Sosok yang terhuyung di pinggir jalan itu adalah Galang.
Lututnya nyaris tak menyangga tubuhnya. Ia berpegangan pada pintu "si Hantu Tua" yang masih terbuka, mesin di belakangnya masih batuk-batuk panas, knalpot mendesis mengeluarkan uap ke udara subuh yang dingin. Telinganya berdenging. Ada bau karet terbakar dan besi panas dan—di bawah semua itu—bau lembap embun yang tadi nyaris membunuhnya. Tangannya berdarah di buku jari, entah kapan. Ia tak ingat keluar dari tikungan. Ia hanya ingat menahan setir dengan seluruh tubuhnya, ekor mobil yang mengayun, lalu cengkeraman ban yang entah bagaimana kembali di sepersekian detik terakhir.
Ia hidup.
Dan Vino tidak ada.
Galang memaksa kepalanya menoleh ke arah Tikungan Mati. Tak ada lampu kedua di sana. Tak ada raungan mesin kedua. Cuma kegelapan, dan jauh di bawah, di antara semak dan bebatuan di lereng tebing, sebuah cahaya redup yang berkedip lemah lalu padam.
"Vino," gumamnya. Suaranya tak keluar. Ia menelan ludah dan mencoba lagi, lebih keras. "Vino!"
Tak ada jawaban.
Dari puncak bukit, jauh di atas, Galang mendengar suara yang memecah keheningan—langkah kaki menggebrak aspal, tergesa, terpeleset, lalu suara Doni yang serak meneriakkan namanya berulang-ulang. "GALANG! GALANG, LU DI MANA?!"
"Di sini!" Galang melepaskan pegangannya pada pintu mobil dan hampir jatuh. Kakinya seperti karet. Ia berjalan terhuyung beberapa langkah ke arah bibir jurang, ke arah tempat lampu Vino padam. "Don! Di sini! Vino—Vino jatuh!"
Galang berlutut di tepi tebing. Aspal masih basah oleh embun di sini, licin, persis seperti tadi. Ia menatap ke bawah dan perutnya melilit. Lereng itu curam, ditumbuhi semak liar dan batu-batu besar. Sekitar dua belas meter di bawah, tersangkut miring di antara sebatang pohon tumbang dan dinding tanah, coupe putih Vino. Catnya sobek, atapnya penyok, satu rodanya masih berputar pelan di udara. Lampu depannya yang tadi berkedip kini benar-benar mati.
"Vino!" Galang berteriak ke bawah, tangannya menangkup di mulut. "VINO! Lu denger gue?!"
Hening. Lalu—begitu lemah sampai Galang nyaris mengira ia membayangkannya—sebuah erangan. Pendek, parau, manusia. Dari dalam bangkai coupe itu.
Galang menutup mata sejenak. Lega dan ngeri datang bersamaan, bertabrakan di dadanya. Vino hidup. Untuk sekarang.
Langkah Doni akhirnya sampai. Doni berlari menuruni sisa jalan menurun, helm masih di tangan, wajahnya basah entah oleh keringat atau air mata. Ia menabrak Galang dalam pelukan yang setengah memukul. "Lu hidup. Anjir, lu hidup. Gue kira—gue lihat lampu cuma satu yang keluar, gue kira—" Suaranya pecah. Ia tak bisa menyelesaikan kalimat itu.
"Don." Galang menarik diri, mencengkeram bahu sahabatnya, dan menunjuk ke jurang. "Vino di bawah. Dia masih hidup. Tapi mobilnya nyangkut, dan kalau pohon itu lepas—"
Doni menatap ke bawah, dan wajahnya yang lega seketika berubah putih lagi. "Astaga."
Mereka berdua diam sejenak di bibir jurang, dua anak muda di subuh buta, dengan satu nyawa tersangkut di bawah mereka dan kegelapan menahan napas di sekeliling. Di atas, di puncak, lampu-lampu mobil para penonton mulai bergerak panik, beberapa membunyikan klakson, beberapa langsung melarikan diri sebelum polisi datang. Tak ada yang turun. Tak ada yang mau terlibat. Di dunia ini, kalau seseorang jatuh, ia jatuh sendirian.
Galang merogoh saku jaketnya. Ponselnya bergetar lagi—pesan dari bank, dingin dan otomatis, mengingatkan bahwa kantor lelang buka pukul sembilan pagi ini. Layarnya retak, tapi angkanya jelas. Pukul sembilan. Dua ratus dua puluh juta. Bengkel ayahnya.
Hadiah dua ratus lima puluh juta itu seharusnya jadi miliknya sekarang. Ia menang. Ia keluar dari tikungan lebih dulu. Tapi uang itu—uang taruhan yang dijanjikan bandar di garis finish—tergantung pada satu hal yang tak pernah ia hitung: ada pemenang yang masih berdiri untuk mengambilnya, dan kalah yang masih bisa membayar. Dan saingannya kini sekarat di dasar jurang.
Galang menatap ponselnya. Lalu ia menatap ke bawah, ke arah erangan lemah yang datang dari bangkai coupe putih.
Pukul sembilan. Atau Vino.
Untuk waktu yang terasa sangat panjang, Galang tak bergerak. Doni menatapnya, menunggu, tahu persis pertarungan apa yang sedang berlangsung di kepala sahabatnya.
Lalu Galang memasukkan ponselnya kembali ke saku.
"Tali," katanya, suaranya tiba-tiba mantap. "Ada tali derek di bagasi si Hantu Tua. Ambil. Kita turun."
"Lang—uang lu—"
"Persetan uangnya, Don." Galang sudah melepas jaketnya dan menyibakkan lengan baju. "Gue nggak mau jadi bokap gue. Gue nggak mau ada satu orang lagi mati di tikungan ini sementara gue cuma berdiri ngeliatin. Ambil talinya. Sekarang."