Hari kedua berlalu nyaris membosankan, dan kebosanan itu hampir membuat Sahala yakin malam pertama hanyalah kelelahan yang bermain di kepalanya.
Saat surut, ia turun ke dermaga dan memeriksa keadaan menara di siang hari. Lumpur terbentang lagi sejauh mata memandang, berlubang-lubang bekas kepiting, berbau busuk yang manis. Ia menemukan tangki air hujan di sisi menara, generator kecil yang sudah lama mati, dan tumpukan jeriken minyak untuk lampu. Ia mencatat semuanya dalam kepalanya seperti dulu mencatat muatan kapal: rapi, praktis, tanpa drama. Pekerjaan ini, ia putuskan, bisa ia jalani. Tiga bulan saja. Tiga bulan upah menara akan melunasi ibunya dari cengkeraman Pak Sirun, dan ia tidak akan pernah kembali ke tempat berlumpur ini.
Malam datang, air naik, ia menyalakan lampu tepat waktu kali ini, jauh sebelum air mencapai gundukan. Ia duduk di ruang penjaga dengan lampu minyak menyala, persis seperti aturan kedelapan, walaupun ia menyalakannya bukan karena aturan melainkan karena ia memang butuh penerangan. Begitu ia membenarkan pada dirinya sendiri.
Ia hampir tertidur ketika suara itu datang.
Pertama ia mengira itu burung. Lalu ia mengira itu angin yang menemukan celah baru di beton. Tapi suara itu kembali, lebih jelas, dan kali ini tidak ada keraguan: itu suara manusia, memanggil dari arah laut, dari tengah air hitam yang tak mungkin ada manusia berdiri di atasnya.
"Halooo."
Sahala membeku. Ia menoleh ke jendela. Di luar tidak ada apa-apa selain pantulan kuning lampu menara di air yang diam.
"Halooo, ada orang di dalam?" Suara itu ramah, hangat, sedikit serak seperti orang yang baru bangun. Suara orang yang kelelahan dan kedinginan dan butuh pertolongan. "Aku tahu kau di situ. Lampunya nyala. Aku lihat dari sini."
Kaki Sahala bergerak sendiri ke arah jendela sebelum akalnya menyusul. Ia berdiri di sana, tangan di kusen, menatap keluar. Ada bentuk di tengah muara. Jauh, samar, hanya bayangan yang lebih gelap di atas air gelap, tapi bentuk itu bergerak, melambai.
"Tolong," kata suara itu. "Perahuku terbalik. Aku terdampar di beting. Air naik terus. Kau penjaga, kan? Sini, lempar tali, atau turun ke dermaga sebentar saja. Aku tidak bisa berenang lama-lama lagi."
Mulut Sahala membuka. Setiap saraf di tubuhnya menjerit untuk menjawab, untuk berteriak bertahanlah, aku datang, sebab itulah yang dilakukan manusia ketika manusia lain tenggelam. Ia bukan monster. Ada orang sekarat di luar sana.
Lalu matanya jatuh ke buku catatan yang masih tergeletak di meja, dan baris pertama itu seperti tangan dingin di tengkuknya. Jangan pernah membalas sapaan dari arah laut sebelum pukul tiga. Ia melirik jam tua yang tergantung di dinding, jam milik Pak Lahmudin yang masih berdetak setia. Setengah tiga lewat sepuluh menit.
Ini gila, pikirnya. Ada orang tenggelam dan aku diam karena tulisan orang mati.
"Sahala," kata suara itu.
Seluruh darahnya berhenti. Ia tidak pernah menyebut namanya. Tidak pada siapa pun di menara ini. Tidak pada pengemudi perahu, yang tidak pernah bertanya.
"Sahala, ayolah, aku kedinginan," suara itu mendesah, dan ada sesuatu yang berubah di dalamnya, perubahan yang terlalu halus untuk dijelaskan namun terlalu jelas untuk diabaikan. Keramahan itu mulai terasa seperti topeng yang dipakai oleh sesuatu yang tidak benar-benar tahu cara memakai wajah. "Kau anak baik. Aku tahu kau anak baik. Ibumu pasti bangga punya anak yang menolong orang. Turun saja sebentar. Cuma sebentar."
Sahala mundur dari jendela. Ia menutup matanya dan menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa anyir, dan ia memaksa dirinya menghitung. Tujuh menit lagi sampai pukul tiga. Suara itu terus memanggil, berganti-ganti antara memelas dan membujuk, menyebut namanya, menyebut ibunya, dan sekali, cuma sekali, suaranya pecah jadi sesuatu yang sama sekali bukan manusia, gemericik air yang dipaksa menyerupai kata, sebelum kembali jadi ramah.
Ia duduk di lantai membelakangi jendela, lutut ditarik ke dada, dan ia bertahan. Bukan karena ia percaya. Ia masih tidak mau mengaku percaya. Ia bertahan karena keras kepala, karena sesuatu di dalam dirinya menolak untuk digerakkan oleh suara yang tahu namanya tanpa pernah ia ucapkan.
Jam berdetak. Tiga kurang dua menit. Suara itu mulai marah, nadanya merendah jadi geraman, lalu, tepat ketika jarum panjang menyentuh angka dua belas dan jarum pendek di angka tiga, suara itu berhenti. Tidak memudar. Berhenti, seperti seseorang menutup keran.
Kesunyian yang mengikutinya lebih buruk daripada suara itu.
Sahala duduk diam sampai langit di luar mulai pucat. Saat warna kembali ke dunia dan air mulai surut, ia membuka pintu menara dengan jantung berdebar dan keluar ke dermaga untuk menghirup udara yang bukan udara dalam tabung beton.
Itulah ketika ia melihatnya.
Di anak tangga dermaga, tepat di pijakan paling bawah yang baru saja muncul dari air surut, ada jejak kaki basah. Telapak kaki manusia, telanjang, lebar. Dan jejak itu tidak menuju ke air. Jejak itu menapak naik, dari air ke dermaga, satu, dua, tiga jejak basah di papan kayu, masing-masing makin pudar, naik ke arah pintu menara, lalu berhenti tepat setengah tangga. Berhenti, seolah sesuatu sudah naik sejauh yang aturan izinkan, lalu berdiri di sana sepanjang sisa malam, menunggu, sebelum air surut memanggilnya turun kembali.