Rumah sakit umum daerah itu tua dan sesak. Cat dindingnya mengelupas, kipas angin di langit-langit berputar malas, dan bau obat bercampur keringat menggantung di koridor. Vino terbaring di bangsal kelas tiga, ranjang nomor tujuh, di balik tirai hijau pudar yang membatasinya dari pasien lain.
Galang berdiri di ujung ranjang itu, menatap rivalnya.
Si Dingin yang dulu berdiri tenang di samping coupe putihnya, yang matanya seperti danau malam, kini terbaring tak berdaya. Kepalanya diperban, separuh wajahnya lebam keunguan. Selang infus menempel di punggung tangannya. Kaki kirinya digips dari paha ke betis, digantung dengan katrol. Monitor di sampingnya berbunyi pelan, teratur—satu-satunya tanda bahwa di balik wajah yang membeku itu masih ada hidup. Vino koma. Dokter bilang ada pembengkakan di otak, dan mereka cuma bisa menunggu.
Galang menarik kursi plastik dan duduk.
Aneh sekali. Kemarin malam ia ingin mengalahkan orang ini lebih dari apa pun di dunia. Ingin membuktikan diri di garis start Vino, ingin melihat si Dingin akhirnya mengakuinya. Dan ia menang—secara teknis, ia menang. Mobilnya keluar dari Tikungan Mati lebih dulu. Tapi kemenangan itu terasa seperti abu di mulutnya. Apa artinya menang kalau yang kalah terbaring koma dan uangnya hangus di dasar jurang?
Ia mengeluarkan dompetnya dan menghitung isinya. Beberapa lembar ratusan ribu, sisa terakhir. Biaya rumah sakit Vino sudah mulai menumpuk—obat, ruang, dokter, dan kalau perlu operasi otak, angkanya akan melonjak ke puluhan juta. Vino tak punya keluarga yang muncul. Tak ada yang datang. Bayu, ayahnya, sudah lama mati. Galang tak tahu di mana ibu Vino, atau apakah ia masih ada. Si raja aspal yang dikelilingi pengagum dan ditakuti seluruh kota, ternyata, sama sendiriannya dengan Galang.
"Kenapa lu sendirian, Vin?" gumam Galang ke tubuh yang tak sadar itu. "Lu raja. Tapi nggak ada satu pun orang lu yang datang. Sama kayak gue."
Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya bunyi monitor yang teratur.
Doni datang membawa dua bungkus nasi padang dan duduk di sebelahnya. "Tim Vino kabur semua tadi malam," kata Doni pelan, menyerahkan satu bungkus pada Galang. "Begitu tahu dia jatuh, mereka langsung ilang. Bandar juga lepas tangan. Katanya itu risiko pembalap, mereka cuma ngatur taruhan. Dasar."
Galang membuka bungkus nasinya tapi tak menyentuhnya. "Biaya rumah sakitnya gimana, Don?"
"Itu yang gue takutin lu tanya." Doni menghela napas. "Gue ngobrol sama administrasi tadi. Deposit awalnya udah harus dibayar besok. Lima juta dulu. Itu belum termasuk kalau dia harus operasi."
Lima juta. Galang menatap dompetnya yang nyaris kosong. Ia masih punya utang dua ratus dua puluh juta ke bank, masih punya utang ke Koh Aweng yang bunganya jalan terus, masih punya pinjaman tanpa bunga ke Bang Karim yang belum dibayar—dan kini, beban tambahan: nyawa orang yang seharusnya jadi musuhnya.
"Lu nggak harus tanggung dia, Lang," kata Doni hati-hati, membaca pikiran sahabatnya. "Dia bukan keluarga lu. Dia rival lu. Dia yang nantangin lu ke tikungan itu."
"Gue tahu." Galang menatap wajah lebam Vino. Garis rahang yang sama dengan Bayu di foto. "Tapi kalau gue ninggalin dia di sana, gue jadi persis kayak yang dilakuin bokap gue ke bokapnya. Gue bakal nyimpen ini di dada gue dua puluh tahun, Don. Gue bakal jadi bokap gue, mati pelan-pelan sama rasa bersalah." Ia menggeleng. "Gue nggak bisa. Gue udah ambil keputusan pas gue turun ke jurang itu."
Doni terdiam lama. Ia kenal kepala batu sahabatnya. Memarahinya hanya akan membuat Galang makin nekat. "Terus rencana lu apa?"
Galang menutup bungkus nasinya, bangkit, dan menatap monitor yang berbunyi teratur—satu garis hijau yang naik turun, membuktikan bahwa di balik wajah membeku itu masih ada seseorang yang bisa diselamatkan.
"Gue balapan lagi," kata Galang. "Tapi nggak buat bengkel doang sekarang. Buat dia juga. Sampai dia bangun." Ia menatap Vino. "Lu denger gue, Vin? Lu jangan mati. Gue nggak menang lawan orang mati. Lu bangun, terus kita selesaiin ini bener-bener. Bukan di tikungan. Di tempat lain."
Mesin monitor terus berbunyi, teratur, tak menjawab. Tapi Galang merasa, untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, bahwa di suatu tempat di balik kegelapan koma itu, Vino mendengarnya.