Lonceng itu mulai berbunyi tiap dini hari.
Tidak setiap malam pada awalnya. Mula-mula sekali dalam dua tiga malam, satu dentang tunggal jauh di tengah muara, redam oleh air, hampir bisa disalahartikan sebagai mimpi jika Sahala tidak sudah terjaga menunggunya. Lalu lebih sering. Lalu tiap dini hari, selalu pada jam yang hampir sama, tepat ketika air mencapai pasang tertingginya dan menara terkepung penuh oleh laut.
Ia tidak melanggar aturan ketiga. Ia tidak turun ke dermaga. Tapi ia mulai memperhatikan, dan apa yang ia perhatikan membuatnya semakin perlu tahu: setelah dentang lonceng, air di sekitar dermaga selalu beriak, satu lingkaran yang menyebar dari satu titik, seolah ada yang baru saja naik ke permukaan di dekat papan-papan kayu itu dan menunggu. Lonceng adalah panggilan. Dan panggilan itu, ia yakin, ditujukan untuk membuatnya turun.
Ketika surut datang dan perahu ransum mingguan tiba, Sahala melakukan sesuatu yang sudah ia rencanakan: ia menitip pesan agar diantar lebih awal pekan depan, lalu saat air cukup surut untuk berjalan di atas lumpur yang mengeras di tepi, ia berjalan menyusuri beting menuju kampung. Perjalanan itu memakan waktu dua jam, kakinya tenggelam sampai betis di lumpur busuk, tapi ia harus bertanya pada manusia. Ia lelah bertanya pada buku.
Kampung Tanjung Keruh menyambutnya dengan tatapan yang sama seperti hari pertama, hanya kini ada sesuatu yang baru dalam tatapan itu. Keheranan. Seolah mereka tidak menyangka akan melihatnya lagi. Seorang perempuan tua yang sedang membelah ikan berhenti, pisaunya menggantung di udara, dan memandanginya berjalan lewat dengan mulut sedikit terbuka.
"Kau masih di sana," katanya, bukan pertanyaan.
"Masih, Bu."
Ia menggeleng pelan dan kembali ke ikannya, menggumamkan sesuatu yang Sahala tidak tangkap, tapi ia menangkap satu kata yang diulang dua kali: kasihan.
Sahala mencari orang yang bisa menjawab. Ia bertanya pada seorang lelaki yang memperbaiki jala, pada pemilik perahu yang menambatkan kapalnya, pada dua remaja yang merokok di bawah rumah panggung. Setiap kali ia menyebut menara, percakapan mati. Wajah-wajah tertutup seperti pintu. Satu lelaki bahkan berdiri dan pergi tanpa berkata apa-apa, meninggalkan jalanya tergeletak.
Ia baru mendapatkan sesuatu ketika ia menyerah dan menyebut bukan menara, melainkan lonceng.
"Tiap dini hari aku dengar lonceng dari tengah muara," katanya pada seorang nelayan paruh baya yang sedang menjemur jala. "Dari kapal. Tapi tidak ada kapal di sana. Cuma air."
Nelayan itu membeku. Tangannya berhenti di tengah gerakan membentang jala. Untuk waktu yang lama ia tidak menoleh, hanya menatap ke arah laut, dan ketika akhirnya bicara suaranya nyaris berbisik.
"Jangan sebut-sebut lonceng itu di kampung. Orang-orang tidak suka."
"Kapal apa itu?"
Nelayan itu menelan ludah. Sahala melihat tenggorokannya bergerak. "Sri Gemilang," katanya, dan ia mengucapkannya seperti orang mengucapkan nama penyakit, cepat dan ditahan napas. "Sudah lama. Sebelum aku lahir. Sebelum bapakku lahir. Karam di muara waktu pasang besar. Penuh orang. Tidak ada satu pun yang—" Ia berhenti. "Jangan tanya lagi."
"Berapa orang?"
"Jangan tanya lagi," ulang nelayan itu, dan kali ini ada gemetar dalam suaranya, gemetar seorang dewasa yang takut, yang lebih mengganggu Sahala daripada apa pun. "Dengar. Kau masih muda. Pulanglah. Apa pun upahnya, tidak sepadan. Loncengnya berbunyi karena ada penjaga baru. Itu cara mereka tahu pintunya dijaga lagi. Mereka menguji setiap penjaga baru. Lonceng itu— itu yang pertama mencoba menarikmu turun. Kalau kau turun ke dermaga waktu lonceng bunyi—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia memungut jalanya, melipatnya buru-buru walau belum kering, dan masuk ke rumahnya, dan Sahala mendengar gerendel pintu ditutup.
Mereka. Nelayan itu menyebutnya mereka. Penuh orang. Tidak ada satu pun yang—
Sahala berdiri di tengah jalan kampung yang berlumpur, dan potongan-potongan itu mulai menyusun diri di kepalanya jadi bentuk yang ia tidak suka. Kapal penuh orang tenggelam di pasang besar. Sebuah menara dibangun di muara tempat ia karam. Seorang penjaga yang harus selalu ada, tiap malam, menyalakan cahaya saat pasang. Dan dua belas aturan yang seluruhnya, kalau ia pikirkan baik-baik, bukan tentang menjaga kapal yang lewat agar tidak menabrak lumpur. Seluruhnya tentang tidak memberi sesuatu di bawah air apa yang ia inginkan.
Ia hendak pergi ketika ia teringat warung kelontong dan lelaki tua bermata keruh yang berkata kalau kau masih hidup minggu depan, datang ke warungku. Sudah lebih dari seminggu. Ia masih hidup. Ia berjalan ke warung itu, dan Wak Karib sedang duduk di tempat yang sama, seolah belum pernah beranjak, secangkir kopi di tangannya, mata keruhnya sudah menatap Sahala datang dari jauh.
"Kau datang," kata Wak Karib. Tidak ada keterkejutan. Hanya semacam kelegaan lelah, kelegaan orang yang sudah lama menanggung sesuatu sendirian. "Berarti kau sudah mulai dengar lonceng. Duduk, Nak. Aku punya banyak yang harus kuceritakan, dan tidak banyak waktu sebelum pasang besar datang. Tapi sebelum itu—" matanya yang keruh menajam, "—kau harus janji satu hal padaku. Apa pun yang kuceritakan nanti, apa pun yang naik dari muara itu pakai wajah orang yang kaurindukan, kau jangan pernah, sekali pun, membuka pintu ruang lampu. Itu yang membunuh Lahmudin."