Sahala mulai membongkar menara itu seperti membongkar mesin yang rusak, mencari potongan yang hilang.
Ia tidak lagi punya kemewahan untuk pura-pura ini takhayul. Lima malam berturut-turut sesuatu naik dari muara dengan wajah dan suara yang berganti-ganti, dan satu-satunya yang menahannya tetap hidup adalah dua belas baris di buku lusuh, satu di antaranya tidak bisa ia baca. Logikanya sederhana dan menakutkan: kalau sebelas aturan saja sudah hampir tidak cukup, maka aturan kedua belas yang hilang itu mungkin adalah yang paling penting. Dan Pak Lahmudin, yang menyusun seluruh daftar ini, pasti tahu isinya. Pasti mencatatnya di suatu tempat.
Maka ia mencari. Ia menggeledah ruang penjaga sentimeter demi sentimeter, dengan ketelitian yang dulu ia pakai memeriksa sambungan kabel. Ia menggeser dipan dan menemukan, di bawahnya, lantai beton yang tergores penuh garis-garis hitung mundur, ratusan, mungkin ribuan, dikelompokkan lima-lima, malam-malam yang Pak Lahmudin tandai selama belasan tahun. Ia membongkar rak dan menemukan toples-toples berisi minyak, garam kasar, dan satu toples penuh paku berkarat yang ia tidak tahu kegunaannya sampai ia melihat bahwa di setiap ambang pintu dan jendela menara, tertanam paku-paku serupa, tua, sebagian sudah jadi karat, ditata berjarak rapi. Pak Lahmudin telah memaku besi di setiap celah tempat sesuatu bisa masuk. Pertahanan lama, kepercayaan lama, yang tidak ditulis di buku tapi dijalankan dengan tangan.
Ia membongkar pakaian-pakaian tua di peti, mantel hujan kaku oleh garam, sepatu bot bocor, sebuah foto pudar dua orang di depan menara yang dulu masih putih bersih, lelaki bertubuh tegap dengan kumis tebal merangkul seorang anak laki-laki kecil. Di balik foto, tulisan tangan yang sama dengan buku itu: Aku dan anakku, Salim. Hari terakhir ia ke sini.
Anak. Pak Lahmudin punya anak. Sahala menyimpan informasi itu, sebuah benang manusia di tengah teror, sesuatu yang nanti perlu ia tarik.
Tapi penemuan yang ia cari datang dari buku itu sendiri. Suatu sore, sambil membolak-balik halaman untuk keseratus kali, jarinya merasakan sesuatu yang tidak rata di sampul belakang. Sampul kulit imitasi itu menggembung sedikit di satu sudut, lemnya sudah lapuk. Ia menyelipkan kuku, mengelupasnya hati-hati, dan di antara lapisan sampul dan kertas pelapisnya, terselip lipatan kertas tipis yang sudah menguning.
Tangannya gemetar saat membukanya. Tulisan Lahmudin, tapi berbeda dari yang di daftar aturan. Daftar aturan ditulis tegas, memerintah. Tulisan ini berantakan, miring tak menentu, ditulis oleh tangan yang gemetar, oleh orang yang menulis untuk dirinya sendiri di tengah malam yang panjang.
Kalau ada yang membaca ini, berarti aku sudah tidak ada. Berarti pasang akhirnya menang. Maafkan aku karena meninggalkan daftar yang tidak lengkap. Aturan ke dua belas — bagian itu sengaja kuhapus. Kuoleskan air laut sendiri ke tintanya sampai hilang. Bukan karena lupa. Karena aku tidak sanggup menuliskannya untuk orang lain. Karena begitu kau tahu isinya, kau tidak akan pernah bisa pulang.
Sahala membaca baris itu tiga kali, dan dingin merayap dari telapak kakinya naik ke ubun-ubun.
Di bawahnya, tulisan yang makin kacau:
Aku melanggarnya. Satu kali. Tiga belas tahun aku patuh, lalu satu malam aku melanggar aturan ke dua belas, karena aku pikir aku bisa menyelamatkan seseorang. Karena suara yang naik malam itu adalah suara yang tidak bisa kutolak, sama seperti suara yang nanti akan naik untukmu, siapa pun kau. Mereka tahu siapa yang paling kau cintai. Mereka selalu tahu. Dan aturan ke dua belas adalah satu-satunya yang melindungi orang itu, bukan melindungimu. Aku melanggarnya untuk menyelamatkan, dan dengan begitu aku justru menyerahkannya. Sejak malam itu pasang datang lebih awal setiap musim. Sejak malam itu aku tahu giliranku tinggal menunggu waktu. Aku menulis daftar baru untuk penjaga berikutnya dengan tanganku yang sudah setengah bukan tanganku lagi.
Dan baris terakhir, ditulis dengan tekanan yang merobek kertas, sama seperti kalimat pembuka di halaman pertama buku:
Penjaga bukan pekerjaan. Penjaga adalah ikatan. Selama kau di sini dan patuh, yang di bawah tetap di bawah, dan harganya cuma kau. Begitu kau melanggar aturan ke dua belas, harganya berubah. Bukan lagi kau. Jangan tanya jadi siapa. Cari Salim. Anakku tahu. Aku sudah memberitahunya hal yang seharusnya tidak kuberitahukan pada anakku sendiri, dan itu dosa terbesarku.
Sahala menurunkan kertas itu. Tangannya basah. Di luar jendela, lumpur mulai menghilang di bawah air yang naik, dan untuk pertama kali ia tidak melihat pasang itu sebagai pasang. Ia melihatnya sebagai napas. Sesuatu yang besar di bawah sana menarik napas, dan menara ini, dan dirinya di dalamnya, adalah jari yang ditekankan ke bibir untuk menjaganya tetap diam.
Pak Lahmudin tidak hilang karena ceroboh. Ia hilang karena ia mencintai seseorang lebih dari ia mematuhi aturan. Dan ia memperingatkan, dengan kejelasan yang membuat perut Sahala mengencang, bahwa malam itu akan datang untuk Sahala juga, dengan suara yang tidak akan bisa ia tolak, menggoda dengan alasan yang terasa paling mulia dari semua alasan — menyelamatkan orang yang ia cintai — dan bahwa justru penyerahan itulah perangkapnya.