Balapan besar itu dijadwalkan tujuh hari lagi—tepat di hari terakhir sebelum tenggat penyitaan bengkel. Seakan takdir sengaja menyusun semuanya ke satu titik.
Galang punya tujuh hari untuk menyiapkan dirinya dan mobilnya menghadapi balapan paling berbahaya dalam hidupnya. Lintasannya bukan kawasan gudang yang biasa. Vino memilih jalur khusus untuk balapan besar ini—jalan lingkar di perbukitan pinggir kota, jalur menurun panjang dengan tikungan-tikungan tajam, sebagian melewati tebing tanpa pembatas. Jalur legendaris yang sudah lama tak dipakai. Jalur yang, saat Galang menyelidikinya, membuat darahnya membeku.
Karena di ujung jalur menurun itu, ada sebuah tikungan. Tikungan tajam di ujung jalan, di atas tebing.
Tikungan Mati.
Jalur yang sama tempat ayahnya membunuh Bayu dua puluh tahun lalu.
Galang berdiri di tepi tikungan itu di siang hari, menatap ke bawah ke jurang yang menganga, dan untuk waktu yang lama ia tak bisa bergerak. Doni berdiri di sampingnya, sama membisu.
"Lu nggak harus lakuin ini," kata Doni akhirnya, suaranya pelan. "Kita cari jalan lain. Pinjam ke sana sini, jual apa yang bisa dijual—"
"Nggak ada jalan lain, Don. Lu tahu itu." Galang menatap jurang. "Dua ratus lima puluh juta. Ini satu-satunya angka yang bisa nyelamatin semuanya sekaligus. Dan ini di hari terakhir."
"Tapi tikungan ini—Lang, ini tikungan yang sama yang—"
"Gue tahu." Galang menutup matanya. "Gue tahu persis tikungan apa ini."
Selama enam hari berikutnya, Galang melatih dirinya seperti orang kerasukan. Ia datang ke jalur perbukitan itu di dini hari saat sepi, menghafal setiap tikungan, setiap perubahan permukaan aspal, setiap titik di mana ban bisa kehilangan cengkeraman. Ia berlatih masuk dan keluar Tikungan Mati ratusan kali, mencari garis tercepat yang juga teraman, merasakan batas antara cepat dan mati setipis sehelai rambut.
Doni jadi krunya. Mereka membongkar dan menyetel ulang "si Hantu Tua" sampai ke baut terakhir. Mengganti ban dengan kompon terbaik yang bisa mereka beli. Menyetel suspensi untuk jalur menurun. Galang menggunakan setiap rupiah yang tersisa, dan ketika itu tak cukup, ia meminjam lagi—kali ini bukan dari Koh Aweng, melainkan dari Bang Karim, yang anehnya mau membantu tanpa bunga.
"Kenapa lu bantu gue, Bang?" tanya Galang heran.
Bang Karim menatapnya lama. "Karena gue ada di sana, dua puluh tahun lalu. Gue lihat bokap lu dan Bayu di tikungan itu. Gue nggak bisa nyetop apa yang terjadi malam itu." Suaranya parau. "Mungkin kali ini gue bisa. Mungkin nggak. Tapi gue nggak mau lihat anak Surya jatuh di tikungan yang sama tanpa gue coba bantu."
Malam sebelum balapan, Galang tak bisa tidur. Ia duduk di bengkel, menatap "si Hantu Tua" yang sudah siap tempur, badannya mengilap di bawah lampu. Ia mengambil stopwatch retak ayahnya dari kotak kayu, menggenggamnya di telapak tangan.
"Bokap," bisiknya ke kesunyian bengkel. "Gue tahu Bapak bilang jangan pernah sentuh aspal ini. Gue tahu Bapak takut gue jadi kayak Bapak. Tapi gue lakuin ini buat nyelamatin yang Bapak tinggalin. Tempat ini. Satu-satunya yang gue punya dari Bapak." Air matanya menggenang. "Besok gue masuk tikungan yang sama yang ngambil semua dari Bapak. Doain gue, Pak. Sekali ini aja."
Pagi datang terlalu cepat, lalu siang, lalu senja. Dan ketika malam akhirnya turun, Galang sudah berada di garis start di puncak jalur perbukitan, mesin "si Hantu Tua" meraung rendah di bawah kakinya.
Di sampingnya, coupe putih Vino. Si Dingin menoleh, menatap Galang lewat jendela. Untuk pertama kalinya, ekspresinya bukan dingin. Ada sesuatu yang lain di mata itu—sesuatu yang nyaris seperti kesedihan.
"Lu tahu nama tikungan di ujung sana?" tanya Vino.
"Tikungan Mati," jawab Galang.
Vino mengangguk pelan. "Bokap gue mati di sana. Dua puluh tahun lalu. Bayu. Lu mungkin pernah dengar namanya."
Dunia Galang berhenti berputar. Bayu. Ayah Vino adalah Bayu. Wajah dalam foto tahun 2006 itu—wajah yang begitu mirip Vino—akhirnya punya nama yang pas. Orang yang dibunuh ayahnya di tikungan itu.
Sebelum Galang bisa berkata apa-apa, gadis di garis start mengangkat tangannya. Kerumunan diam. Mesin-mesin meraung naik.
Vino menatap lurus ke depan, ke jalur menurun yang lenyap dalam kegelapan. "Malam ini," katanya pelan, "kita selesaikan yang dimulai bokap kita."
Tangan gadis itu turun.