Galang tiba di depan kantor bank pukul setengah sembilan, masih memakai jaket yang sama yang berbau bensin dan tanah dan darah Vino. Ia belum tidur. Belum mandi. Tangannya yang luka belum diperban benar, cuma dibalut kain lap dari bengkel. Matanya merah, dan di kepalanya masih bergema dentuman bangkai coupe putih yang jatuh ke dasar lembah, membawa serta dua ratus lima puluh juta yang seharusnya menyelamatkan segalanya.
Vino sudah di rumah sakit. Doni yang mengantar dengan motor butut sambil menahan tubuh setengah sadar itu di belakang, sebelum balik ke bengkel menjaga tempat. Mereka mendaftarkan Vino dengan nama dan tanggung jawab yang belum jelas siapa yang akan bayar. Galang tak punya waktu memikirkan itu sekarang.
Ia masuk ke kantor bank saat jam baru saja membuka. Lantai berkilap, AC dingin, bau parfum dan kertas. Dunia yang berbeda total dari aspal tengah malam. Petugas di meja menatapnya dengan ekspresi yang tak perlu diterjemahkan—anak kumal, jelas tak punya uang.
"Saya Galang. Pemilik Bengkel Surya. Soal eksekusi jaminan hari ini—"
Petugas itu mengetik sebentar, lalu menatapnya datar. "Pelunasan dua ratus dua puluh juta. Sudah tersedia, Pak?"
Galang membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Tak ada gunanya berbohong. "Belum. Tapi saya minta—saya butuh waktu. Beberapa hari saja. Saya—"
"Maaf, Pak. Tenggat sudah lewat berkali-kali. Berkasnya sudah masuk proses lelang. Saya tidak punya wewenang—"
"Tolong." Suara Galang pecah, dan ia benci betapa kecilnya suaranya terdengar di ruangan dingin itu. "Itu bengkel bapak saya. Satu-satunya yang—"
"Galang."
Suara itu datang dari belakang. Galang berbalik. Bang Karim berdiri di pintu kantor, mengenakan kemeja yang jelas jarang ia pakai, rambut kelabunya disisir rapi, wajah tua yang biasanya keras kini terlipat oleh sesuatu yang lebih lembut. Di tangannya, map cokelat.
"Bang Karim? Gimana lu tahu gue—"
"Doni nelepon gue subuh tadi. Cerita semuanya." Bang Karim melangkah masuk, menepuk bahu Galang sekali, lalu menghadap petugas dengan ketenangan orang yang sudah lama berurusan dengan dunia keras. "Pak, saya ingin bicara dengan kepala cabang. Soal penundaan eksekusi Bengkel Surya. Saya ajukan jaminan pribadi."
Galang menatapnya, tak mengerti. "Bang, lu nggak harus—"
"Diem dulu." Bang Karim tak menatapnya, matanya terkunci ke petugas. "Saya punya sertifikat rumah. Saya titipkan sebagai jaminan tambahan biar eksekusi ditunda. Anak ini bukan kabur. Dia cuma butuh waktu. Saya yang tanggung."
Negosiasi itu memakan hampir dua jam. Galang duduk di kursi tunggu, terlalu lelah untuk ikut campur, menonton Bang Karim—pria yang dua puluh tahun lalu hanya bisa berdiri menonton di tikungan saat semuanya hancur—kini berdiri di ruangan ber-AC ini, bertarung dengan kertas dan tanda tangan untuk menyelamatkan apa yang tak bisa ia selamatkan dulu.
Akhirnya, menjelang tengah hari, kepala cabang setuju. Eksekusi ditunda. Bukan dibatalkan—utang dua ratus dua puluh juta masih utuh, masih menggantung di leher Galang seperti tali. Tapi dengan jaminan pribadi Bang Karim, lelang ditahan. Bengkel selamat. Untuk sekarang.
Mereka keluar ke trotoar yang panas, matahari tepat di atas kepala. Galang berhenti, menatap Bang Karim, dan untuk beberapa saat tak bisa bicara. Tenggorokannya terlalu sesak.
"Kenapa, Bang?" tanyanya akhirnya, sama seperti pertanyaan yang pernah ia ajukan sebelum balapan besar. "Lu mempertaruhkan rumah lu. Buat gue."
Bang Karim menyalakan rokok, tangannya sedikit gemetar. Ia menatap lalu lintas siang yang ramai, ke wajah-wajah orang yang lewat, masing-masing tak tahu apa-apa tentang malam yang baru saja dilewati dua anak muda di atas tebing.
"Dua puluh tahun gue idup sama satu pertanyaan, Lang," kata Bang Karim pelan. "Kalau malam itu gue turun ke tikungan, kalau gue tarik tubuh Bayu lebih cepat, apa dia masih bisa diselamatin? Gue nggak akan pernah tahu jawabannya. Tapi tadi subuh, lu turun ke jurang itu. Lu yang ngangkat anaknya Bayu keluar." Ia menoleh, dan matanya basah. "Lu lakuin yang gue nggak berani lakuin dulu. Gue nggak bisa nyelametin Bayu. Tapi gue masih bisa nyelametin lu. Itu aja."
Galang menunduk. Bengkel selamat sehari. Tapi utang masih utuh, Koh Aweng masih menunggu, Vino masih kritis di ranjang rumah sakit, dan "si Hantu Tua" sudah babak belur. Tak ada yang benar-benar selesai. Hanya ditunda.
Tapi untuk pertama kalinya sejak surat merah itu datang, Galang merasa ia tidak sendirian menanggungnya.