Tali derek itu kasar di telapak tangan Galang, baunya oli dan karat. Doni mengikatkan ujungnya ke bumper belakang "si Hantu Tua", mengencangkannya dua, tiga kali, menariknya sekuat tenaga untuk memastikan. Galang melilitkan ujung yang lain ke pinggangnya sendiri.
"Lu yang turun?" Doni mencengkeram lengannya. "Lu baru aja nyaris mati, Lang. Tangan lu gemeteran. Biar gue—"
"Lu lebih berat dari gue, dan lu nggak bisa baca posisi mobil itu kayak gue." Galang sudah memanjat melewati bibir jurang, telapak kakinya mencari pijakan di tanah yang lembap dan licin. "Lu jaga tali. Kalau gue teriak tarik, lu tarik. Ngerti?"
Doni mengangguk, rahangnya keras, dan menahan tali itu dengan kedua tangan dan seluruh berat tubuhnya.
Galang menuruni lereng selangkah demi selangkah. Embun membuat segalanya seperti kaca. Batu-batu lepas berguguran ke bawah setiap kali kakinya menggeser pijakan, jatuh ke kegelapan dan tak pernah terdengar mendarat. Ranting semak menggores wajah dan lengannya. Dua belas meter terasa seperti dua ratus. Sekali kakinya tergelincir, dan untuk satu detik yang mengerikan ia menggantung penuh pada tali, jantungnya melonjak ke tenggorokan, sebelum ujung sepatunya menemukan batu lagi.
Akhirnya ia mencapai coupe putih itu.
Dari dekat, kerusakannya lebih buruk. Atap penyok ke dalam, kaca depan retak jadi sarang laba-laba, satu pintu terlipat seperti kertas. Bangkai itu tersangkut miring, ditahan hanya oleh pohon tumbang yang akarnya setengah tercabut dari tanah. Di bawahnya, lereng tetap turun curam ke dasar lembah yang gelap. Kalau pohon itu lepas, mobil—dan siapa pun di dalamnya—akan meluncur ke bawah.
"Vino." Galang merangkak ke jendela samping yang pecah. "Vino, lu denger gue?"
Di dalam, terjepit antara setir dan jok yang terdorong maju, Vino. Wajahnya berlumur darah dari luka di pelipis. Matanya setengah terbuka, kabur, tak fokus. Kaki kirinya terjepit di bawah dasbor yang penyok. Tapi ia bernapas. Dadanya naik turun, lambat, susah payah.
"...Galang?" Suara Vino hanya bisikan, parau dan basah. Sudut bibirnya yang berdarah menyungging tipis, ironi yang aneh bahkan di ambang maut. "Lu menang... berarti."
"Diem. Jangan ngomong." Galang menjangkau ke dalam, mencoba menilai bagaimana kaki Vino terjepit. Dasbor menekan betisnya. Ia butuh mengungkitnya. "Gue keluarin lu dari sini."
"Buat apa..." Vino terbatuk, dan darah muncul di sudut mulutnya. "Lu menang. Bengkel lu... pergi sana. Ambil duit lu."
Galang berhenti sejenak. Di atas, langit subuh mulai memudar dari hitam ke kelabu. Pukul sembilan terus mendekat dengan setiap detik. Ia tahu apa yang Vino katakan adalah pilihan yang masuk akal—pilihan dingin, pilihan yang Vino sendiri mungkin akan ambil kalau posisinya terbalik. Tinggalkan dia. Selamatkan bengkel. Dunia ini tak pernah menyalahkan orang yang menyelamatkan dirinya sendiri.
Tapi Galang teringat foto di kotak kayu. Ayahnya dan Bayu, tertawa di tahun 2006, tak tahu satu akan membunuh yang lain. Ia teringat tangan gemetar ayahnya, mata yang selalu menyimpan sesuatu yang patah, dua puluh tahun rasa bersalah yang membunuh Surya pelan-pelan, jauh lebih pelan daripada tembok beton membunuh Bayu.
Galang tak mau mewarisi itu. Bukan utang. Bukan rasa bersalah itu.
"Gue bukan bokap gue," kata Galang, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Vino. "Dan lu bukan bokap lu. Malam ini kita nggak ngulang apa-apa."
Ia berteriak ke atas. "Don! Linggis kecil di kotak perkakas! Turunin lewat tali!"
Beberapa menit kemudian linggis itu meluncur turun ke tangannya. Galang menyelipkannya di antara dasbor dan kaki Vino, mengungkit dengan seluruh sisa tenaganya. Logam menjerit. Vino mengerang. Pohon penahan bergeser sedikit, dan tanah di bawah roda berderak. Keringat dingin membanjiri punggung Galang.
"Sebentar lagi," desisnya. "Tahan."
Dengan satu ungkitan terakhir, dasbor terangkat cukup. Galang menarik Vino keluar lewat jendela, perlahan, hati-hati, menahan kepalanya, takut akan cedera leher. Vino setengah sadar, tubuhnya berat dan lunglai. Di saat tubuh itu lepas dari mobil, pohon penahan akhirnya kalah—akarnya tercabut dengan bunyi robek yang mengerikan, dan bangkai coupe putih itu meluncur ke bawah, terguling sekali, dua kali, menghantam dasar lembah dengan dentuman tumpul yang menggema. Bersama mobil itu, lenyap pula segala harapan akan uang taruhan yang dijanjikan—lenyap ke dasar lembah yang gelap, tak bisa dijangkau, tak berarti lagi.
Galang nyaris tak memperhatikan. Ia sudah mengikat Vino ke tubuhnya dengan tali, dan berteriak ke atas dengan suara yang habis. "TARIK, DON! TARIK SEKARANG!"
Subuh hampir habis ketika Doni, dengan bantuan mesin "si Hantu Tua" yang merayap pelan menjauh dari jurang, menarik dua tubuh itu naik ke bibir jalan. Galang ambruk di aspal, dada Vino bergerak naik turun di sampingnya, dan langit di timur sudah berwarna jingga pucat.
Pukul sembilan tinggal beberapa jam lagi. Dan Galang tak punya satu rupiah pun untuk menyelamatkan bengkelnya.