Keesokkannya…
Carroline pergi berangkat sekolah bersama Ayahnya. Selama dalam perjalanan menuju sekolah tidak ada percakapan apapun antara Carroline dan Aditya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada sang Ayah tentang pekerjaannya. Carroline mencoba untuk bertanya pada Aditya.
“Ayah… ” panggil Carroline dengan pelan.
“Hm?”
Carroline mengumpulkan keberanian dan menarik napas terlebih dahulu.
“Ayah selalu memberikanku uang banyak dan kita selalu hidup mewah. Apa pekerjaan Ayah? Kenapa bisa menghasilkan uang sebanyak ini? Temanku bertanya padaku apa pekerjaan Ayah, dan aku tidak bisa menjawab itu,” alibi Carroline.
Carroline berbohong tentang temannya yang bertanya soal pekerjaan Ayahnya, tidak ada satupun yang pernah bertanya tentang pekerjaan Carroline.
“Kenapa kamu sangat ingin tahu pekerjaan Ayah?” tanya Aditya.
“Memangnya aku tidak boleh tahu? Bukankah aku anak Ayah?”
“Seharusnya kamu diam, dan jawab semaumu jika ada temanmu yang mempertanyakan pekerjaanku. Tidak apa-apa kamu berbohong, aku bisa menjadi apapun karena kita punya banyak uang,” jawab Aditya.
Ini bukanlah jawaban yang diharapkan oleh Carroline dan tentunya ini adalah jawaban yang mengecewakan.
“Beberapa temanku mengonsumsi n*****a dan mereka hidup bahagia. Aku juga ingin bahagia, Bagaimana jika aku mengonsumsi n*****a?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Carroline yang membuat Aditya terkejut bukan main.
“Kamu ingin mengonsumsi n*****a? Jika kamu mengonsumsi itu, tentu kamu akan mati ditanganku,” ancam Aditya.
Aditya tidak habis pikir dengan putrinya yang keras kepala dan terlalu pemberani. Tentu ini sangat ditakutkan oleh Aditya karena sifat putrinya selain pemberani, ia pun akan bertindak sesuai kemauannya.
“Cis! Aku sudah kebal dengan ancamanmu. Aku tidak takut lagi,” batin Carroline.
Sesampainya di sekolah, Carroline disambut hangat oleh teman-temannya.
“Hai. Good morning Carr,” sapa Mei pada Carroline.
Carroline sedikit tersentuh dengan temannya yang menunggu Carroline di depan kelas dengan sebuah sapaan di pagi hari.
“Good morning, Mei. Ah iya, hari ini ada ujian, ‘kan?” tanya Carroline pada Mei seraya berjalan ke dalam kelas.
“Iya, hari ini ada Ujian,” jawab Mei.
“Tidak, hari ini tidak akan ada ujian,” sela Dewa yang tiba-tiba datang dari belakang.
Mei dan Carroline mengerenyitkan kedua alisnya.
“Kata siapa?” tanya Mei pada Dewa yang sudah duduk di bangkunya.
“Lihat saja nanti.”
Mei dan Carroline saling menatap satu sama lain. Jika memang benar, Carroline senang jika Ujiannya tidak jadi dilaksanakan hari ini karena semalam Carroline pulang malam bersama Raihan dan akhirnya tidak belajar untuk Ujian.
“Ya sudah, kita lihat saja nanti. Jika gurunya masuk, aku akan menebas kepala si Dewanta yang sangat so’ tahu,” canda Mei.
Mereka duduk di bangku masing-masing dan membuka buku pelajarannya untuk kesiapa kegiatan belajar hari ini. Carroline membuka buku Fokus dan mencoba untuk memahami materi, namun rasanya kelas sangat ramai dan berisik. Itu membuat Carroline tidak dapat berkonsentrasi.
“Sepertinya anak-anak sudah pada datang, kelasnya berisik dan aku tidak dapat berkonsentrasi,” batin Carroline.
Carroline memang bukan anak pintar yang selalu mendapatkan rangking dikelas. Tapi, setidaknya Carroline mau belajar bersungguh-sunguh. Namun, kali ini Carroline sepertinya tidak dapat belajar dengan konsentrasi penuh.
Saat Carroline focus memahami materi, datanglah Ansen teman sebangkunya.
Brukk…
Ansen menyimpan tas gendongnya dengan tidak santai hingga menimbulkan suara keras dan membuat Carroline teralihkan.
