Sahala memutuskan untuk menguji buku itu, dan ia membenci dirinya karena tahu apa artinya keputusan itu. Artinya sebagian dari dirinya sudah mulai percaya.
Ia seorang yang dulu belajar teknik, dan otaknya yang belum mau menyerah pada hantu berkata: kalau ini sungguhan, maka ada sebab dan akibat. Ada aturan main. Dan kalau ada aturan main, ia bisa memetakannya seperti memetakan rangkaian listrik — masukan, keluaran, batas. Ia tidak akan bertahan di tempat ini dengan iman buta pada tulisan orang mati. Ia akan bertahan dengan memahami.
Maka malam itu ia menunda menyalakan lampu.
Bukan banyak. Ia bukan orang nekat. Air mulai pasang, lumpur mulai tenggelam, dan biasanya pada titik ini ia sudah ada di ruang lampu memutar tuas. Kali ini ia tetap di ruang penjaga, mata di jam, dan ia membiarkannya. Satu menit. Dua menit. Air merayap naik di luar jendela, menutup gundukan, dan menara mulai berdiri sendirian di tengah air.
Pada menit ketiga, kabut datang.
Ia datang bukan dari satu arah, melainkan dari semua arah sekaligus, seolah air itu sendiri yang menguap menjadi dinding putih. Dalam hitungan detik Sahala tidak lagi bisa melihat ujung dermaga dari jendela. Suhu di ruangan turun cukup tajam hingga uap keluar dari mulutnya. Lampu minyak di mejanya menyusut, nyalanya mengecil jadi titik biru seakan udara di ruangan itu kehilangan sesuatu yang dibutuhkan api untuk hidup.
Pada menit keempat, ia mendengar mereka.
Di bawah, di kaki menara yang terendam, di dermaga yang tak terlihat di balik kabut, ada gerakan. Banyak. Bukan langkah, lebih seperti seretan, seperti benda basah yang berat ditarik melewati kayu, dan gumaman pelan yang tumpang tindih jadi satu bunyi rendah seperti dengung. Bayangan-bayangan menebal di balik kabut, lebih gelap dari kabut itu sendiri, berkumpul di kaki menara, tidak naik, hanya berkumpul, menunggu, makin banyak.
Lalu, dari jauh di tengah muara yang tak terlihat, sebuah lonceng berdentang. Sekali. Dalam. Bergaung. Suara logam tua yang sudah lama tenggelam dalam air asin, redam dan basah, dan dentang itu membuat seluruh bayangan di kaki menara bergerak serentak ke arah suara, seperti besi tertarik magnet.
Sahala tidak menunggu menit kelima. Ia berlari ke tangga, naik secepat paru-parunya mengizinkan, dan memutar tuas lampu dengan tangan yang basah keringat dingin. Cahaya kuning membesar, memantul keluar lewat kaca, dan menyapu ke bawah ke muara.
Kabut surut seketika. Bukan perlahan — seketika, seperti tirai yang ditarik. Air kembali rata dan diam. Bayangan-bayangan di kaki menara lenyap tanpa jejak. Lonceng berhenti. Dan dalam keheningan yang mendadak itu Sahala berdiri di ruang lampu, dadanya naik turun, dan ia paham, dengan kepastian dingin yang menggantikan keraguannya, bahwa lampu ini bukan untuk kapal.
Atau bukan hanya untuk kapal. Kapal adalah alasan yang ditulis di atas kertas resmi koperasi. Tapi alasan sebenarnya, alasan yang membuat upahnya tiga kali kuli bongkar, adalah bahwa cahaya ini menahan sesuatu di luar sana. Pasang menaikkan mereka; cahaya menahan mereka di tempat. Tanpa cahaya, batas itu larut, dan yang di bawah air bebas naik.
Ia kembali ke ruang penjaga dengan tangan masih gemetar dan melakukan sesuatu yang sangat tidak biasa baginya. Ia mengambil pensil dan kertas, dan ia mulai mencatat, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan ketelitian seorang teknisi mendokumentasi kerusakan mesin. Tunda lampu tiga menit: kabut datang, suhu turun, bayangan berkumpul. Tunda empat menit: lonceng berbunyi, bayangan naik mendekat. Ia menarik garis di bawahnya. Setiap pelanggaran punya harga, tulisnya, dan harga itu naik tiap menit.
Ini yang membuatnya bisa bertahan. Bukan keberanian — ia tidak merasa berani sedikit pun. Melainkan struktur. Jika harga bisa diukur, maka rasa takut bisa dikelola. Ia bukan korban acak dari kekejaman buta. Ia berhadapan dengan sistem, dan sistem punya batas, dan batas bisa dipelajari.
Ia mengakhiri catatannya dengan satu baris yang lalu ia tatap lama sebelum tidur, jauh dari jendela, persis seperti aturan kesembilan, walau ia masih bersikeras itu kebetulan: Pak Lahmudin tahu semua ini. Ia memetakannya selama belasan tahun. Lalu sesuatu membuatnya melanggar, dan ia tidak ada lagi.
Pertanyaannya, yang membuat Sahala terjaga lama dalam gelap mendengarkan air surut perlahan menyingkap lumpur kembali, bukan lagi apakah aturan-aturan ini nyata. Pertanyaannya adalah aturan mana yang dilanggar Pak Lahmudin, dan kenapa seorang lelaki yang sudah belasan tahun bertahan, yang menulis daftar ini dengan tinta yang ditekan sampai merobek kertas, akhirnya memilih melanggarnya.
Karena pasti ada alasan. Tidak ada orang yang bertahan selama itu lalu mati karena ceroboh. Sesuatu memberinya alasan yang cukup manusiawi untuk melepaskan satu-satunya hal yang menjaganya tetap hidup. Dan kalau alasan itu cukup kuat untuk Pak Lahmudin, Sahala tahu, dengan rasa takut yang baru dan lebih dalam, alasan itu suatu malam akan datang untuknya juga.