Ban berdecit. Dua mobil meloncat dari garis start, mesin meraung, lampu menyobek kegelapan. Jalur menurun langsung menukik tajam, dan Galang merasakan perutnya terangkat saat mobil melesat ke bawah, melawan gravitasi, melawan akal sehat.
Vino memimpin di tikungan pertama. Coupe putih itu bergerak presisi, mulus, seperti pisau membelah aspal. Galang menempel di belakang, jantungnya berdebar, kedua tangannya menyatu dengan setir. Ia menahan napas, menunggu, mempelajari garis balap Vino, mencari celah.
Tikungan kedua. Galang masuk lebih dalam, ban meraung, ekor mobil melebar lalu menggigit lagi. Ia menyusul di sisi luar, sejajar dengan Vino untuk sesaat—dua mobil berdampingan di jalan selebar satu setengah mobil, hanya beberapa senti dari saling bersentuhan. Galang bisa melihat wajah Vino lewat jendela, tenang dan fokus, mata terkunci ke depan.
Tikungan ketiga, keempat, kelima. Mereka bertukar posisi berkali-kali, saling menyalip, saling menutup garis, dua pembalap yang masing-masing membawa beban dua puluh tahun di pundak mereka. Kecepatan terus naik. Tebing di sisi kanan menganga gelap, tanpa pembatas, hanya udara kosong dan kematian di bawahnya. Doni, yang menonton dari puncak lewat radio, hanya bisa berdoa.
"Lang, pelan-pelan di tikungan terakhir!" suara Doni pecah di radio. "Itu Tikungan Mati! Jangan ngotot! Uang nggak penting kalau lu—"
Tapi Galang nyaris tak mendengar. Adrenalin membakar setiap selnya. Garis finish ada tepat setelah Tikungan Mati. Siapa pun yang keluar dari tikungan itu lebih dulu, menang. Dua ratus lima puluh juta. Bengkel. Warisan ayahnya. Semuanya menggantung di satu tikungan terakhir.
Jalur menurun panjang sebelum tikungan terakhir. Galang dan Vino melesat berdampingan, kecepatan tertinggi malam itu, mesin meraung di ambang batas. Tikungan Mati mendekat dengan cepat, tikungan tajam di atas tebing, tempat ayah Galang membunuh ayah Vino dua puluh tahun lalu.
Galang menatap tikungan itu, dan untuk sepersekian detik, ia melihatnya. Bukan hanya tikungan—ia melihat bayangan masa lalu. Ayahnya. Bayu. Aspal basah. Mobil yang melayang. Dan ia mengerti, dalam kilatan kesadaran yang dingin, bahwa malam ini sejarah berdiri di ujung jalan, menunggu untuk berulang.
Vino mengambil garis dalam—garis yang sama yang diambil ayah Galang dua puluh tahun lalu. Garis tercepat. Garis paling berbahaya.
Galang punya pilihan. Mengalah, mengambil garis luar yang lebih aman, dan kalah. Atau melawan, mengambil garis dalam juga, berdampingan dengan Vino di tikungan yang sama yang sudah menelan satu nyawa—dan mempertaruhkan keduanya.
Waktu melambat. Suara mesin menghilang. Galang hanya mendengar detak jantungnya sendiri dan, entah dari mana, suara ayahnya. "Aspal nggak ngasih ampun, Galang."
Tikungan datang.
Galang menarik napas, dan mengambil keputusan.
Ia menukik ke garis dalam, berdampingan dengan Vino, dua mobil masuk Tikungan Mati pada kecepatan yang seharusnya tak mungkin. Ban berteriak. Ekor kedua mobil melebar. Tebing menganga di sisi kanan, hitam dan tak berdasar. Untuk sepersekian detik yang terasa seperti selamanya, kedua mobil melayang di batas antara aspal dan udara, antara hidup dan mati, persis di titik tempat segalanya hancur dua puluh tahun lalu.
Lalu—
Sesuatu terjadi. Ban salah satu mobil kehilangan cengkeraman di aspal yang masih menyimpan lembap embun malam. Roda belakang melebar terlalu jauh. Mobil itu mulai berputar, ekornya mengayun ke arah tebing, lampu-lampunya menyapu kegelapan dalam putaran liar yang mengerikan.
Di puncak bukit, Doni bangkit berdiri, radio terjatuh dari tangannya. "GALANG!"
Suara benturan logam menggema di lembah, memantul dari dinding tebing, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.
Lalu, hening.
Hanya satu pasang lampu yang muncul dari mulut Tikungan Mati, melintasi garis finish, lalu berhenti perlahan di pinggir jalan. Pintu mobil terbuka. Seseorang keluar, terhuyung, menatap kembali ke arah tikungan, ke arah kegelapan tempat sepasang lampu lainnya tak pernah muncul.
Di kejauhan, dari dalam jurang, sebuah cahaya redup berkedip lemah di antara semak dan bebatuan—lalu padam.
Di saku jaket sosok yang terhuyung itu, ponsel bergetar sekali: pesan dari bank, mengingatkan bahwa kantor lelang buka pukul sembilan pagi ini dan amplop merah dengan stempel "EKSEKUSI" sudah menunggu di meja bengkel—kecuali pelunasan dua ratus dua puluh juta itu sampai tepat waktu. Pagi tinggal beberapa jam lagi. Dan sosok yang berdiri di pinggir jalan itu belum tahu apakah malam ini ia memenangkan warisan ayahnya, atau hanya kehilangan segalanya dua kali.
Siapa yang keluar dari Tikungan Mati malam itu, dan siapa yang tertinggal di dasar tebing, hanya kegelapan yang tahu. Dan kegelapan, seperti biasa, tidak pernah menjawab.
(Bersambung.)