Carroline terkejut. Suara yang berisik itu hilang saat Carroline mendongakkan kepalanya dan menyapu seluruh ruangan. Tampaknya mereka belum datang semua dan yang ada dikelas itu hanya ada Carroline, Ansen, Mei, dan Dewanta. Itu pun mereka sibuk bermain ponsel dan membaca buku.
“Aneh, Perasaan tadi banyak suara dan berisik. Kenapa sekarang henin sekali?” batin Carroline.
Carroline dibuat bingung dan merinding. Ansen melihat Carroline yang terdiam melamun.
“Seharusnya kamu sudah sadar saat ini. Bodoh sekali,” kata Ansen dalam hati.
Carroline mencoba untuk selalu berpikir dengan positif, Carroline pikir mungkin ini adalah halusinasi nya karena kurang tidur semalam dan tidak fokus.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, namun belum ada satupun guru yang masuk untuk memberikan mereka tugas atau apapun. Carroline mulai bosan dan mengantuk. Begitupun dengan Ansen yang sama-sama sedang bosan.
“Ah membosankan,” ucap Ansen dan tidak sengaja menoleh pada Carroline yang tertidur di meja.
“Cis! Bisa-bisanya dia tidur di kelas, dasar lemah.”
Ansen merasa sangat bosan dan memutuskan untuk pergi ke rooftop. Setibanya di rooftop, Ansen mengeluarkan sebatang rokok dan korek api. Ansen mulai menghisap rokok tersebut.
“Hari ini aku lemas sekali, tidak ada darah yang harus aku isap,” gumam Ansen.
Ansen melihat kucing yang tampaknya sehat bugar, karena Ansen lapar. Darah kucing pun jadi santapan hari ini. Tanpa basa-basi, Ansen menangkap kucing itu dan langsung melahapnya dengan hidup-hidup.
“Ahh, darah nya tidak seenak darah manusia. Rasanya aku ingin muntah,” sesal Ansen.
Ansen kembali merokok untuk menghilangkan rasa mual.
Dibalik itu, ada seseorang yang melihat lahapnya Ansen memkan kucing dengan hidup-hidup.
“Apa-apaan ini? Dia seperti bukan manusia,” batin Carroline dengan jantung yang sangat berdebar.
Carroline berniat mencari angin segar, tapi malah melihat hal yang keji.
“Ansen, dia benar-benar bukan manusia.”
Carroline saat ini terlalu takut untuk melangkah dan hanya bisa diam berdiri. Ansen sadar dengan kehadiran Carroline sebelumnya, namun Ansen membiarkan Carroline melihatnya.
Ansen tiba-tiba datang menghampiri Carroline yang diam membeku. Mereka saling menatap satu sama lain. Ansen terpesona melihat bola mata Carroline yang indah dan berbeda dari yang lain.
“Bola matamu bagus juga,” puji Ansen.
Carroline masih terdiam seolah-olah mulutnya terkunci.
“Bisakah aku memiliki kedua bola matamu?” tanya Ansen dengan wajah yang terlihat menginginkan bola mata Carroline.
“Ma- maksud kamu?” kata Carroline dengan terbata-bata.
“Apa aku bisa meminta kedua bola matamu? Mengapa kamu telat sekali menangkap apa yang aku katakan?” kesal Ansen.
Carroline menelan ludahnya dengan kasar, rasanya Carroline sedang berada dalam bahaya.
Ansen tersenyum dengan lebar dan tentunya itu bukan senyuman tulus, melainkan senyuman bermakna lain.
“Aku harus pindah dari sekolah ini. Ansen tampaknya seperti seorang psikopat dan bisa membunuh siapa saja,” batin Carroline.
Carroline pergi ke kelasnya kembali, namun hatinya masih merasa takut dengan Ansen dan Carroline baru ingat bahwa dirinya duduk sebangku dengan Ansen.
Carroline duduk dan bersikap seolah-olah tidak ada kejadian apapun dan berusaha untuk tidak menatap dan tidak berkomunikasi dengan Ansen.
Ansen melihat Carroline yang sedang menundukkan kepalanya yang terlihat menyibukkan diri.
“Aku tahu kamu takut, tapi jangan terlihat seperti orang bodoh,” gumam Ansen.
Carroline mendengar apa yang diucapkan oleh Ansen dan itu tentunya tertuju pada Carroline.