Sandal itu masih ada ketika air pasang lagi malam berikutnya. Sahala tidak menyentuhnya, tidak membuangnya. Ia membiarkannya di anak tangga sebagai pengingat, atau mungkin sebagai tantangan, ia sendiri tidak yakin. Yang ia tahu, ia tidur sebentar di siang hari dengan tidur yang penuh air dan suara, lalu bangun saat senja dengan tekad yang lebih keras dan tubuh yang lebih lelah.
Malam itu mereka mengubah taktik.
Lonceng tidak berbunyi. Tidak ada suara dari laut. Tidak ada suara dari dermaga. Untuk beberapa jam Sahala hampir bersyukur, hampir membiarkan dirinya berpikir mungkin malam ini ia diberi kelonggaran, dan justru ketenangan itu yang seharusnya ia curigai. Sebab pada sekitar pukul satu, ketika air sudah mencapai pasang penuh dan menara terkurung laut, terdengar ketukan.
Bukan dari bawah. Bukan dari laut. Dari atas.
Dari ruang lampu, di puncak menara, seratus delapan puluh anak tangga di atasnya. Pintu ruang lampu, yang ia sendiri kunci dari dalam tiap kali turun, yang tidak mungkin dicapai siapa pun tanpa melewati seluruh tangga, tanpa melewati ruang penjaga tempat ia duduk.
Ketukan itu sopan. Tiga kali, jeda, tiga kali lagi. Lalu suara.
"Selamat malam. Maaf mengganggu." Suara lelaki, sopan, sedikit kedinginan, suara orang terdidik. "Saya petugas pengganti yang dikirim koperasi. Andriko, dari kantor cabang. Maaf datang larut, perahu saya terlambat karena cuaca. Saya kehujanan parah. Boleh saya masuk?"
Sahala berdiri di kaki tangga, menengadah ke kegelapan spiral di atasnya. Akalnya, yang sudah belajar untuk tidak dipercaya, tetap mencoba: tidak ada cara petugas bisa naik ke ruang lampu tanpa melewatiku. Tidak ada perahu yang datang tadi sore. Tidak ada yang basah kehujanan, sebab tidak ada hujan malam ini, langit bersih dan penuh bintang.
Aturan keempat. Jangan pernah membuka pintu ruang lampu untuk siapa pun yang basah.
"Pintunya terkunci dari sini," kata suara itu, ramah, masuk akal. "Saya tidak bisa masuk ke ruang lampu untuk membantu Anda kalau Anda tidak buka. Anda Sahala, kan? Sahala Marbun. Anak Bu Tiur. Yang berutang ke Pak Sirun." Jeda. "Saya tahu semuanya. Kantor mengirim saya membawa kabar. Utang ibu Anda — sudah lunas. Ada donatur. Anda tidak perlu di sini lagi mulai besok. Tapi saya harus serahkan suratnya langsung, dan saya kedinginan sekali di sini. Tolong buka."
Setiap kata dipilih untuk menusuk tepat ke titik terlemah. Utang lunas. Ibumu bebas. Kau boleh pulang. Sahala merasakan rindu pada rumah, pada ibunya, pada dunia yang bukan tabung beton ini, membengkak di dadanya sampai sakit. Betapa mudahnya menaiki tangga itu, betapa manusiawinya membukakan pintu untuk seseorang yang kehujanan, betapa kejamnya membiarkan orang menggigil di balik pintu.
Kecuali tidak ada hujan. Kecuali tidak ada perahu. Kecuali tidak ada cara masuk ke ruang lampu kecuali lewat tangga yang ia jaga, dan ia tahu, dengan kepastian dingin, bahwa tidak ada manusia yang melewatinya.
"Tunjukkan suratnya dari bawah pintu," kata Sahala, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan. Ia menguji. Ia masih, di tengah ketakutan, seorang yang mencari aturan main.
Hening sejenak. Lalu suara itu tertawa kecil, tawa yang masih terdengar manusiawi tapi dengan sesuatu yang salah pada gemanya, terlalu basah, seolah keluar dari mulut yang penuh air. "Wah, Anda hati-hati sekali. Bagus. Penjaga yang baik. Tapi suratnya nanti basah kalau saya selipkan. Buka saja sebentar."
"Petugas koperasi tidak akan ada di ruang lampu. Mereka datang lewat dermaga, siang hari, waktu surut. Kamu tahu itu kalau kamu betul dari koperasi."
Ketukan lagi. Kali ini tidak sopan. Tiga kali, keras, lalu suara itu berkata sesuatu, dan inilah yang membuat bulu kuduk Sahala berdiri sampai pagi: ia masih bicara dengan kata-kata yang sopan, kalimat-kalimat yang masuk akal tentang kantor dan surat dan kedinginan, tapi suaranya, perlahan, malam demi malam jam itu, kehilangan kemanusiaannya. Vokal-vokalnya memanjang dan menggelegak. Konsonan-konsonannya larut. Pada pukul tiga ia tidak lagi mengucapkan kata, hanya bunyi yang menyerupai kata, gemericik dan desis yang tubuhnya, di suatu tempat dalam ingatan tua, masih mengenali sebagai bahasa manusia walau telinganya tidak lagi bisa.
Sahala duduk di kaki tangga sepanjang sisa malam, lampu minyak di pangkuan, mata terpaku ke atas, dan ia tidak naik dan ia tidak membuka. Saat fajar tiba dan air surut dan dunia kembali punya warna, ketukan berhenti, suara berhenti, dan dari atas tidak terdengar lagi apa-apa kecuali tetes air, satu demi satu, dari ruang lampu yang seharusnya kering dan terkunci, menetes ke anak tangga, lalu berhenti juga.
Ketika ia akhirnya memberanikan diri naik, dengan kaki seberat timah, ke ruang lampu, ia menemukan pintu masih terkunci dari dalam persis seperti ia tinggalkan. Di lantai di depan ambang pintu, di sisi dalam, ada genangan air asin yang menetes entah dari mana, dan jejak telapak tangan basah di kaca jendela, dari arah luar, di ketinggian seratus delapan puluh anak tangga di atas air, di tempat yang tidak mungkin dijangkau apa pun yang berjalan.
Ia turun, dan ia menulis di catatannya dengan tangan gemetar. Hari berikutnya, ketika surut cukup dalam, ia mengirim pesan lewat perahu ransum, bertanya pada koperasi apakah mereka mengirim petugas pengganti bernama Andriko. Tiga hari kemudian balasannya datang, tergores di sobekan kertas dengan tulisan tangan kasar petugas kantor: Tidak ada Andriko. Tidak ada petugas pengganti dikirim. Tidak ada perahu ke menara malam itu. Jaga dirimu.