Waku menunjukkan pukul 22.00 malam. Hari sudah larut malam namun Carroline masih belum tidur. Pikirannya sedang dibebankan oleh kedua bola mata itu. Carroline pikir, Ansen hanya bercanda dan mungkin saja itu adalah bola mata mainan. Namun mana mungkin? Bola mata itu terlihat sangat nyata, ya meskipun tidak ada darah sedikitpun. Mugkin saja Ansen orang yang aneh.
Tok… tok… tok…
Terdengar suara ketukan pintu dari luar yang pastinya itu adalah Ayahnya.
“Hm? Masuk saja, pintunya tidak dikunci,” kata Carroline seraya bangun dari tempat tidurnya.
Aditya masuk ke kamar Carroline.
“Buatkan Ayah kopi panas,” pinta Aditya pada Carroline.
Carroline hanya menghempaskan napasnya dengan kasar. Carroline pergi ke dapur untuk membuat kopi untuk Ayahnya, ternyata serbuk kopinya habis dan harus membeli ke supermarket dahulu. Mau tidak mau, Carroline harus pergi ke luar.
“Ayah, kopinya habis. Aku harus pergi ke supermarket dulu.”
“Kopi nya habis? Bagaimana bisa? Dari pagi sampai malam kamu ngapain saja, hah?” ketus Aditya.
“Pagi aku harus pergi sekolah dan pulang jam 3 sore, setelah itu aku harus membereskan apartemen dan membutuhkan waktu yang lama. Aku harus mencuci baju, aku harus melipat baju, aku harus membereskan ini itu, Ayah pikir aku berleha-leha?” beber Carroline dengansedikit emosi.
“Ck, terus saja membantah,” decak Aditya.
Aditya memberikan sejumlah uang merah pada Carroline untuk membeli semua kebutuhan. Carroline pun segera keluar untuk pergi ke supermarket.
Selama dalam perjalanan hanya menggerutu dan berjalan dengan malas.
Brukk…
Carroline terjatuh akibat tabrakan dari seorang laki-laki yang berlari cepat dari belakang.
“Aw,” ringis Carroline yang terlihat lututnya mengeluarkan darah.
“Hei! Bisa tidak jangan lari-lari? Ini apartemen bukan lapangan!” teriak Carroline pada sang penabrak yang tidak tanggung jawab.
Setelah menabrak Carroline, si pria itu berlari begitu saja mengabaikan Carroline yang tersungkur ke lantai.
“Dasar gila. Sudah gila mana tidak bertanggung jawab pula,” umpat Carroline yang berusaha untuk membersihkan darah di lutut dengan baju bagian lengan Carroline.
Sesampainya di supermarket, Carroline mengambil satu troli dan mulai belanja kebutuhan. Suasana di supermarket tentu nya sudah sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja. Satu persatu Carroline mengambil kebutuhan pokok seperti gula, minyak, beras, dan lain-lain.
30 menit kemudian troli itu sudah sangat penuh, dan Carroline segera membawa ke kasir untuk registrasi.
“Semuanya sembilan ratus ribu rupiah,” kata si mbak kasir itu pada Carroline.
Carroline segera memberikan uang nya dan membawa barang-barang nya. Dirasa Carroline tidak mampu untuk membawa barang-barangnya, ia berniat untuk meminta bantuan pada sang Ayah. Namun tentunya pasti tidak mau dan akan dikatakan perempuan manja. Huh! Carroline jadi serba salah.
Tidak ada taksi satu pun yang melewat, seperti nya orang-orang sudah pada di rumah dan tertidur. Maklum ini sudah jam 11 malam.
“Ck, bagaimana ini? Aku tidak kuat membawa barang sebanyak ini, bus dan taksi pun tidak ada yang lewat,” ucap Carroline seraya berdiri di pinggir jalan dengan belanjaanya.
Meskipun jarak dari supermarket ke Apartemen itu tidak jauh, tetap saja jika membawa belanjaan sebanyak ini pasti terasa jauh dan melelahkan.
