Sahala tidak sempat mendengar cerita Wak Karib hari itu. Air mulai pasang lebih cepat dari perkiraannya, dan ia harus berpacu kembali menyusuri beting sebelum lumpur menjadi laut dan memutus jalannya ke menara. Wak Karib hanya sempat menggenggam lengannya dengan tangan tua yang mengejutkan kuat dan berkata, datang lagi saat surut berikutnya, dan ingat janjimu. Maka Sahala kembali ke menara dengan kepala penuh dan perut kosong, membawa satu janji dan seribu pertanyaan.
Malam itu adalah malam yang ia tahu, kelak, tidak akan pernah ia lupakan, malam ketika muara berhenti memakai suara orang asing dan mulai memakai suara orang yang ia cintai.
Semua berjalan biasa sampai lewat tengah malam. Ia menyalakan lampu tepat waktu. Ia menyimpan lampu kecil tetap menyala. Ia duduk membelakangi jendela. Ia sudah mulai melakukan semua ini bukan dengan keraguan, melainkan dengan disiplin orang yang tahu harga setiap pelanggaran. Lalu, sekitar pukul dua, lonceng berdentang dari tengah muara, sekali, dalam, dan setelah dentang itu lenyap, dari arah dermaga di bawah, sebuah suara memanggil namanya.
"Bang Hala."
Sahala berhenti bernapas.
Tidak ada yang memanggilnya Bang Hala. Tidak ada yang masih hidup. Hanya satu orang yang pernah memakai sebutan itu, dengan nada manja yang sama, dengan jeda kecil yang sama di tengahnya, seolah memanggil itu sendiri adalah sebuah permainan. Adiknya. Riris. Yang tenggelam di sungai dekat rumah delapan tahun lalu, ketika Sahala seharusnya menjaganya dan malah pergi bekerja, dan ketika ia kembali yang ada hanya kerumunan orang di tepi air dan sandal kecil yang mengambang.
"Bang Hala, ayo turun. Dingin di sini."
Sahala berdiri. Tubuhnya tidak meminta izin pada akalnya. Ia sudah berdiri, sudah dua langkah menuju pintu, sebelum bagian dirinya yang masih waras menarik rem. Itu bukan Riris. Riris sudah meninggal. Ini aturan ketiga. Jangan turun ke dermaga walau ada yang memanggil namamu. Tapi pengetahuan itu, sekokoh apa pun, terasa rapuh di hadapan suara yang menggetarkan tepat saraf-saraf yang sudah delapan tahun ia coba matikan.
"Bang, kenapa Abang tinggalin aku? Aku nungguin Abang di air lama banget." Suara itu pecah, persis seperti Riris pecah ketika menangis dulu, hidung tersumbat, kata-kata putus-putus. "Aku takut sendirian di bawah. Gelap. Turun dong, Bang. Temenin aku. Sebentar aja."
Air mata mengalir di pipi Sahala tanpa ia sadari. Ia jatuh berlutut di depan pintu besi menara, kedua tangan menekan telinga, tapi suara itu masuk lewat sela jari, masuk lewat tulang, masuk dari arah yang bukan telinga.
"Itu bukan kamu," bisiknya, gemetar. "Riris sudah tenang. Kamu bukan dia."
Suara di bawah berubah. Tangis itu berhenti terlalu mendadak, seolah seseorang mematikan rekaman, dan ketika suara itu bicara lagi nadanya berubah, lebih tua, lebih dalam, dan Sahala mengenalinya dengan ngeri baru sebab itu suara ibunya.
"Hala. Anakku. Ibu sudah di sini sekarang." Suara ibunya, lelah dan basah dan penuh kasih sayang. "Ibu datang menjemputmu, Nak. Kau tidak perlu kerja di tempat menyeramkan ini lagi. Ayo pulang sama Ibu. Turun, peluk Ibu."
Ini yang paling kejam. Sebab ibunya masih hidup. Ibunya sedang berbaring di balik kelambu di rumah panggung yang hampir disita, batuk darah dan menunggu anaknya pulang membawa uang. Suara itu mencuri wajah orang yang sudah mati dan orang yang masih hidup dengan sama mudahnya, dan dalam pencurian itu Sahala merasakan kebencian yang sebening kaca. Sesuatu di bawah air itu sudah mengintip ke dalam dirinya, sudah menemukan dua celah terlebar di hatinya — rasa bersalah pada Riris, takut kehilangan ibunya — dan kini menusukkan jarinya ke dalam dua celah itu sekaligus.
Ia tetap di lantai sepanjang sisa malam. Ia tidak menjawab. Ia menggigit, menangis, mengutuk, berdoa dengan kata-kata yang sudah lama tidak ia pakai, tapi ia tidak membuka pintu dan tidak menjawab dan tidak turun. Suara itu terus bekerja, sabar, tak kenal lelah, berganti antara Riris dan ibunya, kadang keduanya seakan berbicara bersama dalam paduan yang mustahil, sampai langit di luar mulai pucat dan air mulai surut dan suara itu, seperti selalu, berhenti seketika ketika cahaya kembali ke dunia.
Sahala duduk bersandar di pintu, kosong, kehabisan air mata, sampai ia merasa cukup kuat untuk berdiri. Ia membuka pintu untuk menghirup udara pagi, kakinya tidak stabil, matanya bengkak.
Di anak tangga teratas dermaga, di pijakan yang baru disingkapkan air surut, tergeletak sesuatu yang kecil dan basah.
Sandal. Sandal anak perempuan, jepit warna merah jambu yang sudah pudar, tali putusnya disimpul ulang dengan benang nilon. Sahala mengenalinya sebelum ia bisa menghentikan dirinya mengenalinya. Ia sendiri yang dulu menyimpul ulang tali itu dengan benang nilon biru untuk Riris, di teras rumah, sore sebelum hari itu. Sandal yang seharusnya sudah delapan tahun terkubur di dasar sungai ratusan kilometer dari muara ini, di tempat yang tidak terhubung dengan laut ini lewat air mana pun.
Ia berdiri menatapnya, dan ia tidak menyentuhnya, dan untuk pertama kali sejak ia datang ke tempat ini Sahala benar-benar mengerti bahwa ia tidak akan bisa bertahan dengan akal saja. Akal sudah dikalahkan tadi malam. Yang menahannya bukan akal. Yang menahannya adalah sesuatu yang lebih keras kepala dari akal, lebih dalam dari rasa takut, dan ia tidak punya nama untuk itu selain ini: ia tidak mau memberi kemenangan pada apa pun yang berani memakai suara adiknya.