi memanas. Salah satu pembalap suruhan—Galang menduga disuruh seseorang yang dendam—mencoba menyabotase "si Hantu Tua". Suatu malam, Galang menemukan baut roda mobilnya sudah dikendurkan diam-diam. Kalau ia tak teliti memeriksa mobil sebelum balapan, roda itu bisa lepas di kecepatan tinggi, dan ia akan mati di tembok beton.
"Ini Vino?" tanya Doni geram saat mereka memeriksa kerusakan.
Galang menggeleng pelan, menatap baut yang dikendurkan. "Bukan gaya Vino. Vino dingin, tapi dia nggak curang. Dia mau ngalahin gue di lintasan, bukan di parkiran." Galang mengencangkan baut itu, rahangnya keras. "Ini orang lain. Mungkin orang yang gue kalahin. Mungkin orang Koh Aweng yang mau gue tetep utang. Gue nggak tahu."
Tapi insiden itu mengubah sesuatu. Galang sadar dunia ini bukan sekadar balapan—ini perang. Dan dalam perang, ada yang main curang, ada yang main nyawa.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar menyebar di seluruh lintasan seperti api. Vino mengumumkan sebuah balapan besar. Balapan terbesar musim ini. Taruhannya gila—dua ratus lima puluh juta untuk pemenang tunggal. Dan Vino, untuk pertama kalinya dalam sejarah, mengundang semua nama besar untuk menantangnya, termasuk satu nama baru yang membuat seluruh kerumunan berbisik saat disebut.
Galang.
"Gue udah nungguin cukup lama," kata Vino lewat Bang Karim yang menyampaikan pesannya. "Bilang ke anak montir itu. Garis start gue udah kebuka buat dia. Kalau dia berani."
Dua ratus lima puluh juta. Cukup untuk melunasi bengkel dan utang Koh Aweng sekaligus. Cukup untuk membebaskan Galang dari semua jerat.
Atau cukup untuk menghancurkannya sepenuhnya.