“Seperti nya tidak akan ada kendaraan lagi, apa aku harus berjalan ke Apartemen? Hah! Tidak mungkin juga aku membawa belanjaan sebanyak ini jika hanya jalan kaki.”
Carroline berpikir keras bagaimana cara nya agar sampai ke Apartemen tanpa merasa lelah.
“Hai, apa anda butuh bantuan? Tampaknya anda terlihat resah,” tiba-tiba saja seorang pria yang menabrak Carroline tadi menawarkan diri untuk membantu.
Carroline dengan wajah yang jutek nya langsung menyembur pada pria yang menabraknya tadi hingga lututnya luka.
“Hei! Kamu yang menabrakku tadi, ‘kan? Kamu tahu gara-gara kamu lututku terluka dan pastinya meninggalkan jejak hitam dilututku, selain itu kamu pergi berlari begitu saja tanpa meminta maaf. Bagaimana bisa aku menerima bantuan dari orang yang tidak bertanggungjawab sepertimu?” ketus Carroline.
“Baik, aku memang salah. Maka dari itu, aku ingin menebus kesalahanku karena membuatmu terjatuh tadi, jadi kamu mau menerima maafku dengan cara aku membantu membawa belanjaanmu ke Apartemen? Lagi pula kita satu Apartemen, bagaimana?” tawar si pria itu.
“Hmm, kali ini aku bersikap baik saja dahulu, ya? Aku malas untuk berbalas dendam, lagipula aku memang benar-benar butuh bantuan,” pikir Carroline.
“Okay.”
Si pria itu mulai membawa belanjaan Carroline yang banyak dan pasti nya berat juga. Mereka ke Apartemen dengan berjalan kaki, karena sudah tidak ada kendaraan dan sudah sangat larut malam,
“Namaku Raihan, kalau kamu?” tanya Raihan yang berusaha menyamana kaki nya dengan Carroline yang berjalan terlalu cepat.
“Untuk apa kamu menanyakan namaku? Tidak penting juga,” jutek Carroline yang rupanya masih menyimpan dendam pada Raihan.
“Umm ya sudah, tapi suatu saat aku akan tahu nama kamu. Oh iya, jalannya jangan terlalu cepat aku kewalahan,” protes Raihan.
Carroline terbiasa berjalan dengan cepat yang dapat membuat orang mengira bahwa Carroline sedang terburu-buru, padahal tidak sama sekali.
“Jalannya terlalu cepat atau aku saja yang lelet? Ah rupanya aku tidak dapat menyamakan langkah kakinya, ini membuatku frustasi. Seharusnya aku tidak menawarkan bantuan tadi, bisa tidak sih waktunya diulang saja?” batin Raihan dengan penuh penyesalan.
“Tanganku pasti akan keram, dasar kalap! Sudah tahu belanja sendiri, tapi malah banyak belanja,” gumam Raihan yang nyaris tidak terdengar.
Sudah 15 menit mereka berjalan, Carroline merasa sangat lelah padahal jarak dari Supermarket ke Apartemen tidak jauh. Carroline istirahat sebentar dan duduk di kursi jalanan.
Malam yang sepi dan melelahkan.
“Kenapa kamu duduk? Ayok jalan lagi, Gedung Apartemen sudah terlihat. Cepat hari sudah malam, besok aku harus sekolah,” protes Raihan pada Carroline.
“Aku lelah, istirahat dahulu sebentar,” ucap Carroline seraya mengatur napasnya yang tak karuan.
“Dia ini laki-laki bukan, sih? kenapa sangat cerewet sekali. Gender nya sangat dipertanyakan,” batin Carroline yang sebenarnya tidak tahan mendengar recokan Raihan sepanjang jalan.
Raihan merupakan siswa SMA kelas 12 di sekolah Garuda Bangsa. Raihan sosok laki-laki yang terbilang banyak bicara namun perhatian. Entah sejak kapan Raihan tetanggaan dengan Carroline dalam satu Apartemen. Tampaknya Raihan tertarik untuk berbicara dengan sosok Carroline. Semoga mereka menjadi tetangga yang baik.